Kingsman: The Golden Circle (2017)

141 min|Action, Adventure, Comedy|22 September 2017
7.1Rating: 7.1 / 10 from 84,915 usersMetascore: 44
When their headquarters are destroyed and the world is held hostage, the Kingsman's journey leads them to the discovery of an allied spy organization in the US. These two elite secret organizations must band together to defeat a common enemy.

Kingsman: The Golden Circle merupakan sekuel dari Kingsman: The Secret Service (2014) yang masih digarap sineas yang sama yakni Matthew Vaughn. Film ini juga masih dibintangi para pemain pada seri pertamanya, yakni Taron Egerton, Mark Strong, dan Colin Firth. Tidak seperti sebelumnya, sekuelnya kini mengkasting sederetan bintang senior, yakni Julianne Moore, Halle Berry, Channing Tatum, Jeff Bridges, Elton John, Bruce Greenwood, Emily Watson, hingga Pedro Pascal. Apakah lantas kini sekuelnya lebih baik dari sebelumnya? Nyatanya tidak.

Eggsy (agen Galahad) kini adalah agen rahasia senior Kingsman yang kini hidup bahagia bersama sang pacar, Putri Tilde, yang pada seri pertama ia selamatkan. Suatu ketika dengan alasan tak jelas, ia diserang oleh Charlie Hesketh dan kawanannya, seorang calon agen Kingsman yang gagal tes di seri pertama. Walau Eggsy lolos, namun Charlie berhasil masuk ke dalam semua database Kingsman. Semua agen Kingsman, dihabisi hanya bersisa Eggsy dan Merlin. Eggsy dan Merlin lalu menemukan petunjuk yang membawa mereka ke kelompok agen rahasia Statesman di Amerika. Bersama mereka, Eggsy berusaha mencegah kehancuran dunia dari kelompok kriminal bernama The Golden Circle.

Dari plot di atas sudah tampak jelas kisahnya bakal mengarah kemana. Tidak seperti seri pertamanya yang begitu menyenangkan, satu hal yang membuat kisahnya kini berbeda adalah motif cerita yang sangat lemah dan terlalu memaksa. Naskahnya begitu buruk sehingga lubang plot ada nyaris di mana-mana. Sekalipun nuansa fiksi ilmiah terasa kental, namun bukan berarti logika cerita bisa diabaikan begitu saja. Beberapa hal kecil amat mengganggu. Bagaimana mungkin markas The Golden Circle tidak memiliki sistem keamanan yang baik, jika mereka bisa membuat robot anjing a la transformers yang sangat canggih serta tangan besi buatan a la The Winters Soldier. Satu hal paling konyol adalah motif utama sang antagonis. Untuk apa coba berambisi melegalkan produk mereka sementara produk tersebut pun sebenarnya sudah beredar bebas di seluruh penjuru dunia. Hei, Poppy kamu sudah menguasai dunia tanpa perlu melakukan apa-apa lagi kan?

Tentu saja, logika cerita bukan hal yang penting karena aksi dan pesona CGI adalah faktor yang dijual. Aksi-aksinya kurang lebih sama konyolnya dengan plotnya. Nyaris tak ada motif untuk beberapa adegan aksi, kecuali hanya untuk pamer semata. Semua hal yang disukai penonton generasi milineal ada di sini, sebut saja mobil canggih yang bisa meluncurkan misil dan menyelam, anjing Transformers serta lengan baja Winter Soldier (eh, sudah saya sebut di atas), gel yang bisa menghidupkan orang mati, dan tak ketinggalan pula laso a la Wonder Woman! Semuanya ada di sini dan semuanya nol besar, tak memiliki jiwa sama sekali. Ini pun terjadi pula pada semua karakternya. Tak ada empati sama sekali untuk mereka. Semua yang tewas pada seri ini bisa muncul lagi besok (jika ada sekuelnya).

Baca Juga  X-Men: Apocalypse

Dengan sederetan bintang ternama serta sekuen aksi heboh yang mengandalkan CGI, Kingsman: The Golden Circle memiliki naskah yang sangat buruk dengan lubang plot besar di sana-sini serta selera humor yang rendah. Film ini adalah satu contoh bahwa film buruk dengan bujet besar masih saja dibuat. Golden Circle tampaknya mencoba mengkombinasi semua formula box-office dari beberapa genre populer ke dalam satu film. Bisa jadi film ini bakal sukses komersial karena target penontonnya, namun tetap saja adalah salah satu film terburuk yang dirilis tahun ini. Satu hal lagi bagi yang ingin menonton membawa anak-anak, film ini bukan untuk anak-anak.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
BAGIKAN
Artikel SebelumnyaKetika Film Remake Menjadi Pilihan
Artikel BerikutnyaGerbang Neraka
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPAN

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.