N/A (2017)

102 min|Drama, Romance|N/A
7.9Rating: 7.9 / 10 from 130 usersMetascore: N/A
Lala is a rising star youth platform diving athlete in the making, meets Yudhis, a boy that recently moved in to Lala's school. Their relationship is fine, until something about Yudhis is unfolding one by one.

Perfilman Indonesia sedang gencar memproduksi film-film dari berbagai jenis genre, semakin bertambahnya jumlah penonton membuat para sineas pun berlomba-lomba untuk mencuri hati para penonton dengan karya-karya mereka. Di antara begitu banyaknya genre horor dan komedi yang masih mendominasi layar bioskop-bioskop di Indonesia, sineas muda berbakat, Edwin mencoba memberikan tontonan baru yang dikemas dalam film roman remaja. Menggandeng para aktor idola muda, seperti Adipati Dolken, Putri Marino, Gritte Agatha, Chico Kurniawan, dan tak ketinggalan aktris kawakan Cut Mini.

Posesif sempat mendapat polemik lantaran bisa masuk dalam daftar nominasi Festival Film Indonesia (FFI) tahun ini. Beberapa orang berpendapat film ini belum diputar di bioskop dan tak layak untuk masuk nominasi, namun sebagian menyanggah bahwa film ini sudah pernah diputar secara terbatas. Posesif mendapat 10 nominasi FFI tahun ini, di antaranya untuk film, sutradara, dan dua pemain utama dan pendukungnya. Saya cukup beruntung bisa menonton film ini mendahului rilis regulernya bersama sutradara dan para pemainnya.

Kehidupan Lala (Putri Marino) sebagai siswi menengah atas bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang istimewa meskipun ia juga atlet nasional loncat indah. Datanglah siswa baru yang berhasil mencuri perhatiannya. Semenjak Yudhis (Adipati Dolken) hadir di kehidupannya, Lala merasa hari-harinya lebih berwarna. Lala merasa terbebas dari kehidupan sekolah yang kaku maupun karirnya sebagai atlet, selama Yudhis ada bersamanya. Hingga keduanya mulai menyadari bahwa cinta mereka memili banyak problema. Cinta Yudhis yang awalnya tampak sederhana ternyata rumit dan berbahaya. Janji mereka untuk setia selamanya berubah menjadi jebakan yang saling berbenturan layaknya dua kutub yang berlawanan.

Berkisah sederhana tentang sebuah perasaan ingin menjaga. Sebuah perasaan yang dialami semua orang dengan kadar yang berbeda. Semua orang pasti mengalami perasaan posesif terhadap seseorang atau sesuatu, maupun sebaliknya mendapatkan sikap posesif dari orang lain. Sikap ini tergolong wajar jika tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Kurang lebih seperti inilah inti cerita Posesif.

Namun, bukan hanya cerita yang menjadi keunggulan film ini, tapi bagaimana sang sineas mengemas cerita sederhana ini menjadi sebuah rangkaian shot yang mampu membawa penonton untuk mendalami emosi tokoh hanya dengan melihatnya saja. Sajian shot per shot dipilih sedemikian hati-hati untuk menjaga mood penonton. Sang sineas menyukai permainan angle dan shot tanpa banyak dialog, namun penonton mampu menangkap emosi dengan mudah. Sepanjang film didominasi dengan shot-shot yang berdurasi lama (long take) mampu membuat penonton menikmati momen demi momen yang disajikan dengan indah, tak ada rasa jenuh atau bosan.

Baca Juga  Banda: The Dark Forgotten Trail

Rangkaian shot tersebut tentu akan terasa hambar tanpa dukungan kuat akting dari para pemainnya. Penampilan Adipati Dolken sebagai Yudhis yang terkesan santai, namun berbahaya dan di sisi lain juga rapuh mampu dibawakan dengan sangat baik. Tokoh Lala yang penyabar, namun memiliki tekad kuat sangat cocok dengan image Putri Marino. Penampilan Adipati dan Putri mampu membuat iri seluruh penonton bioskop. Hubungan chemistry keduanya sangat kuat dan tersaji begitu manis meski dalam satu momen hanya diperlihatkan melalui teknik montage, namun sangat efektif memperlihatkan perkembangan kedekatan hubungan mereka. Intensitas dramatik cerita semakin terasa ketika sikap posesif keduanya semakin terlihat hingga penonton pun mampu ikut merasakannya. Aktris senior, Cut Mini juga memberi kesan kuat pada karakternya sebagai sang Ibu yang posesif terhadap anaknya. Tak ketinggalan pula penampilan Chico Kurniawan dan Gritte Agatha yang mampu memberi keceriaan disela-sela kerumitan hubungan dua sejoli Lala-Yudhis.

Pemilihan musik latar juga sangat pas dengan momen yang berlangsung sehingga makin memperdalam emosi penonton. Bahkan, permainan audio sederhana yang jarang sekali digunakan oleh sineas kita sempat membuat saya terkagum. Ketika sebuah lagu dari band pop Indonesia mengiringi perjalanan Yudhis-Lala, lalu pada beberapa detik berikutnya kita baru menyadari bahwa lagu tersebut berasal dari radio mobil. Siapa sangka teknik peralihan suara dari nondiegetic sound ke diegetic sound digunakan begitu manis oleh sang sineas. Sederhana tapi sangat menarik.

Edwin menunjukan bahwa ia ternyata mampu membuat film berkualitas yang bisa dinikmati oleh semua orang. Sang sineas seperti kita tahu selama ini berkecimpung pada produksi film non mainstream serta sudah sering kali mendapat apreasiasi tinggi pada berbagai festival film di luar. Sang sineas mampu mempertahankan gayanya seperti film karyanya sebelumnya, namun kali ini dengan kemasan dan struktur cerita yang mampu dinikmati oleh penonton awam.

Posesif berkisah sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Film ini menyadarkan bahwa sikap posesif bisa terjadi pada siapa saja, terhadap teman, kekasih, sahabat, hewan peliharaan, keluarga, bahkan benda mati. Hal yang terkesan sepele, namun dialami hampir semua orang. Peluang menang di FFI? Film ini dapat satu vote dari saya.

WATCH TRAILER

BAGIKAN
Artikel SebelumnyaSword Art Online: The Movie – Ordinal Scale
Artikel BerikutnyaOnly The Brave
Luluk Ulhasanah
Luluk Ulhasanah atau lebih akrab dipanggil EL, sedang menempuh studi Broadcasting Film di salah satu kampus komunikasi di Jogja. Hobi menonton film dan aktif dalam komunitas dance.

BERIKAN TANGGAPAN

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.