Ruqyah: The Exorcism (2017)

N/A|Horror|5 Oktober 2017
2.7Rating: 2.7 / 10 from 26 usersMetascore: N/A
N/A

Tahun 2012, wartawan bernama Mahisa tak sengaja bertemu dengan Asha, seorang aktris populer yang kemudian menjadi sahabatnya. Keduanya akrab dan sering berbagi cerita tanpa memandang profesi masing-masing yang berseberangan. Dalam perkembangan, Asha mulai terganggu dengan macam-macam halusinasi semenjak teman serumahnya bunuh diri. Antara percaya dan tidak, Mahisa berusaha membantu Asha dengan membuktikan sendiri apa yang terjadi di apartemen Asha. Tanpa disangka keduanya, Asha sudah “diisi” pemikat agar menjadi terkenal dan kaya sejak berangkat merantau. Kejadian-kejadian supranatural yang dilihat Mahisa membuatnya yakin untuk menyembuhkan Asha lewat ruqyah dan kembali beribadah.

Berdasarkan kisah nyata di kalangan pelaku dunia hiburan tanah air, Ruqyah The Exorcism berusaha menunjukkan praktik klenik yang digunakan untuk sebuah ketenaran dan gelimang harta. Walau trailer film sangat meyakinkan, sayangnya film ini gagal, kaku, dan mengecewakan. Secara judul, inti penyampaian cerita bisa saja tergambarkan, tetapi penonton tidak akan mendapatkan apa-apa. Tiba-tiba saja film berakhir saat adegan ruqyah berlangsung dan membuat adegan-adegan sebelumnya menjadi sesuatu yang membuang waktu saja. Motivasi cerita terasa kabur karena adegan per adegan terlalu cepat berakhir hingga meninggalkan kesimpulan yang terlalu lebar. Informasi cerita lewat dialog yang diucapkan terdengar kaku dan klise, pengenalan para tokoh juga tidak terbangun dengan baik, walau motivasi kemunculannya jelas. Pemilihan judul dan inti cerita meleset dari apa yang diharapkan penonton, kecuali jika tujuannya hanya untuk menakut-nakuti saja.

Situasi menegangkan dan mengejutkan berhasil ditangkap dengan gambar, suara, serta sosok-sosok menakutkan agaknya sangat baik disini, di samping penyampaian ceritanya yang tidak tepat sasaran tadi. Jose Poernomo, sutradara sekaligus pengarah gambar (DOP), suatu kali menggunakan teknik long take dengan mengikuti tokoh utama, mendukung terciptanya efek kejut sebagaimana tren film saat ini. Penggunaan efek dalam film ini tidak berlebihan, hanya saja terasa kaku dan ketinggalan, mengingat film horor saling berlomba-lomba menggunakan efek khusus. Antara sinematografi dan editing menampilkan gambar yang cukup baik, walau belum cukup indah. Seperti pada adegan tokoh Asha diganggu, ada teknik crosscutting antara dunia lain dan dunia nyata, sehingga bisa dipahami apa yang terjadi pada tokoh tersebut. Ruqyah: The Exorcism semata hanya sebagai sensasi saja dan mengekor tren barat tanpa menambahkan sesuatu yang baru dan bernilai bagi genre dan industri film kita.
WATCH TRAILER

BAGIKAN
Artikel SebelumnyaPengabdi Setan: Sebuah Remake Bagus
Artikel BerikutnyaBlade Runner 2049
Yooce Febrina Tutkey
Lahir dan besar di Kalimantan Barat, merupakan seorang aktivis demokrasi. Tahun 2015 hijrah ke Yogyakarta untuk menekuni ilmu film di sebuah perguruan tinggi swasta. Selain kuliah, menulis dan menggambar animasi menjadi rutinitas pilihannya.

BERIKAN TANGGAPAN

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.