Warga kampung Tirang, yang berada di Tegal menjadi saksi meninggalnya Jadag. Dengan tubuh yang tergantung di atas pohon, semua warga melihatnya dengan keheranan. Seolah mengingat perbuatan kasar yang sudah dilakukan Jadag pada Tuan Darso dan Pakel. Inilah penggalan cerita dari film Turah. Dialog yang memakai logat dari Tegal ini patut diacungi jempol, karena ikut mengangkat kekayaan bahasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ke permukaan. Film berdurasi 83 menit ini disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo dengan produser Ifa Isfansyah. Film ini tahun lalu meraih tiga penghargaan dalam Jogja Asian Film Festival, serta Asian Feature Special Mention, dalam Singapore Film Festival.

Turah adalah seorang pekerja dari Tuan Darso. Di kampung Tirang-kampung yang warganya lekat dengan kemiskinan, diceritakan ada tiga orang yang bekerja pada Tuan Darso; Turah, Pakel dan Jadag. Awalnya memang Turah yang menjadi orang kepercayaan Tuan Darso, tapi sejak kehadiran Pakel. Turah hanya menjadi penjaga kampung Tirang saja. Sementara Jadag yang hanya tamatan SD, tidak mampu memahami dengan baik, situasi yang dialami dirinya dan suasana Kampung Tirang, yang ada di bawah kekuasaan Tuan Darso.

Masalah mulai muncul saat, Jadag berselisih dengan Pakel, ia menuduh Pakel sudah membodohi warga kampung Tirang. Pakel yang tidak bisa menerima ini, lalu membalas kelakuan Jadag. Turah yang melihat perlakuan keji pada Jadag, lalu beranjak pergi dari kampung Tirang. Situasi makin memburuk, semua fasilitas yang diberikan secara cuma-cuma pada warga Kampung Tirang dihentikan. Nyawa Jadag pun melayang.

Film ini bertutur tentang kemiskinan masyarakat kampung Tirang, dimana perilaku bungkam dan diam, merupakan tindakan paling tepat. Warga sama sekali pasif, ditindas oleh kekuasaan dan kemiskinan. Kepasrahan adalah bentuk dari penyelesaian masalah kehidupan yang dihadapi warga kampung Tirang. Mereka cenderung menerima begitu saja, perlakuan timpang dari Tuan Darso. Sebagai pemilik usaha yang ada di kampung Tirang, Tuan Darso memberikan upah hanya sekedarnya. Jauh dari layak. Meski begitu, Tuan Darso mencoba menciptakan rasa aman dan percaya pada warga Kampung Tirang, dengan menyediakan segala macam bentuk kebutuhan warga kampung Tirang. Kampung Tirang sendiri, digambarkan sebagai kampung masyarakat pinggiran, tempat orang-orang terbuang. Malahan ada juga adegan yang menyajikan mayat bayi terapung di empang kampung Tirang, dan respon warga terhadap ditemukannya mayat bayi pun, terbilang biasa, itu hal lumrah, bukan sesuatu yang mengejutkan.

Dalam situasi kampung yang jauh dari kata sejahtera itu, munculah Turah. Seorang laki-laki paruh baya yang rajin bekerja. Ia sebagai laki-laki yang mengabdikan dirinya untuk Tuan Darso, selalu berusaha menjadi penengah yang baik, Turah dapat memposisikan dirinya dengan cerdik. Lelaki berkulit hitam ini mampu mengambil kesempatan yang lewat di depan matanya. Turah yang semula bekerja dengan penuh pengabdian tanpa berprasangka buruk pada Tuan Darso, menjadi terbuka pikirannya, saat ia, mendengar curahan hati teman kerjanya, Jadag. Situasi yang sulit ini memicu Turah untuk meminta kenaikan upah pada Tuan Darso. Tuan Darso yang mendengar inipun mengiyakannya. Ia beranggapan bahwa Turah layak mendapatkan kenaikan gaji, karena Turah sudah lama bekerja pada Tuan Darso.

Baca Juga  Fairy Tail : Dragon Cry

Sebagai seorang manusia yang hidup di strata bawah, tindakan Turah bisa dimaklumi, ia hanya mencoba bertahan hidup, dan keluar dari lingkaran kemiskinan, yang selama ini menghinggapi warga kampung Tirang. Meski situasi pelik menghimpit dirinya, ia memutar otak bagaimana, agar ia tidak mengalami kesukaran seperti warga lainnya. Kemiskinan dan pendidikan rendah  memang selalu menaungi masyarakat yang tinggal didaerah pinggiran, seperti kampung Tirang. Tetapi tidak semua warga dapat keluar dari garis kemiskinan. Turah adalah contohnya, ia selalu menjadi pendengar yang baik, bagi siapa saja. Ia mampu menjaga dirinya sendiri, baik dari Tuan Darso sebagai penguasa, maupun dari teman kerjannya yang berselisih, Jadag dan Pakel. Turah mencoba untuk menjadi pemersatu di antara ketiganya.

Di saat upaya untuk keluar dari kesulitan sedang diusahakan, kadang ada saja kejadian yang terjadi di luar dugaan, yang sebenarnya bisa berakibat merugikan individu, maupun sebagian orang. Jadag bertindak diluar kendali, ia lebih mementingkan egonya, daripada beragam fasilitas yang bisa diperoleh warga kampung Tirang. Akibatnya semua fasilitas yang diberikan cuma-cuma oleh Tuan Darso, ditarik. Perilaku impulsif ini memang acapkali dialami oleh individu yang mengedepankan faktor emosional, dibandingkan akal sehat, baginya semua hal benar, namun hanya dari satu sudut pandang diri sendiri saja, sedangkan sudut pandang orang lain menjadi keliru. Pendidikan yang rendah, dan kemiskinanlah penyebabnya. Melalui usaha yang keras, Jadag berusaha menjelaskan pada warga, dan Turah, bahwa yang dilakukan Tuan Darso selama ini tidak benar. Jadag bahkan menentang Pakel, tangan kanan Tuan Darso, mulai dari adu mulut, berlanjut ke perkelahian antar sesama pria-satu lawan satu, dan berujung pada maut, yakni kematian Jadag.

Tokoh Turah ini menjadi menarik, sebab Turah sebagai tokoh utama tidak terlihat mengucapkan banyak dialog (tidak seperti Jadag). Tetapi ini, justru menjadi ciri khas film Turah, karena tokoh utamanya cerdik meskipun digambarkan pasrah dan menerima keadaan apa adanya, ia tetap bisa menolong dirinnya sendiri. Karya film Turah ini mampu memotret realita masyarakat kelas bawah yang akrab dengan kemiskinan dan pendidikan rendah. Penuh permasalahan yang kompleks dan konsekuensi yang lekat dengan tindak kekerasan.

Yosua Aji Febrianto

Penikmat Film
WATCH TRAILER

BAGIKAN
Artikel SebelumnyaGhost in the Shell
Artikel BerikutnyaGet Out
Yosua Aji Febrianto
Penikmat film dan kontributor montasefilm.com

BERIKAN TANGGAPAN

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.