Wage (2017)

125 min|Biography, Drama, History|9 November 2017
9.4Rating: 9.4 / 10 from 31 usersMetascore: N/A
N/A

Berbicara mengenai film dengan genre biografi, belakangan ini memang sangat marak di Indonesia. Wage tercatat unik dan sangat menarik karena mengangkat tokoh komposer ternama kita, Wage Rudolf Supratman. Pada kenyataannya memang sangat sedikit biografi dan literatur tentang beliau, sehingga keberanian John De Rantau patut diacungi jempol berani menyutradarai film ini.

Kita tidak pernah menyangka bahwa sebuah lagu mampu merubah pikiran dan membakar api perjuangan rakyat Indonesia. Lagu ternyata berguna sebagai alat pemersatu bangsa dan memiliki dampak besar yang sangat berbahaya bagi Belanda pada masa itu. Lagu Indonesia Raya memang lagu kebangsaan yang selalu kita kumandangkan. Hanya saja latar belakang terciptanya lagu ini, tentu belum banyak orang yang tahu asal usulnya, dan perjuangan seorang W.R. Supratman.

Dalam kisah film ini, tergambar jelas bagaimana Wage berjuang keras serta harus melalui fase depresi ketika menuliskan lagu yang akan dikumandangkan saat Kongres Pemuda ke-2 untuk pertama kalinya. Begitu banyak tekanan dan beban yang ia hadapi baik, dari dalam maupun sekitar sehingga Wage sempat kehilangan dirinya dalam proses penciptaan lagu ini. Jatuh bangun, akhirnya Wage mampu mencari jati dirinya, melepas egonya, dan menciptakan lagu Indonesia Raya dari hatinya.

Film ini diawali dengan adegan masa kecil Wage yang begitu kelam, hingga kematiannya pada tahun 1938. Memang tidak mudah menyuguhkan cerita dengan durasi hanya 120 menit dengan merangkum hampir seluruh kehidupan tokoh Wage dari tahun ke tahun dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Pada segmen pembuka tampak terasa padat dan terkesan dipaksakan. Namun, uniknya beberapa adegan disajikan dengan pas melalui gaya film noir yang kelam.

Peran sangat baik dari aktor pendatang baru, Rendra Bagus Pamungkas, cukup membuat film ini menjadi menarik dan mengena. Apalagi tokoh Wikana, yang bisa dikatakan sebagai sosok antagonis bermain sangat pas dan mampu menyulut emosi para penonton. Tidak ada peran yang mendominasi sepanjang filmnya, mereka semua bermain apik untuk masing masing tokoh yang mereka perankan. Tidak hanya peran hitam (jahat) dan putih (baik), namun terkadang Wage dan Frits (Wikana) bisa perperan “abu-abu”, bergulat dengan perasaan mereka sendiri. Film ini juga menyuguhkan artistik berupa setting gaya kolonial yang sangat menarik, dengan menyuguhkan beberapa simbol di dalamnya untuk menyampaikan pesan tanpa terlalu gamblang.

Baca Juga  Banda: The Dark Forgotten Trail

Wage menjadi salah satu film yang bernilai positif karena menyuguhkan sebuah cerita perjalanan sorang pahlawan yang melakukan perlawanan dengan cara berbeda yaitu dengan biolanya. Selain itu, film ini sarat pesan dan nilai moral, beberapa diksi yang dipilih dalam dialognya pun amat sarat makna. Film ini sangat cocok ditonton generasi mileneal bahwa sebuah lagu yang sangat familiar bagi kita ternyata memiliki nilai dan pesan yang sangat luar biasa. Lirik dari lagu kebangsaan ini saja, bisa jadi kita masih sering lupa. Melalui Wage, kita juga bisa belajar bahwa berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini bisa dilakukan dengan caranya masing-masing. Lalu bagaimana dengan kita?

WATCH TRAILER

BAGIKAN
Artikel SebelumnyaPosesif, Film Populer dengan Pendekatan Filmis.
Artikel BerikutnyaBlack Butler: Book of the Atlantic
Tia Sukma Sari
Tia Sukma Sari lahir di Salatiga 14 November 1994. Sekarang ia masih menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jurusan Film dan Televisi. Kesukaannya terhadap dunia baca dan menulis membuatnya memilih konsentrasi di penulisan naskah film fiksi. Ia cukup aktif menulis di tumblr-nya, dan sekarang mencoba untuk semakin rajin menulis ulasan film.

BERIKAN TANGGAPAN

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.