X-Men: First Class (2011)
131 min|Action, Sci-Fi|03 Jun 2011
7.7Rating: 7.7 / 10 from 721,580 usersMetascore: 65
In the 1960s, superpowered humans Charles Xavier and Erik Lensherr work together to find others like them, but Erik's vengeful pursuit of an ambitious mutant who ruined his life causes a schism to divide them.

Film dibuka dengan sekuen pembuka film X-Men (2000) yang memperlihatkan Erik Lensherr kecil yang harus terpisah dari ibunya pada masa holocaust. Kisah berlanjut, ternyata kekuatan si bocah diamati Dr. Klaus Schmidt seorang ilmuwan Nazi yang melakukan eksperimen untuk kepentingannya. Lama setelahnya, Dr. Charles Xavier (McAvoy) dan Erik Lensherr (Fassbender), bersama rekan-rekan mutan lainnya harus bekerjasama melawan Sebastian Shaw (Bacon) beserta komplotannya yang ternyata adalah Schmidt yang ingin melenyapkan umat manusia.

Inti dan kunci kisah filmnya memang pada karakter Erik Lensherr dan Charles Xavier, bagaimana mereka bertemu, bagaimana akhirnya mereka berseteru, serta lahirnya X-Men. Film ini sendiri merupakan prekuel dari tiga seri X-Men sebelumnya dan tentu kelemahan film ini adalah bagi penonton yang belum menonton film-film sebelumnya. Baik karakter-karakternya dan hubungan kausalitas cerita saling bertautan. Kisah film ini sendiri terbagi menjadi beberapa sub plot yang lumayan rumit dan kompleks melibatkan puluhan karakter baik mutan dan manusia. Semuanya terangkai dengan baik nyaris tanpa cacat untuk sebuah prekuel. Hanya siapa sangka ternyata Raven (Mistique) dulunya begitu dekat dengan Xavier (bak kakak adik) tanpa memperlihatkan satu saja kedekatan emosional pada tiga seri X-Men sebelumnya.

Baca Juga  Dari mOntase

Kasting pemain adalah kunci keberhasilan utama film ini. Pilihan James McAvoy dan aktor non bintang asal Jerman, Michael Fassbender sebagai “Prof. X” dan “Magneto” adalah pilihan sempurna melihat permainan akting serta chemistry diantara keduanya. McAvoy menampilkan sosok Xavier muda yang cerdas, “playboy”, dan berkesan selalu tak serius dengan sense of humor-nya namun memiliki jiwa memimpin yang tinggi. Lalu Fassbender menampilkan sosok Erik muda yang penuh dendam dan amarah, keras hati, namun sebenarnya memiliki hati yang lembut. Permainan akting keduanya berhasil menjawab kedekatan mereka pada tiga seri X-Men sebelumnya yang dekat layaknya saudara kandung namun berbeda prinsip.

Seperti film-film superhero kebanyakan adegan aksi seru yang penuh efek visual menjadi daya tarik utama filmnya. Sekalipun dengan setting cerita masa lalu (era perang dingin) tetap saja mampu menampilkan sekuen aksi yang memukau dan meyakinkan. Lihat bagaimana Erik mengobrak-abrik sebuah kapal pesiar besar dengan rantai kapal serta tentu sekuen klimaks film. Ilustrasi musik, khususnya musik tema “Erik /Magneto” yang paling dominan, sangat pas mendukung aksi-aksi Erik dan mendukung film secara keseluruhan. Secara umum, X-Men: First Class adalah yang terbaik dibandingkan film-film X-Men lainnya karena mampu memadukan unsur dramatik cerita yang telah ada (seri sebelumnya) dengan efek visual yang memukau. Parapecinta film tinggal menunggu saja film-film X-Men lainnya.

Artikel SebelumnyaThe Perfect House
Artikel BerikutnyaCaptain America: The First Avenger, Superhero Bermodal Hati Mulia
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.