2012 (2009)
158 min|Action, Adventure, Sci-Fi|13 Nov 2009
5.8Rating: 5.8 / 10 from 399,254 usersMetascore: 49
A frustrated writer struggles to keep his family alive when a series of global catastrophes threatens to annihilate mankind.

2012 adalah salah satu film besar pembuka liburan akhir tahun ini. 2012 digarap oleh sineas spesialis bencana, Roland Emmerich yang sebelumnya pernah menggarap film-film besar sejenis, seperti Independence Day (1996), Godzilla (1998), dan The Day After Tomorrow(2004). Bermain dalam film berbujet $260 juta ini adalah bintang-bintang antara lain, John Cusack, Amanda Peet, Woody Harrelson, Thandie Newton, Danny Glover, serta Oliver Platt.

Sejak tahun 2009 telah terdeteksi oleh seorang ilmuwan jika lidah api besar di matahari entah mengapa menimbulkan perubahan besar pada inti bumi sehingga tahun 2012 diperkirakan bumi akan mengalami kehancuran besar-besaran. Secara rahasia para pemimpin negara-negara besar membuat mega proyek untuk menyelamatkan ras manusia dari kepunahan. Sementara di lain tempat, seorang duda, Jackson Curtis (Cussak), ketika tengah berlibur bersama kedua anaknya, secara kebetulan mengetahui bencana ini dari Charlie (Harrelson), seorang penyiar radio liar yang sejak lama mencoba membuka tabir rahasia besar ini. Ketika bencana benar-benar terjadi, John bersama keluarganya, berusaha mencari Charlie untuk mendapatkan peta lokasi “Perahu Nabi Nuh”.

Seperti kebanyakan film bencana lazimnya, film dibuka dengan pemaparan ilmiah bagaimana bencana dapat terjadi. Entah mungkin apa tidak (terjadi) tapi jelas itu fakta ilmiahnya. Tagline filmnya, “We were warned” mengacu pada kalender suku Maya yang berakhir pada tahun 2012, yang ditafsirkan banyak orang sebagai Hari Kiamat. Namun aneh juga, mitos ini ternyata hanya disinggung sambil lalu saja dalam filmnya. Plotnya filmnya juga sederhana sekali. It’s about survival! Tidak ada yang lain. Sepanjang film kita hanya melihat tokoh-tokohnya berpacu dengan waktu menghindari bencana demi bencana. Aksi bencana adalah memang menu utamanya dengan minim sekali sentuhan manusiawi (sisi dramatik). Penokohan yang amat sangat minim membuat kita sulit bersimpati dengan tiap karakternya. Juga adegan aksi yang kelewat tidak masuk akal justru menghilangkan sama sekali unsur ketegangan. Jika kita mau bicara logika, buang jauh-jauh, film ini sudah tidak masuk akal sejak awal. Apa mau dikata, “it’s a disaster show” not “a man show”.

Baca Juga  Dreamkatcher

Seperti film-film bencana lazimnya, film ini sangat bergantung pada pencapaian efek visualnya (CGI). Bedanya, 2012 menampilkan adegan bencana besar gila-gilaan yang dijamin belum pernah Anda lihat dalam film sebelum ini. Film memperlihatkan secara intensif dengan sangat meyakinkan bencana demi bencana, yakni gempa bumi, letusan gunung berapi, hingga tsunami yang ratusan kali lipat lebih dahsyat dari yang pernah ada sebelumnya. Secara visual memang sangat memesona namun entah mengapa adegan-adegan tersebut tidak sampai membuat bulu kuduk merinding. Bisa jadi karena adegan-adegan tersebut kelewat tidak masuk akal. Justru adegan bencana “kecil” ketika Gordon dan Kate tengah berbelanja di supermarket benar-benar mampu mengagetkan kita.

Dari sisi cerita, 2012 jelas sangat jauh jika mau kita bandingkan dengan film-film sejenis seperti, Deep Impact, Dante’s Peak, maupun The Day After Tomorrow. Namun dari sisi pencapaian visualnya, 2012 jelas jauh lebih superior. Sebagai penutup, jika Anda sekedar menginginkan tontonan hiburan yang menyajikan adegan aksi bencana mahahebat yang belum pernah Anda lihat sebelumnya. Film ini adalah pilihan yang tepat. Namun jika Anda ingin menikmati sebuah tontonan yang bermutu film ini adalah sebuah “bencana”. Anda lebih baik menunggu versi dvdnya dirilis saja. It has nothing but disaster. (C)

Artikel SebelumnyaDari Redaksi mOntase
Artikel BerikutnyaA Christmas Carol
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.