Sekuel Konyol, Ringan, dan Menghibur



19 April 2012
Sutradara: Phil Lord / Chris Miller
Produser: Neal H. Moritz / Stephen J. Cannel
Penulis Naskah: Michael Bacall
Pemain: Jonah Hill / Channing Tatum / Ice Cube
Sinematografi : Barry Peterson
Editing: Joel Negrone
Ilustrasi Musik: Mark Mothersbaugh
Studio:  MGM / Original / Lord Miller Production / Relativity Media
Distributor: Columbia Pictures
Durasi: 109 menit
Bujet: $42 juta
            21 Jump Street boleh dibilang adalah sekuel dari serial drama kriminal televisi populer di tahun 80-an. Serialnya sendiri dibintangi oleh aktor-aktor muda (kala itu), seperti Johnny Depp, Peter DeLuise, dan Dustin Nguyen. Depp setelah bermain serial televisi ini karirnya semakin menanjak menjadi bintang film. Kisah filmnya sendiri nyaris sama dengan serial tv-nya, yakni polisi-polisi muda yang menyamar menjadi siswa SMU untuk menguak sindikat obat terlarang di sekolahnya. Yang berbeda dari versi layar lebarnya adalah kali ini kisahnya diubah menjadi sebuah film komedi murni.

Duo Jonah Hill dan Channing Tatum bermain super konyol sebagai agen Schmidt dan Jenko. Film ini banyak mengigatkan kita pada film komedi konyol lainnya, Pineapple Express (PE) dengan duo maut, Seth Rogen serta James Franco. Sementara Schmidt dan Jenko secara fisik dan intelektual saling melengkapi. Schmidt yang pintar namun lemah fisiknya tertutup oleh Jenko yang berotot namun lemah di otak. Namun tidak seperti PE yang mengandalkan kekuatan dialog dari kedua pemain utamanya, 21 Jump Street menawarkan polah serta aksi-aksi yang konyol yang sangat kocak dari awal hingga akhir filmnya.
Seperti halnya PE walau aktingnya tidak sekonyol Rogen dan Franco namun kekuatan utama film ini ada pada duo pemain utamanya, Hill dan Tatum. Walau mereka sebelumnya lebih sering bermain dalam film drama serius namun mereka sama sekali tidak canggung berakting konyol seperti itu. Hanya memang yang agak janggal mereka tampak sudah terlalu tua untuk menyamar sebagai siswa SMU. Satu lagi pemain yang mencuri perhatian adalah Ice Cube sebagai sang kapten dengan omongannya selalu ketus, kasar, dan tajam. Sayang tidak seperti serial tv-nya, anggota tim 21 Jump Street lainnya tidak berperan banyak, tentunya agar lebih fokus ke dua tokoh utama itu saja.
21 Jump Street memang berbeda tone dengan serial televisi aslinya. Formula komedi-berpasangan rasanya memang lebih cocok untuk penonton masa kini. Warning bagi penonton: Kata-kata makian dan ejekan kasar nyaris ada dalam semua dialognya. Satu lagi, kejutan besar ada di penghujung filmnya yang dijamin membuat Anda terperangah. Dijamin film ini bakal mengocok perut hingga Anda habis. Rasanya film ini adalah film komedi kriminal terkonyol setelah PE beberapa tahun lalu. (Score: B)
Artikel SebelumnyaThe Raid
Artikel BerikutnyaBattleship
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.