May (Raihaanun) adalah seorang gadis trauma yang menjadi korban perkosaan sejak ia remaja, delapan tahun yang lalu. May mengalami trauma berat hingga ia tak pernah keluar dari rumah dan kamarnya selama itu. Bahkan saat rumah tetangga terbakar pun, ia tetap tak mau keluar rumah. May terampil membuat boneka yang menjadi rutinitas keseharian sekaligus penyokong hidupnya bersama sang ayah (Lukman Sardi) yang juga ikut membantunya. Sang ayah, selama ini juga tak lepas dari trauma anaknya. Ia melampiaskan semua emosi dalam ring tinju yang menjadi profesi sampingannya. Rutinitas May mendadak terusik ketika ia menyadari sebuah lubang kecil yang tembus ke tembok tetangganya. Interaksi pun terjadi antara sang gadis dengan penghuni sebelah yang ternyata adalah seorang pesulap (Ario Bayu).

Dari ringkasan cerita di atas, telah terlihat ide dan konsep cerita yang menarik. Trauma May dan sang ayah serta rutinitas keseharian mereka, dikemas melalui bahasa visual yang unik dengan pendekatan teatrikal sepanjang filmnya. Penonton yang telah terbiasa dengan tontonan “alternatif” macam ini, tentu tak sulit membaca arah ceritanya. Interaksi May dan sang ayah memang minim dialog, namun penampilan dua bintangnya yang sangat ekspresif membuat kisahnya tak sulit dicerna. Adegan-adegan di meja makan yang sunyi menjadi bukti bagaimana mereka bisa berdialog tanpa dialog dengan chemistry yang begitu kuat.

Kisah mulai berjalan menarik ketika sang pesulap masuk dalam hidup May. Komunikasi pun berjalan unik melalui lubang kecil di tembok yang mampu menggambarkan trauma May dengan sangat baik. Melalui celah kecil inilah, May mulai belajar sulap, dan ia pun mulai memiliki empati dan rasa cemburu pada teman barunya ini. Semua disajikan manis tanpa dialog. Kontras dengan pengadeganan May yang serba teratur dan bersih, kehidupan luar sang ayah digambarkan serba gelap, keras, kasar, dengan set serba kumuh. Semua ini bersama aksi perkelahian, walau terasa teatrikal, mampu menggambarkan suasana emosi sosok sang ayah dengan sempurna.

Sayangnya, pendekatan pilihan sang sineas justru memberi efek yang berbeda bagi penonton, setidaknya saya. Pendekatan yang serba teatrikal justru membuat saya sulit untuk berempati penuh dengan tokoh-tokohnya. Pendekatan ini membuat jarak dengan penonton dan seolah kita hanya melihat “performance” yang mengesankan. Hal ini diperburuk pula dengan kualitas suara dialog yang terdengar sekali di-dubbing dengan mengabaikan suara ambience (atmosfir). Jarak dengan penonton juga semakin dipertegas dengan beberapa kejanggalan logika dalam setnya. May berada di rumahnya yang berlantai satu sementara ruang sang pesulap ada di lantai atas. Oke, bisa jadi ini disengaja oleh pembuat film jika memang sang pesulap bekerja sebagai alam bawah sadar sang gadis. Namun, ketika dalam satu momen sang ayah berinteraksi fisik dengan sang pesulap, semua menjadi tak konsisten. Batasan antara alam nyata dan bawah sadar menjadi kabur, dan lantas ini saya abaikan. Bermain-main dengan konsep plot dan visual macam ini memang bukan perkara mudah.

Baca Juga  Rumah Merah Putih

Satu hal lagi yang sangat mengganjal dan menurunkan banyak poin filmnya adalah ending-nya. Dengan segala sajian yang serba “absurd” sepanjang filmnya, satu kalimat kecil di akhir film yang dilontarkan May kepada sang ayah, justru “menghancurkan” filmnya. Tanpa kalimat yang sangat gamblang ini pun, pesan filmnya telah tersampaikan dengan sangat baik. Sayang sekali. Sempat pula terbersit hubungan kisah film ini dengan Tragedi “Mei 1998”, mungkin bisa saja saya melewatkan sesuatu, namun saya tak melihat koneksi visual maupun naratif ke arah ini, sepanjang filmnya.

27 Steps of May memiliki premis cerita dengan konsep yang menarik, namun eksekusi estetik sang sineas membuat justru terasa berjarak. Saya hanya bisa membayangkan jika film ini menggunakan pendekatan yang lebih realistik rasanya akan lebih meyakinkan, namun tentu bujet berbicara. Usaha para pembuat filmnya, jelas patut diapresiasi lebih, dan industri film kita memang membutuhkan tontonan alternatif macam ini, walau segmen penontonnya tentu berbeda dan sangat terbatas. Ruang diskusi untuk tontonan macam ini juga perlu digiatkan agar para penonton pun bisa memilah secara cerdas karena bisa jadi tak semua film “festival” macam ini pun berkualitas bagus.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaAvengers: Endgame Bakal Lewati Rekor Avatar?
Artikel BerikutnyaAvengers: Endgame Cetak Sejarah Box Office!
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses