Boven Digoel. Apa yang terlintas di kepala ketika mendengar Boven Digoel? Saya langsung teringat wilayah pengasingan yang cukup banyak dibicarakan di berbagai media yang mengangkat isu politik masa lampau salah satunya buku karangan Pramoedya Ananta Toer. Banyak orang menjalani hari-harinya di penjara alam yang didirikan oleh pemerintahan kolonial Belanda di tanah Papua ini. Lalu apa yang disajikan film garapan FX Purnomo ini?

Film yang diangkat dari sebuah novel kisah nyata seorang John Manansang ini mengisahkan perjuangan John yang bertekad untuk menjadi dokter dan mengabdi pada negeri Papua. Berbagai rintangan harus ia hadapi seperti sulitnya membangun kepercayaan penduduk lokal untuk menerima bantuan medis, kekurangan peralatan, dan tenaga medis yang mampu melayani seluruh masyarakat di wilayah Tanah Merah (Boven Digoel) dan sekitarnya.

Boven Digoel menyajikan gambaran alam yang begitu indah dan mampu membuktikan bahwa Indonesia adalah negara surgawi. Keindahan alam ini tidak perlu kita cari sampai ke luar negeri. Mengeksplor keindahan alam hingga ke pelosok Indonesia dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan perasaan memiliki. Jika beberapa film lain menonjolkan keindahan negeri jauh yang bukan milik kita untuk menjadi daya tarik yang menjual mimpi, Boven Digoel mampu menyadarkan kita bahwa apa yang kita miliki saat ini jauh lebih indah daripada sekedar mimpi. Kualitas penyajian alam Papua ini tentu didukung dengan teknik yang cukup mapan. Selain itu, faktor lain yang mampu menarik penonton untuk hanyut ke dalam suasana adalah musik yang begitu apik mengiringi cerita. Jika beberapa waktu lalu kita terpesona dengan musik yang dihadirkan dalam film animasi Disney Moana, kali ini kita boleh berbangga dengan kekuatan musik khas negeri Papua yang menggugah. Sangat eksotis dan bersemangat.

Jumlah film yang megisahkan kehidupan Indonesia bagian timur bisa dihitung dengan jari. Melalui Boven Digoel kita dapat menyaksikan suatu hal yang khas dari kualitas penduduk asli. Bahasa, cara bicara, dan gesture yang khas memberikan warna tersendiri dan membuat penonton jadi lebih mengenal masyarakat disana sehingga mereka tidak lagi terasa asing. Jajaran pemeran film ini boleh diacungi jempol. Kita tidak hanya bicara mengenai kualitas akting Christine Hakim yang sudah diakui kepiawaiannya saja. Bahkan hingga pemeran figuran yang merupakan penduduk asli, mereka bisa berakting dengan luwes sehingga nikmat ditonton.

Setelah berbagai keunggulan disajikan secara rapi sejak awal film, saya merasa ada kekurangan dari segi naratif. Skenario yang ditulis oleh Jujur Prananto ini kurang memberikan kedalaman cerita yang mampu memberikan intensitas berarti. Menekankan cerita pada satu kasus memang dapat membuat film memiliki fokus cerita. Fokus ini mungkin memang suatu hal krusial yang menjadi tujuan penyajian cerita. Tetapi, mungkin akan lebih indah ketika dramatisasi cerita dilakukan pada aspek cerita dari sisi yang lain. Misalkan penambahan penyajian cerita yang menunjukkan cara John menyikapi kesedihan istrinya yang kesepian. Hal ini tentu akan menambah manis film ini dan memperkuat pesan pengorbanan seorang anak negeri yang mengabdi karena sosok pejuang perlu didukung oleh keluarga khususnya pendamping. Jika saja sosok istri John ini lebih ditonjolkan, mungkin akan lebih menarik karena akan lebih tampak nyata perjuangan seorang istri yang mendukung segala niat dan kegiatan suaminya. Saya yakin dalam kehidupan nyata seorang John Manansang yang berhati mulia juga pasti mencintai serta menghormati keluarganya meskipun ia harus sibuk mengabdikan diri untuk masyarakat. Seperti yang terlihat dari adegan yang memperlihatkan cara John memperlakukan sang Ibu dengan penuh hormat.

Baca Juga  Keluarga Cemara

Diangkat dari novel berjudul Papua dan diberi judul Boven Digoel untuk filmnya membuat saya berekspektasi tinggi terhadap pemilihan kata Boven Digoel ini. Memang dijelaskan kondisi wilayah yang memiliki arti tanah merah ini serta latar belakang sejarahnya secara sepintas. Tetapi, saya rasa akan menjadi lebih berkesan jika diberikan informasi lebih banyak mengenai Boven Digoel. Wilayah yang sarat akan sejarah perjuangan ini perlu untuk diketahui banyak orang agar menjadi pemantik rasa berjuang bagi seluruh bangsa Indonesia. Seiring berjalannya waktu puluhan tahun berlalu, Boven Digoel tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Di mana masyarakatnya masih terus berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan kesejahteraan yang menjadi hak setiap warga negara.

Setidaknya, film ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat dan memiliki tujuan yang mulia. Semoga pemerintah menjadi lebih terdorong untuk melakukan tindakan nyata agar wilayah Indonesia bagian timur lebih diperhatikan. Meskipun terpisah jarak yang jauh, bangsa Indonesia dapat saling mengenal dan kemudian saling menyayangi berkat hadirnya film-film sejenis. Hingga kita semakin mencintai Indonesia. Akhirnya, film tidak hanya sebagai produk industri hiburan semata tetapi juga menjadi media yang menyatukan kekuatan negeri kita tercinta.
WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=ncx0M5fWfyc

Artikel SebelumnyaLion
Artikel BerikutnyaFOX Produksi Wiro Sableng 212
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.