Studio : PT. Soraya Intercine Film
Sutradara : Rizal Mantovani
Produser : Sunil Soraya
Penulis Naskah : Donny Dhirgantoro, Sunil Soraya, Hilman Mutasi
Pemain : Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Igor Saykoji, Denny Sumargo
Ilustrasi Musik : Nidji, The Future Conspiracy
Sinematografi : Yudi Datau
Editing : Sastha Sunu
Durasi : 130 Menit

Alkisah, ada lima orang anak muda yang saling bersahabat. Mereka adalah Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah), dan Ian (Igor Saykoji). Suatu ketika mereka menemukan rasa bosan dalam hubungan persahabatan mereka hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah satu sama lain dan tidak saling bertemu selama tiga bulan, dan pada hari yang ditentukan mereka akan bertemu di suatu tempat. Tiga bulan berjalan, mereka menjalani kehidupan mereka masing-masing. Tibalah saatnya mereka bertemu dan ternyata mereka berencana mendaki Gunung Semeru.

Ide cerita filmnya yang diilhami dari novel bestseller karya Donny Dhirgantoro sebenarnya cukup menarik jika digarap lebih hati-hati dan memperdalam tema cerita. Inti tema filmnya adalah persahabatan, percintaan, dan cinta tanah air. Ketiga tema tersebut dimasukkan begitu saja tanpa proporsi yang sama dan kuat dalam sepanjang kisahnya, dan cenderung merusak mood filmnya. Tema persahabatan paling dominan dalam film, namun pengambaran keakraban hubungan persahabatan mereka masih dirasa kurang. Sebenarnya apa yang menyebabkan rasa bosan di antara mereka? Apakah berpisah selama tiga bulan adalah solusi yang tepat? Tak ada motif konflik serta penjelasan yang kuat di sini.

Sisi-sisi personal karakter masing-masing dan hubungan antar personal juga tidak tergali lebih dalam. Kedangkalan tema ini yang mengakibatkan konflik cerita begitu datar. Tema cinta yang juga tidak dieksplor lebih dalam dan konfliknya tidak terbangun dengan baik. Kisah percintaan Genta, Riani, dan Zafran juga seakan hanya bumbu dan tempelan semata. Tema cinta tanah air Indonesia juga tak luput dari jalan ceritanya yang digambarkan dengan upacara bendera pada 17 Agustus tepat di puncak Semeru. Unsur komedi justru sedikit membantu menghidupkan filmnya.

Baca Juga  Silver Lining Playbook

Secara umum, filmnya dibagi dalam tiga tahap plot, pertama menggambarkan kisah sebelum pendakian dan lalu saat pendakian, serta ending. Sebelum pendakian menggambarkan keseharian mereka dan proses selama mereka tiga bulan berpisah. Sedangkan tahap pendakian adalah ketika mereka melakukan pendakian di Gunung Semeru. Jika dilihat proporsinya, plot pra pendakian rasanya terlalu lama dan membuang-buang waktu karena kisah perjalanan kurang digarap serius jalan ceritanya.

Ada beberapa pos, dari pos awal pendakian hingga puncak yang memiliki nama–nama unik yang memiliki mitosnya masing-masing, seperti Ranu Kumbolo, Kalimati, dan puncak Mahameru. Sebenarnya akan menarik jika konflik ceritanya dihubungkan dengan pos-pos tersebut. Sekalipun dalam kisah filmnya disinggung sedikit tentang nama, karakter, dan mitos pos-pos pendakian yang dilalui namun terasa kurang menyatu dengan konflik maupun karakter-karakter yang ada. Akibatnya, tak terlihat ada tantangan atau hambatan maupun sesuatu yang menarik yang bisa dilihat dari proses pendakiannya.

Dalam pendakian, sebetulnya sangat berpotensi mendukung aspek teknis, seperti sinematografi dengan menunjukkan pemandangan-pemandangan yang memesona namun komposisi maupun angle-nya tak terlihat istimewa. Secara umum, film ini memiliki cerita yang datar tanpa ada sesuatu yang istimewa. Semata hanya rasa penasaran penonton khususnya para pembaca novelnya sepertinya akan membantu filmnya untuk bisa menarik penonton ke bioskop.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaHabibie & Ainun
Artikel BerikutnyaOlympus Has Fallen
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini