Film bergenre roman remaja ini berkisah tentang persahabatan sekelompok remaja SMA. Mereka adalah Reta (Angelica Simperler), Firza (Fita Anggriani), Lala (Regina Rengganis), dan Dirly (Marcell Darwin). Suatu ketika ada siswa baru di sekolah tersebut bernama Gilang (Rangga Azof), yang kebetulan juga satu kelas dengan mereka. Masuknya Gilang ke sekolah tersebut membuat para cewek terkagum-kagum karena ketampanannya. Firza yang dijuluki ratu sekolah begitu yakin bahwa Gilang akan tertarik dengannya, namun Reta tak terima dengan pernyataan Firza. Reta menganggap bisa saja Gilang suka dengan cewek dengan penampilannya apa adanya seperti dirinya. Akhirnya Firza mengajak Reta untuk bertaruh, siapa yang berhasil “ditembak” oleh Gilang lebih dulu dalam 8 hari ke depan bertepatan dengan hari Valentine.

Film ini mencoba menggunakan alur penceritaan dengan menggunakan segmentasi dalam penuturan ceritanya. Delapan hari sebagai ukuran untuk mendekati Gilang dibagi menjadi 8 cara mendekati cowok. Visualisasi cerita menggunakan langkah-langkah dan tips untuk mendekati cowok per harinya. Sebetulnya hal ini menarik, penonton digiring untuk mengikuti aktivitas kedua tokoh ini untuk melakukan langkah-langkah tersebut. Namun kadang adegan-adegannya kurang konsisten dan kurang digali lebih dalam sehingga “tips”-nya terlihat kurang kuat dan konflik yang dibangun begitu datar. Sehingga langkah-langkah itu terlihat hanya tempelan belaka untuk membangun ceritanya.

Plot memang mengarah ke bagaimana Firza dan Reta berusaha mendekati Gilang namun motifnya tampak masih kurang kuat dalam latar kisahnya. Apa yang mendasari Reta menerima taruhan Firza? Apakah Reta juga tertarik karena ketampanan Gilang seperti Firza padahal sebelumnya ia tampak cuek. Plot ini begitu sederhana dan fokus pada aktivitas tokoh-tokohnya di area sekolah namun seringkali terlihat aktivitas berulang dan sedikit membosankan. Dialog-dialog yang dibangun juga tak mampu digali lebih dalam lagi untuk menghidupkan suasana. Beberapa chemistry terbangun antara Gilang dan Reta seperti beberapa adegan di perpustakaan namun sebenarnya masih bisa dimaksimalkan lagi untuk membuat nuansa romantis.

Baca Juga  Ave Maryam

Secara teknis film ini sangat sederhana. Setting film yang dominan di sekolah tak menunjukkan adanya setting yang istimewa. Akting para pemainnya pun tak ada yang istimewa pula walau penampilan Reta dan Firza cukup menunjukkan dua kepribadian berbeda. Unsur pun musik tak begitu dominan dan kuat untuk membangun tone filmnya. Film bergenre roman remaja masih menjadi favorit dalam industri film kita untuk menarik para penonton remaja. Walaupun menjadi salah satu genre yang berkembang namun cerita-cerita yang muncul tak sekelas film-film seperti Ada Apa Dengan Cinta ? (2002) yang bercerita kisah kasih di SMA. Kedalaman cerita menjadi kunci untuk membangun film menjadi lebih baik. Genre roman remaja jika diolah dan dimanfaatkan dengan baik sebenarnya cukup mampu untuk membangun karakter remaja-remaja era kini.

WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=Ogwr1mcUNC8

Artikel SebelumnyaUpdate Thor: Ragnarok
Artikel BerikutnyaDeepwater Horizon
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.