A Day (2017)

90 min|Drama, Mystery, Thriller|15 Jun 2017
6.8Rating: 6.8 / 10 from 2,940 usersMetascore: N/A
A mystery drama revolving around a father who commits an unethical act in an attempt to save his daughter's life. Three years later, his actions return to haunt him, trapping him in an endless time loop.

*ulasan film mengandung sedikit spoiler!

A Day (Haroo) adalah film produksi Korea Selatan garapan sineas Cho Sun-ho yang dibintangi Kim Myung-min dan Byun Yo-han. Film aksi drama-fantasi produksi CGV Arthouse ini secara unik menggunakan plot berulang atau “loop” plot. Walau bukan formula baru, namun secara inovatif, A Day mampu membuat formula ini menjadi lebih segar dari sebelumnya.

Alkisah, Kim Joon-young adalah seorang dokter ternama di negaranya yang kini tengah kembali setelah dinas bersama PBB beberapa waktu lamanya. Begitu tiba, Kim berniat bertemu dengannya putrinya, Eun-Jun yang kesal karena ayahnya seolah lupa hari ini adalah ulang tahunnya. Di tengah perjalanan, Kim melihat kecelakaan sebuah taksi dan mencoba menolong sang sopir. Namun, tanpa ia duga ternyata sang putri pun ikut tewas dalam kecelakaan tersebut. Sejak momen itulah sebuah peristiwa unik terjadi. Waktu kembali beberapa jam sebelumnya, dan setiap kali itu pula Kim berusaha menyelamatkan putrinya, namun usahanya selalu sia-sia.

Lagi, satu plot “loop” atau berulang a la The Groundhog Day digunakan dalam sebuah film, namun di luar dugaan, A Day mampu memberikan sentuhan inovatif yang baru untuk formula ini. Film dibuka ringan, menyajikan momen demi momen dengan detil agar kelak penonton dapat mengingat adegan-adegan kecil tersebut. Sesaat setelah momen yang dituju terjadi (kecelakaan), alur kisah pun berbalik ke awal film. Hal ini terjadi berulang-kali, dengan arah plot yang berbeda tiap kali Kim berpacu dengan waktu menyelamatkan sang putri. Tak ada yang istimewa hingga tahap ini. Tak ada pula motif yang jelas mengapa ini semua bisa terjadi hingga karakter baru, Lee Min-chul muncul. Uniknya, tokoh ini juga mengalami anomali yang sama dengan Kim. Alur kisah pun berjalan menjadi lebih menarik karena aksi mereka ternyata saling bersinggungan. Pengembangan selanjutnya menjadi sangat menggairahkan dan begitu nikmat ditonton dengan satu misteri besar yang belum terpecahkan hingga satu tokoh lagi muncul! Sungguh sangat mengejutkan dan menyegarkan. Baru kali ini, formula “loop” diperlakukan dengan begitu brilian seperti ini.

Baca Juga  One Cut of the Dead

A Day adalah satu penggunaan formula “loop” plot yang sangat inovatif dengan kedalaman kisah dan pesan moral yang sangat kuat. Film ini tidak hanya dikemas unik dengan naskah yang kuat, namun didukung pula pemain-pemain yang berakting prima. Setelah The Groundhog Day yang mempelopori formula ini tiga dekade silam, A Day secara tema berada di atas film-film bertipe sejenis macam Edge of Tomorrow dan Source Code. Walau secara teknis jelas berbeda dengan film-film produksi Hollywood ini, namun A Day secara luar biasa mampu mencapai keseimbangan antara kemasan cerita, kematangan teknis, dan kekuatan tema. Sederhana sekali, film ini bicara soal cinta, penebusan, dan bagaimana kekerasan tak akan pernah menyelesaikan masalah. Dengan kekuatan kemasan dan temanya, tak heran jika kelak film ini bakal di-remake oleh studio-studio besar Hollywood.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaJoJo’s Bizarre Adventure: Diamond Is Unbreakable Chapter 1
Artikel BerikutnyaGeostorm
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.