A Ghost Story (2017)

92 min|Drama, Fantasy, Mystery|28 Jul 2017
6.8Rating: 6.8 / 10 from 80,027 usersMetascore: 84
In this singular exploration of legacy, love, loss, and the enormity of existence, a recently deceased, white-sheeted ghost returns to his suburban home to try to reconnect with his bereft wife.

*mengandung SPOILER!

A Ghost Story adalah film drama supernatural arahan David Lowery, yang sebelumnya kita kenal melalui film fantasi anak-anak produksi Disney yang rilis tahun lalu, Pete’s Dragon. Lowery bereuni kembali bersama aktor-aktris kenamaan Casey Affleck dan Rooney Mara, setelah sebelumnya berkolaborasi dalam Ain’t Them Body Saint (2013). Lowery berbalik haluan setelah Pete’s Dragon, kini memproduksi sebuah film filosofis bernuansa supernatural dengan pesan amat mendalam yang tidak mudah dicerna penonton awam.

C (Affleck) dan M (Mara) adalah sepasang suami istri yang hidup di sebuah rumah wilayah pinggiran Dallas. Meski C amat mencintai M, namun kehidupan rumah tangga mereka penuh dengan kekosongan hingga suatu ketika C tewas karena kecelakaan. Hantu C kembali ke rumahnya, dan ia menyaksikan bagaimana kehidupan sang istri sepeninggalnya.

Dengan balutan teknik aspek rasio full screen (4:3), tempo plot yang amat lambat, serta teknik long take, film ini mengawali kisahnya. Sekilas shot-shot tersebut tanpa makna, menyajikan aktifitas keseharian mereka, juga suara-suara aneh yang menganggu di dalam rumah. Setelah kecelakaan terjadi, C dibawa ke rumah sakit. Satu shot jauh dan berdurasi panjang di kamar mayat digambarkan amat sederhana, namun begitu mengejutkan ketika mendadak sosok C yang berselimut kain mayat mendadak bangkit. C menyusuri lorong-lorong rumah sakit, dan bukannya memilih untuk masuk ke dalam pintu cahaya, namun ia memilih pulang bertemu istrinya. Tak ada apa pun yang bisa ia lakukan terhadap istrinya karena ia hanyalah arwah. Semua kemasan tekniknya yang konstan sejak awal menggambarkan dengan sempurna bagaimana kekosongan serta ketidakbebasan (batasan) yang dirasakan C, terperangkap dalam dunia arwah. Jiwa C pun memang sudah “mati” sejak lama. Kombinasi nuansa horor dan kesedihan mampu kita rasakan dengan baik.  Satu shot panjang begitu manis menggambarkan M yang tengah menyantap makanannya dan C menyimak dari sisi samping belakang frame, diakhiri dengan istrinya yang berlari ke kamar mandi sambil muntah. M ternyata hamil.

Tak ada apapun yang bisa ia lakukan ketika sang istri memilih untuk pindah. C hanya bisa tinggal di rumah tersebut menyaksikan bagaimana waktu, hari demi hari berlalu, tahun demi tahun, dengan penghuni baru yang berbeda-beda. Momen ini terasa sebagai sebuah montage panjang yang dikemas begitu manis menggambarkan kesendirian M. Ada hantu di sebelah rumah, mereka bisa berkomunikasi secara batin. Tak jelas ia siapa, namun ia pun bernasib sama. Terperangkap. Satu segmen horor yang biasa kita lihat dari sisi yang berbeda disajikan begitu manis, hingga para penghuni baru rumah tersebut memilih untuk pergi dari sana. Satu monolog panjang dari seorang karakter penghuni baru menjadi kunci cerita film ini, menjelaskan pada kita bagaimana manusia hanyalah satu momen kecil dalam semesta, namun bisa bermakna abadi walau hanya dengan satu alunan nada sederhana. Satu momen ketika rumah-rumah di area ini dihancurkan, hantu di sebelah rumah lenyap, dan kita tahu sekarang, mengapa mereka terperangkap di dunia fana. Ada urusan duniawi yang belum mereka bisa tinggalkan.

Baca Juga  Tokyo Shaking (Festival Sinema Prancis)

Waktu terus berjalan, dan film kini memasuki ranah fiksi ilmiah dengan C menjadi saksi bagaimana areal rumahnya kini menjadi hutan beton yang penuh warna. C merasa dunia ini bukan miliknya dan ia memilih untuk lepas dari kematiannya. C pun dibawa ke masa jauh sebelumnya, ke era dimana segalanya masih berlaku hukum rimba. Ia meyaksikan bagaimana di titik rumahnya ini ratusan tahun lalu, sebuah keluarga nomaden yang bahagia akhirnya memilih tempat ini menjadi rumah tinggalnya, namun secara mengenaskan pula mereka semua tewas dibantai suku Indian.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya C menyaksikan sepasang suami istri muda yang akhirnya memilih tinggal di sana. Mereka adalah C dan M. Kita akhirnya tahu, suara-suara aneh di awal film adalah M sendiri. C menyaksikan bagaimana kehidupan pernikahan mereka yang kosong adalah karena ulahnya sendiri. C hanya hidup di dunianya sendiri tanpa mau membawa istrinya masuk. Ia melihat kembali sang istri yang memasukkan lipatan kertas yang ia sisipkan dalam dinding sebelum ia pergi. Kali ini, C berupaya keras mengambilnya, dan seketika itu pula ia lenyap ketika membaca pesan istrinya. Urusan C telah selesai dan ia kembali ke alam yang sesungguhnya. Penonton tak tahu apa yang M tulis dalam pesannya, tapi rasanya kita bisa menduga apa yang ia tulis di sana.

A Ghost Story melalui kemasan visual yang sederhana, namun mampu memberikan sebuah pengalaman visual luar biasa, yang menakutkan, menyedihkan, sekaligus mencerahkan. Dengan kekuatan visualnya yang mampu membangun atmosfir penuh kekosongan sepanjang filmnya, A Ghost Story mampu menyampaikan pesan kehidupan yang sangat mendalam. Film ini tidak hanya bicara soal kegagalan hubungan pernikahan, kekosongan jiwa, atau bahkan cinta, namun bicara tentang esensi kehidupan. Love is simply to share. Berbagi melalui kasih sayang serta sesuatu yang amat kita cintai (passion) walau hanya dengan satu alunan nada.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaPengabdi Setan; Dari Cult ke Cult
Artikel BerikutnyaHarga Tiket Bioskop di Dunia
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.