A Good Day to Die Hard (2013)
98 min|Action, Thriller|14 Feb 2013
5.2Rating: 5.2 / 10 from 214,582 usersMetascore: 28
John McClane travels to Russia to help out his seemingly wayward son, Jack, only to discover that Jack is a CIA operative working undercover, causing the father and son to team up against underworld forces.

Ketika melihat trailer-nya beberapa bulan yang lalu sudah tercium kualitas filmnya yang buruk, dan dugaan tersebut ternyata tidak salah. Sejak seri 1 hingga 4, seri Die Hard menjadi salah satu film action franchise yang paling populer dan dinanti. Plotnya yang khas, karakter John McClane yang karismatik, jaminan adegan aksinya yang wah dan menegangkan, plus sedikit bumbu humor, serta skala cerita yang semakin meluas. Wajar jika semua orang memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap film ini. Film kelimanya kali ini dengan cerobohnya menghilangkan semua keistimewaan seri ini.

Cerita kali ini ada di tanah Rusia, dimana puteranya terlibat plot membingungkan yang melibatkan seorang tokoh penting, Komarov. McClane terlibat dalam situasi rumit ini di waktu yang salah. Hasilnya McClane terlibat perburuan dog & mouse yang tak jelas dan perkembangan cerita yang serba membingungkan pula. Motif cerita menjadi hal terlemah dalam kisah filmnya karena aspek inilah yang menggerakkan aksi. Motif cerita yang lemah menjadikan adegan aksi menjadi hambar dengan ketegangan cerita yang sama sekali nol. Kita tidak mampu bersimpati maupun peduli apapun dengan karakternya. Singkat kata, kisahnya sangat memaksa. Sub plot bapak dan anak malah terasa sedikit menyentuh, itu pun karena kita telah mengenal karakter McClane sejak lama.

Baca Juga  Fear the Night

Satu yang paling disesalkan adalah adegan aksinya yang brutal. Di seri Die Hard terdahulu, McClane adalah sosok polisi yang nekat tapi tidak ngawur dan ia selalu memiliki alasan atau motif yang kuat untuk melakukan sebuah tindakan atas aksinya. Satu alasan utamanya adalah jiwanya terancam (semua seri), orang-orang terdekatnya terancam nyawanya (seri 1, 2, dan 4), dan sesuatu hal yang bisa mengancam jiwa banyak orang (seri 1, 2, 3, dan 4). Kali ini McClane bukan sosok McClane yang sebenarnya tapi sosok yang sangat ceroboh dan ngawur. Sekuen aksi kejar mengejar mobil di kota adalah satu contoh sempurna. Hanya untuk menyelamatkan anaknya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia bisa membunuh puluhan banyak orang di jalanan. Lalu ada satu aksi memukul seorang pemilik mobil yang tak bersalah. What the hell? This is not John McClane.

Die Hard 5 atau A Good Day to Die Hard (judul paling konyol dari semua seri) dari segala sisi bukan seri Die Hard seperti lazimnya. Plot, karakter, adegan aksi, terlebih unsur thriller, semua adalah salah. This is no Die Hard. Fans sejati Die Hard boleh jadi kecewa berat. I Hope this is the last time. John McClane is too old for this. 

PENILAIAN KAMI
Overall
10 %
Artikel SebelumnyaThe Last Stand
Artikel BerikutnyaZero Dark Thirty
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

2 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.