Sang detektif kawakan, Hercule Poirot kembali beraksi dalam A Haunting in Venice yang kali ini diadaptasi dari novel bertitel Hallowe’en Party (1969) karya Agatha Christie. Kenneth Branagh masih bermain sebagai sang detektif ikonik sekaligus mengarahkan seri ketiga ini dengan naskah yang ditulis Michael Green. Seperti dua film sebelumnya, A Haunting in Venice kembali dibintangi sederetan nama tenar, yakni Tina Fey, Michelle Yeoh, Kyle Allen, Camille Cottin, Jamie Dornan, Jude Hill, Ali Khan, Emma Laird dan Kelly Reilly. Akankah seri ketiga Poirot ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari dua film sebelumnya?

Poirot yang tengah menikmati masa pensiunnya di Kota Venice, diajak sahabat lamanya, Ariadne Oliver (Fey) ke acara pesta Halloween. Setelah acara pesta, sang tuan rumah Rowena Drake (Reilly) mengadakan acara pemanggilan arwah oleh cenayang kondang Joyce Reynolds (Yeoh) yang dihadiri tamu-tamu khusus pihak keluarga. Rowena memiliki putri yang konon tewas bunuh diri akibat roh jahat yang ada di bangunan tua tersebut. Acara yang penuh ketegangan tersebut dipungkasi dengan terbunuhnya seseorang secara mengenaskan. Poirot pun kembali beraksi untuk menemukan dalang pelakunya di antara para tamu yang hadir.

A Haunting in Venice bukan adaptasi loyal dari novelnya yang sesungguhnya berlokasi cerita di Inggris. Ini tentu bukan masalah bagi seri ketiga film petualangan sang detektif. Medium film butuh sebuah daya tarik visual yang kuat, dan dalam hal ini adalah Kota Venice yang begitu eksotis. Film ketiga ini juga mengambil sentuhan berbeda dari sebelumnya yakni “horor”. Elemen horor diharapkan tentunya menjadi daya tarik di mana film keduanya kurang berhasil di pasaran.

Plotnya sendiri masih menggunakan formula sebelumnya melalui struktur tiga babak yang solid. Eksposisi para tokoh dan peristiwa pembunuhan, investigasi sang detektif, serta konklusi yang menghebohkan. Setting cerita masih dalam situasi terisolir (akses keluar ditutup) yang kali ini didukung atmosfir bangunan amat tua dengan lorong dan ruang-ruang yang temaram. Selipan “jump scare” terdapat dalam proses investigasi yang mampu mengaburkan ranah ilmiah dan supernatural. Seperti seri sebelumnya, investigasi berlangsung menarik dan intens yang kali ini ditemani oleh sahabat lama Poirot yang bertindak sebagai asisten. Chemistry Poirot dan Oliver pun terjalin apik sepanjang film. Seperti dua seri sebelumnya, sisi sinematografi pun dikemas sangat apik dengan kompisisi yang terukur.

Baca Juga  Beyond Skyline

Dengan sentuhan horor, setting eksotis, sinematografi menawan, deretan kasting ternama, plus formula investigasi tipikal sang detektif, tidak lantas membuat A Haunting in Venice lebih baik dari sebelumnya. Setting lokasi Kota Venice secara visual tidak banyak dieksplorasi karena lokasi cerita lebih banyak berada dalam bangunan. Para kastingnya pun kini tidak bergemerlapan seperti sebelumnya, sekalipun mereka seluruhnya bermain apik. Dua faktor ini saja membuat filmnya terkesan “lebih murah” dari dua seri sebelumnya. Wajar jika menilik hasil box-office seri keduanya. Bagi fans horor bakal mendapati sisi horor film ini terlalu tanggung dan renyah, tanpa hentakan berarti. A Haunting in Venice cukup untuk hanya sekadar menyajikan sisi lain dari petualangan investigasi sang detektif. Tidak lebih. Masih kita tunggu petualangan menarik Hercule Poirot selanjutnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
overall
70 %
Artikel SebelumnyaSleep Call
Artikel BerikutnyaSleep
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.