A Man Called Ahok adalah sebuah film biografi yang disutradarai oleh Putrama Tuta. Film ini dirilis resmi pada 8 November lalu dengan durasi 102 menit. Sebelumnya, sang sutradara juga terlibat dalam penggarapan beberapa film, seperti Catatan Harian Si Boy (2011), Pintu Harmonika (2011), NOAH “Awal Semula” (2013), Lily Bunga Terakhirku (2015) dan Sundul Gan – Kaskus The Movie (2015). Filmnya kali ini diadaptasi dari buku A Man Called #Ahok: Sepenggal Kisah Perjuangan & Ketulusan karya Rudi Valinka. Film ini menceritakan kehidupan masa lalu Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, ketika ia tinggal di Belitung Timur. Film ini diproduksi The United Team of Art dengan diproduseri Ilya Sigma, Emir Hakim, dan Reza Hidayat. Sementara Daniel Mananta berperan sebagai Ahok dewasa dan Eric Febrian sebagai Ahok remaja. Beberapa pemain lain yang terlibat, diantaranya Denny Sumargo, Chew Kin Wah, Sita Nursanti, Donny Damara, Ferry Salim, Eriska Rein, dan Jill Gladys.

Proses produksi film ini membutuhkan waktu sekitar 37 hari, sejak bulan Maret hingga April 2018. Sebagian besar lokasi syuting berada di Gantong, Belitung Timur. A Man Called Ahok juga menuai pro dan kontra dari pihak keluarga Ahok sendiri. Adik pertama Ahok, Basuri Tjahaja Purnama (Yuyun) merasa tersentuh dengan kepiawaian sang sineas hingga filmnya terasa seperti mengulang kembali memori masa lalunya. Sebaliknya, adik perempuan Ahok, Fifi Lety Tjahaja Purnama menyayangkan film terasa kurang riset. Kekecewaan muncul karena sosok Ayah dan Ibunya, tidak seperti yang digambarkan dalam film. Fifi sangat menyesali tindakan sang sineas yang memilih syuting terlebih dahulu tanpa riset mendalam dan berdiskusi untuk naskah filmnya.

A Man Called Ahok berkisah tentang masa lalu Basuki Tjahaja Purnama (Eric Febrian/Daniel Mananta), anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya adalah seorang tauke (bos besar) perusahaan pertambangan di Belitung bernama Tjoeng Kim Nam (Denny Sumargo/Chew Kin Wah) dan Ibunya yang penyayang dan tegar bernama Buniarti (Eriska Rein/Sita Nur Santi). Masa kecil Ahok, hidupnya sangat mapan dan tidak kekurangan. Bisnis ayahnya di pertambangan berjalan baik. Sosok Kim Nam, dikenal sangat dermawan dan tanpa pamrih selalu menolong sesama. Suatu hari, Kim Nam harus berhadapan dengan sistem birokrat korup dan ia menolak memberi “upeti” kepada seorang oknum pejabat. Ini berujung pada bisnisnya yang perlahan mengalami kemunduran. Kehidupan Ahok yang tadinya serba cukup menjadi serba sulit. Saat inilah, Kim Nam mengarahkan Ahok untuk menjadi seorang dokter agar bisa membantu orang banyak. Namun, Ahok justru mengambil keputusan lain hingga mengakibatkan hubungan dengan ayahnya menjadi renggang.

Plot film ini terdiri dari dua segmen besar yang sama porsinya. Segmen pertama mengisahkan sosok Ahok (Eric Febrian) sejak masa kecil hingga remaja ketika masih di Belitung Timur. Separuh filmnya, menceritakan karir politik Ahok dewasa (Daniel Mananta). Sepanjang film ini bertutur menggunakan flashback melalui dua segmen tersebut. Di segmen pertama, penceritaan sosok Ahok berjalan baik, namun cenderung datar dan bertempo lambat. Sayangnya pula, porsi peran ayahnya tampak lebih dominan dibandingkan sosok Ahok sendiri. Satu momen kecil menyentuh adalah saat Ahok membantu tetangganya saat ayahnya tak bisa berbuat banyak. Momen yang terfokus pada aksi Ahok seperti inilah yang seharusnya ditampilkan lebih banyak.

Baca Juga  Rasuk

Segmen kedua justru berjalan lebih cepat. Akibatnya, impresi awal yang dibangun film ini menjadi sedikit goyah. Gambaran perjalanan karir Ahok ketika menjadi anggota DPRD hingga menjabat Bupati Belitung Timur dituturkan secara cepat dengan beberapa cuplikan saja. Padahal titik balik, karir politik Ahok, ada dalam momen ini. Saat Ahok menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta bahkan tidak dibahas sama sekali. Padahal kisahnya diawali saat Ahok tengah mendekam dalam jeruji besi. Sosok Ahok yang tegas, jujur, dan berani juga kurang ditonjolkan secara jelas. Anehnya lagi, istri Ahok, Veronica Tan justru hanya ditampilkan melalui siluet saja. Padahal, ia merupakan sosok penting dalam masa karir seorang Ahok. Sisi lain ini, tentu bisa menjadi bumbu pelengkap cerita, namun semuanya hanya tampak seperti tempelan saja.

Setelah Gantong, Belitung, satu dekade lalu menjadi latar dalam film laris Laskar Pelangi (2008), kini kembali digunakan dalam film ini. Lokasi pantainya yang memiliki ciri khas penuh dengan bebatuan serta bekas tambang timah mampu dieksplorasi dengan baik. Bicara soal akting pemain, Daniel Mananta memang mirip dengan sosok Ahok. Bahkan gestur tubuh, aksen, dan suara berbicara sangat mendekati aslinya walau tentu masih ada kelemahan. Konsistensi akting pemain juga tidak terjaga untuk peran ayah Ahok muda dan tua. Tjoeng Kim Nam yang diperankan oleh Chew Kin Wah sangat kontras dengan akting yang dibawakan oleh Denny Sumargo (ayah Ahok muda). Lagu tidaklah dominan dalam filmnya, namun ketika lagu ciptaan NTRL, Takis mengalun mampu membangun suasana yang hening, mengena, dan mendalam.

Dengan segala kelemahannya, film ini patut kita apresiasi karena berani mengangkat kasus politik yang menimpa seorang Ahok. Penggunaan aksen Indonesia-Cina, serta tradisi dan budaya Cina dalam kehidupan sehari-hari tergambar sangat baik dan tidak berlebihan. Sikap orang Tionghoa yang tinggi harga dirinya dengan gaya bicara blak-blakan dan apa adanya menjadi nilai tambah film ini. Sebagai film biopik yang berasal dari kisah nyata, A Man Called Ahok memang kurang pendalaman cerita, namun film ini tetaplah menyentuh dan menginspirasi, serta mengajarkan kita tentang rasa nasionalisme, jiwa kepemimpinan yang tulus, jujur, dan tegas, serta menolong sesama tanpa pamrih.

Tim Penulis: Purwoko Ajie – Wahyu Sri Palupi Ningsih – Eka Puspita Sari

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Grinch
Artikel BerikutnyaThe Girl in the Spider’s Web
Redaksi Montase
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini