A Man Called Otto (2022)
126 min|Comedy, Drama|13 Jan 2023
7.5Rating: 7.5 / 10 from 206,159 usersMetascore: 51
Otto is a grump who's given up on life following the loss of his wife and wants to end it all. When a young family moves in nearby, he meets his match in quick-witted Marisol, leading to a friendship that will turn his world around.

Ulasan ini mengandung spoiler dan akan lebih baik jika sudah menonton A Man Called Ove.

A Man Called Otto adalah versi remake AS dari film produksi Swedia, A Man Called Ove (2015) karya Hannes Holm. Kedua filmnya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Frederik Backman. Ove meraih nominasi film berbahasa asing terbaik dalam Ajang Academy Awards pada tahun 2017. Film remake-nya digarap oleh sineas kawakan Marc Foster yang kita tahu pernah menggarap Finding Neverland, Quantum of Solace (James Bond) dan World War Z. Film ini dibintangi aktor senior Tom Hanks, didampingi Mariana Treviño, Rachel Keller, serta Manuel Garcia-Rulfo. Dengan bermodal bintang dan sineasnya, apakah Otto bisa bersaing dengan Ove? Patut menjadi catatan, bahwa durasi Otto adalah 126 menit, sementara Ove adalah 116 menit.

My life was black and white before Sonya.

Otto (Hanks) adalah seorang lansia yang baru saja kehilangan istrinya, Sonya. Otto yang juga kehilangan pekerjaannya, berniat mengakhiri hidupnya untuk bisa segera bertemu istrinya. Namun setiap kali ia melakukan aksi bunuh diri, selalu saja ada yang menghalangi, yakni para tetangga di lingkungan rumahnya yang membutuhkan bantuannya. Lambat laun, Otto mulai menyadari bahwa hidup lebih bermakna jika membantu sesama dengan tulus.

Mau tak mau, bagi yang sudah menonton keduanya, Otto bakal ditandingkan head to head dengan film aslinya, Ove. Otto adalah film remake yang bagus, namun Ove memang jauh lebih superior. Alur kisahnya pun nyaris sama, semisal dalam adegan pembuka di swalayan. Otto ribut dengan kasir soal seutas tali yang dibelinya, sementara Ove memasalahkan harga seikat bunga. Pun dengan aspek cerita lainnya, misal sosok para tetangga, setting perumahan, hingga segmen kilas-balik. Pembeda, hanya beberapa detil kisahnya, di mana Ove memang lebih mengena ketimbang Otto.

Pembeda utama jelas adalah setting kisahnya, Otto di AS dan Ove di Swedia. Tetangga dekat Oto Marisol berasal dari Meksiko, sementara Parvaneh berasal dari Iran. Cara mereka mengumpat menggunakan bahasa ibu masing-masing, jelas bukan pembeda yang krusial. Setting lokasi Otto di perumahan dengan jalan untuk mobil di depannya, sementara Ove memang hanya gang untuk pejalan kaki. Lalu mobil Otto adalah Ford (AS), sementara Ove adalah Saab (Swedia). Merk mobil jelas bukan masalah, hanya saja fanatisme Ove terhadap merk lokal terasa lebih menggigit. Sosok Malcolm adalah transgender sementara dalam Ove terdapat sosok Mirsad yang gay. Perbedaan ini jelas bukan masalah substansial buat kisahnya.

Baca Juga  F1 The Movie | REVIEW

Segmen kilas-balik adalah perbedaan yang terlihat paling dominan. Otto lebih sedikit menggunakan flashback ketimbang Ove. Namun Ove, mengisahkan banyak hal yang tidak disajikan dalam Otto. Otto serasa meringkas segmen kilas-baliknya. Ove menampilkan banyak hal tentang masa cilik Ove bersama sang ayah yang mencintai otomobil, hingga bagaimana ayahnya tewas mengenaskan. Ini penting untuk menguatkan trauma sosok Ove yang sulit untuk move-on. Lalu segmen bersama Sonja, disajikan lebih manis dan romantis ketika mereka pertama kali bertemu. Lalu momen liburan dan kecelakaan (serta pasca-kecelakaan) disajikan lebih detil dan menggugah, di mana ini krusial untuk memperlihatkan ikatan batin yang begitu kuat di antara kedua sejoli ini. Tanpa Sonja dalam hidupnya, Ove kehilangan gairah hidup. Sikap Ove yang juga sulit move-on, menjadi penegas mengapa ia ingin segera mengakhirir hidupnya.

Lalu si kucing tak benama. Walau terlihat sepele, namun keberadaan si kucing dalam beberapa adegannya membuat sentuhan dramatik yang berbeda. Sewaktu Otto berkeliling perumahan bersama Malcolm dan Jimmy, tidak terlihat si kucing bersama mereka. Namun dalam Ove, si kucing ikut berjalan-jalan bersama mereka. Ini jelas memberikan efek yang berbeda dengan menguatkan ikatan batin sang kucing bersama majikan barunya. Sang kucing juga beberapa kali dibawa Ove ke makam istrinya, sementara dalam Otto terlihat hanya sekali saja. Satu yang paling berkesan mendalam adalah ketika sang protagonis meninggal dalam ranjangnya. Berbeda dengan Otto, dalam Ove, sang kucing duduk di atas perut majikannya sambil menatap tuannya yang telah tiada. Untuk urusan si kucing, Ove jelas adalah pemenangnya. Banyak lagi detil lainnya yang terlalu panjang jika diulas secara keseluruhan.

A Man Called Otto sama sekali tidak buruk, hanya saja film orisinalnya (A Man Called Ove) jauh lebih superior dari semua aspeknya. Bagi penonton yang belum menonton Ove, pasti lebih menikmati Otto dengan nyaman. Otto dengan Tom Hanks-nya sudah cukup menjadi jaminan kualitas filmnya. Walau beberapa detilnya berbeda, namun Otto masih mampu menyampaikan esensi pesannya dengan baik. Ketika lampu bioskop menyala, kebetulan nyaris full house ketika saya menonton, di sana-sini masih terdengar isak tangis penonton, dan selama beberapa menit, belum ada satu pun penonton yang beranjak dari kursinya. Otto adalah sebuah film hiburan wajib yang sarat pesan kehidupan, namun jika kamu ingin lebih, tontonlah film aslinya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
SUMBERHimawan Pratista
Artikel SebelumnyaThe Glory
Artikel BerikutnyaMy Father’s Dragon dan Sekelumit Tentang Animasi Irlandia
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses