A Quiet Place (2018)

90 min|Drama, Horror, Sci-Fi|06 Apr 2018
7.5Rating: 7.5 / 10 from 581,699 usersMetascore: 82
A family struggles for survival in a world where most humans have been killed by blind but noise-sensitive creatures. They are forced to communicate in sign language to keep the creatures at bay.

Watch our video review in english below.

     Apa jadinya jika manusia tidak boleh mengeluarkan bunyi walau hanya sekecil apa pun karena nyawa bakal jadi taruhannya? Premis ini menjadi konsep dasar film horor (dan fiksi ilmiah?) A Quiet Place garapan John Krasinski yang sekaligus juga bermain sebagai tokoh utama. Kransinski sebelumnya lebih kita kenal sebagai seorang aktor ketimbang sutradara, dan uniknya pula, istrinya, yakni Emily Blunt juga bermain sebagai tokoh utama bersamanya sebagai sepasang suami istri. Boleh jadi, karir sutradaranya setelah ini bakal mengkilap karena kemampuannya mengemas film ini begitu unik dan segar.

     Dikisahkan umat bumi berada diambang kepunahan karena monster-monster yang entah darimana datangnya membantai dan menghabisi umat manusia. Uniknya, monster ini super sensitif pada suara sehingga ia akan memburu apapun yang mengeluarkan suara. Lee dan istrinya, Evelyn yang tengah hamil tua, beserta putra dan putrinya adalah sedikit dari keluarga yang selamat dan tersisa di satu kota kecil di wilayah pedesaan. Kisah hanya terfokus pada bagaimana keseharian mereka hidup dalam kesunyian, serta bertahan hidup dari para monster “pemburu suara” yang sewaktu-waktu dapat mengancam.

     Sejak sekuen pembuka, premis filmnya telah digambarkan dan dijelaskan dengan sangat baik. Walau dalam perkembangan, kita hanya mendapat sekilas info tentang bencana global ini, dan tak jelas bagaimana, dari mana, kapan, dan mengapa, monster-monster ini bisa ada di bumi dan membantai manusia. Masalah dan konflik filmnya memang bukan di sini, namun kita hanya mendapat penggalan plot kecil dari kisah besarnya, yakni bagaimana Lee dan keluarganya bertahan hidup. Hanya ini. Sepanjang film, layaknya menonton film bisu berjalan nyaris tanpa dialog (kalau ada pun hanya saling berbisik) serta hanya berisi suara efek dan ilustrasi musik. Pengalaman menontonnya, mirip seperti The Artist, dengan berjalannya waktu memang terasa agak melelahkan karena kita tidak terbiasa menonton di bioskop dengan film tanpa banyak dialog seperti ini. Film baru terasa menggigit sejak paruh kedua karena aksi yang cukup menegangkan mulai dominan. Unik memang, namun terasa masih ada sesuatu yang janggal.

Baca Juga  Spiderhead

     Ide serta premis cerita serta kemasan estetiknya yang sunyi memang menjadikan film ini begitu unik. Namun, beberapa hal khususnya dari sisi cerita, sedikit banyak menimbulkan pertanyaan. Okelah, kita abaikan saja latar belakang monster pemburu suara tersebut, namun sejak awal beberapa hal memang amat mengganjal. Satu hal kecil misalnya, jika memang kota kecil ini sudah mati dan tak berpenghuni, dari mana mereka bisa mendapatkan listrik? Genset yang bersuara demikian gaduh dan membutuh bahan bakar jelas bukan solusi. Listrik atau lebih tepatnya penggunaan lampu adalah salah satu kunci pendukung filmnya, setidaknya ini bisa dijelaskan secara logis. Hal-hal kecil macam ini banyak terdapat dalam kisahnya, termasuk solusi di-ending (jelas satu hal yang amat mustahil tidak terpikirkan manusia seisi bumi), ini yang membuat entah mengapa terasa ada jarak antara saya dan kisah filmnya.

     Dengan ide segar serta premis menarik, A Quiet Place menggunakan kesunyian sebagai kekuatan sinematiknya, namun faktor ini pula yang menjadi sisi lemah naratifnya. Tak dipungkiri, sang sineas mampu mengemas filmnya dan membangun suasana senyap dengan sangat baik dan konsisten sepanjang filmnya. Uniknya, Regan, sang putri yang dikisahkan tuna rungu, benar-benar diperankan oleh aktris tuli Millicent Simmonds yang memang bermain sangat baik dalam filmnya. A Quiet Place bisa jadi menyimpan satu pesan sederhana terhadap umat manusia yang jumlahnya kini sudah terlalu padat dengan segala polahnya yang rakus dan serakah menjadikan beban bumi menjadi lebih berat. Keluarga memang menjadi pondasi sekaligus benteng terakhir yang mampu mengangkat manusia untuk tidak berada dalam satu level dengan monster dalam film ini.

Silahkan baca pula artikel lepasnya:

A Quite Place: Indahnya Kesunyian dan Nalar yang Terabaikan

WATCH OUR REVIEW

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaBlack Panther Bakal Tenggelamkan Titanic!
Artikel BerikutnyaMenanti Avengers: Infinity War
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.