A Simple Favor (2018)
117 min|Comedy, Crime, Mystery|14 Sep 2018
6.8Rating: 6.8 / 10 from 161,789 usersMetascore: 67
Stephanie is a single mother with a parenting vlog who befriends Emily, a secretive upper-class woman who has a child at the same elementary school. When Emily goes missing, Stephanie takes it upon herself to investigate.

A Simple Favor adalah film drama misteri garapan Paul Feig yang kita kenal menggarap film-film komedi “perempuan” populer, macam The Heat, Spy, Bridesmaids, dan Ghosbuster. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Darcey Bell. Film ini dibintangi dua aktris papan atas, Anne Kendrick, Blake Lively, serta Henry Golding. Trailer-nya telah menampilkan alur kisahnya yang mirip dengan Searching, yang baru saja rilis beberapa waktu lalu. Apakah filmnya bakal lebih baik dari Searching?

Stephanie adalah vlogger sekaligus janda muda yang memiliki satu putra di sebuah kota kecil di wilayah pinggiran kota. Suatu ketika, ia bertemu dengan Emily, ibu dari teman bermain putranya di sekolah. Stephanie amat mengagumi sosok Emily yang amat cantik, berkelas, cuek, dan bekerja di perusahaan fashion ternama di kota. Mereka berdua dengan cepat saling akrab dan menjadi sahabat. Suatu hari, Emily meminta Stephanie untuk menjemput putranya, namun setelahnya ia menghilang tanpa jejak. Sean, suami Emily menghubungi pihak berwenang, dan setelahnya, situasi berkembang semakin rumit.

Babak pertama kisahnya berjalan dengan tempo sedang dan ringan mengenalkan sosok Stephanie dan Emily. Satu teknik bertutur yang dominan dalam film ini adalah teknik kilas balik. Sejak pembuka filmnya untuk menggambarkan latar belakang cerita dan sosoknya, film ini telah menggunakan teknik kilas balik, dan bahkan segmen kilas baliknya pun kadang ada kilas baliknya. Menarik bukan? Uniknya pula, kilas balik ini kadang tidak hanya menggambarkan satu aksi dan peristiwa, namun juga kilasan memori sang tokoh. Alur plotnya bisa mengarahkan penonton ke beragam asumsi, namun kilas balik selalu jujur dan bisa kita pegang faktanya.

Sejak sosok Emily menghilang, kisahnya berjalan lebih menarik. Unsur misteri bisa terjaga begitu lama dan selalu mengusik rasa penasaran, adegan demi adegannya. Aksi investigasi yang dilakukan Stephanie berjalan menarik walau kadang terasa terlalu cepat. Tidak hingga pertengahan cerita, ketika sebuah rahasia besar terungkap, kisahnya mulai menurun sisi misterinya, namun justru meningkat sisi ketegangannya (bahkan horor). Penonton sulit untuk menebak arah kisahnya karena semua pihak bisa saja menjadi antagonis, tak ada yang bisa kita percaya, termasuk Stephanie sekalipun.

Baca Juga  Emancipation

Banyak hal tak bisa dijelaskan karena terlalu banyak intrik. Plot twist demi plot twist muncul hingga klimaks. Ini yang membuat filmnya sedikit kehilangan arah dan pegangan karena semuanya serba mungkin. Plot berjalan terlalu cepat dan latar sebuah aksi tak mudah dicerna. No spoiler. Jika skema filmnya berjalan A, mengapa harus ini dan itu? Jika skema B, mengapa harus begini dan begitu? Banyak sosok yang tampak bakal terlibat lebih, namun tak digambarkan banyak, seperti bos Emily dan asisten Sean di kampus. Kilas balik yang bertutur “jujur” juga tak banyak membantu.

Kekuatan film ini jelas pada dua kasting utamanya, Lively dan Kendrick. Mereka berdua tampil luar biasa istimewa. Mereka berdua memiliki chemistry yang unik dan kuat, walau sifat mereka berlawanan. Lively yang tampil begitu anggun dan cantik, dominan pada tiap kemunculannya, serta mengintimidasi semua lawan bicaranya. Sementara Kendrick, walau bermain tipikal perannya dalam film-film lainnya, ia tampil memikat dengan pesona kepolosan dan keceriaannya. Kemampuannya berjoget dan olah vokal pun tak luput dalam beberapa adegannya. Sementara beberapa kasting lain yang mencuri perhatian, seperti Henry Goulding (Sean), Bashir Salahuddin (detektif), termasuk si cilik Ian Ho (Nicky) yang bermain sangat baik.

A Simple Favor, didukung penampilan memukau dua bintang utamanya serta sisi misteri yang kuat dan penuturan kilas balik yang unik, namun plot twist yang berlebihan justru menciderai sepertiga akhir kisahnya. Walau punya potensi sebagai drama thriller bahkan horor berkualitas tinggi, namun setidaknya film ini terasa segar melalui penuturan uniknya. Film ini setidaknya sangat menghibur dan bakal memberikan kepuasan tersendiri bagi para penikmat film thriller dan para fans dua bintang utamanya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaTengkorak
Artikel BerikutnyaHunter Killer
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.