A Simple Favor (2018)
117 min|Comedy, Crime, Drama, Mystery, Thriller|14 Sep 2018
7.1Rating: 7.1 / 10 from 24,708 usersMetascore: 67
Stephanie is a single mother with a parenting vlog who befriends Emily, a secretive upper-class woman who has a child at the same elementary school. When Emily goes missing, Stephanie takes it upon herself to investigate.

A Simple Favor adalah film drama misteri garapan Paul Feig yang kita kenal menggarap film-film komedi “perempuan” populer, macam The Heat, Spy, Bridesmaids, dan Ghosbuster. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Darcey Bell. Film ini dibintangi dua aktris papan atas, Anne Kendrick, Blake Lively, serta Henry Golding. Trailer-nya telah menampilkan alur kisahnya yang mirip dengan Searching, yang baru saja rilis beberapa waktu lalu. Apakah filmnya bakal lebih baik dari Searching?

Stephanie adalah vlogger sekaligus janda muda yang memiliki satu putra di sebuah kota kecil di wilayah pinggiran kota. Suatu ketika, ia bertemu dengan Emily, ibu dari teman bermain putranya di sekolah. Stephanie amat mengagumi sosok Emily yang amat cantik, berkelas, cuek, dan bekerja di perusahaan fashion ternama di kota. Mereka berdua dengan cepat saling akrab dan menjadi sahabat. Suatu hari, Emily meminta Stephanie untuk menjemput putranya, namun setelahnya ia menghilang tanpa jejak. Sean, suami Emily menghubungi pihak berwenang, dan setelahnya, situasi berkembang semakin rumit.

Babak pertama kisahnya berjalan dengan tempo sedang dan ringan mengenalkan sosok Stephanie dan Emily. Satu teknik bertutur yang dominan dalam film ini adalah teknik kilas balik. Sejak pembuka filmnya untuk menggambarkan latar belakang cerita dan sosoknya, film ini telah menggunakan teknik kilas balik, dan bahkan segmen kilas baliknya pun kadang ada kilas baliknya. Menarik bukan? Uniknya pula, kilas balik ini kadang tidak hanya menggambarkan satu aksi dan peristiwa, namun juga kilasan memori sang tokoh. Alur plotnya bisa mengarahkan penonton ke beragam asumsi, namun kilas balik selalu jujur dan bisa kita pegang faktanya.

Sejak sosok Emily menghilang, kisahnya berjalan lebih menarik. Unsur misteri bisa terjaga begitu lama dan selalu mengusik rasa penasaran, adegan demi adegannya. Aksi investigasi yang dilakukan Stephanie berjalan menarik walau kadang terasa terlalu cepat. Tidak hingga pertengahan cerita, ketika sebuah rahasia besar terungkap, kisahnya mulai menurun sisi misterinya, namun justru meningkat sisi ketegangannya (bahkan horor). Penonton sulit untuk menebak arah kisahnya karena semua pihak bisa saja menjadi antagonis, tak ada yang bisa kita percaya, termasuk Stephanie sekalipun.

Baca Juga  Journey to the Center of the Earth, Bukan untuk Tontonan Non 3-D

Banyak hal tak bisa dijelaskan karena terlalu banyak intrik. Plot twist demi plot twist muncul hingga klimaks. Ini yang membuat filmnya sedikit kehilangan arah dan pegangan karena semuanya serba mungkin. Plot berjalan terlalu cepat dan latar sebuah aksi tak mudah dicerna. No spoiler. Jika skema filmnya berjalan A, mengapa harus ini dan itu? Jika skema B, mengapa harus begini dan begitu? Banyak sosok yang tampak bakal terlibat lebih, namun tak digambarkan banyak, seperti bos Emily dan asisten Sean di kampus. Kilas balik yang bertutur “jujur” juga tak banyak membantu.

Kekuatan film ini jelas pada dua kasting utamanya, Lively dan Kendrick. Mereka berdua tampil luar biasa istimewa. Mereka berdua memiliki chemistry yang unik dan kuat, walau sifat mereka berlawanan. Lively yang tampil begitu anggun dan cantik, dominan pada tiap kemunculannya, serta mengintimidasi semua lawan bicaranya. Sementara Kendrick, walau bermain tipikal perannya dalam film-film lainnya, ia tampil memikat dengan pesona kepolosan dan keceriaannya. Kemampuannya berjoget dan olah vokal pun tak luput dalam beberapa adegannya. Sementara beberapa kasting lain yang mencuri perhatian, seperti Henry Goulding (Sean), Bashir Salahuddin (detektif), termasuk si cilik Ian Ho (Nicky) yang bermain sangat baik.

A Simple Favor, didukung penampilan memukau dua bintang utamanya serta sisi misteri yang kuat dan penuturan kilas balik yang unik, namun plot twist yang berlebihan justru menciderai sepertiga akhir kisahnya. Walau punya potensi sebagai drama thriller bahkan horor berkualitas tinggi, namun setidaknya film ini terasa segar melalui penuturan uniknya. Film ini setidaknya sangat menghibur dan bakal memberikan kepuasan tersendiri bagi para penikmat film thriller dan para fans dua bintang utamanya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaTengkorak
Artikel BerikutnyaHunter Killer
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini