A Wrinkle in Time (2018)

109 min|Adventure, Drama, Family|09 Mar 2018
4.3Rating: 4.3 / 10 from 47,773 usersMetascore: 53
After the disappearance of her scientist father, three peculiar beings send Meg, her brother, and her friend to space in order to find him.

     Sejak muncul trailer film ini, saya sudah tidak terkesan dengan tampilan visual filmnya. Tak disangka, ketika menonton filmnya, ternyata justru jauh lebih buruk dari apa yang saya bayangkan. Sudah terlalu banyak film fantasi sejenis ini untuk target penontonnya, seperti yang populer seri Narnia, Bridge to Terabithia, The BFG, serta A Monster Calls. Film-film ini lazimnya memiliki pesan yang sederhana walau kadang cara bertuturnya tak bisa dibilang ringan. A Wrinkle in Time diadaptasi dari novel berjudul sama karya Madeleine L’Engle yang diterbitkan tahun 1962. Film ini diarahkan oleh Ava DuVernay yang tercatat sebagai sineas perempuan kulit hitam pertama yang mengarahkan film berbujet US$ 100 juta. Iya, lagi-lagi film ini dari sisi proyek filmnya, mengusung tema perempuan dan keberagaman ras. Isu yang tengah panas di tengah gelombang sukses Black Panther. Saya tak akan singgung isu ini karena memang masalah filmnya bukan di sini.

     Beberapa menit film berlalu, di pikiran saya yang melintas hanyalah untuk siapa target filmnya? Melihat tokoh utamanya jelas film ini ditargetkan untuk anak-anak seumuran karakter dalam filmnya. Inti kisahnya sendiri sebenarnya sederhana. Suasana keluarga Murry berubah sepeninggal ayah mereka 4 tahun lalu yang hilang secara misterius di ruang kerjanya. Meg yang pintar fisika bersama sang ibu beranggapan bahwa ayah mereka pergi ke dimensi lain karena ia berhasil memecahkan rahasia eksistensi alam semesta. Suatu ketika, tiga wanita misterius datang ke rumah, dan mengajak mereka ke dimensi lain untuk mencari ayah mereka. Seperti diduga, misi tersebut ternyata tidak hanya untuk mencari sang ayah, namun juga menyelamatkan umat manusia dari kekuatan kegelapan. “Sederhana” bukan?

Baca Juga  Body Brokers

     Alur kisahnya amat sangat absurd untuk anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun. Film ini mencoba memadukan konsep ilmiah dan religius sekaligus untuk mencari jawaban dari masalahnya. Satu hal yang sederhana disajikan begitu rumit, dengan disisipi dialog-dialog bijak tentang eksistensi kehidupan serta tingkat kesadaran pikiran manusia yang tak mungkin bisa dimengerti banyak orang. Why so serious? Saya tak tahu apa novelnya seperti ini yang jelas semuanya serba tak masuk akal. Banyak sesuatu yang hilang di cerita filmnya yang sama sekali tak dijelaskan. Semua karakternya terasa asing dan sulit untuk bisa masuk ke mereka. Mengapa hanya untuk menyampaikan sesuatu yang sangat sederhana, begitu sulit dan rumit mengemasnya.

     A Wrinkle in Time merupakan film fantasi absurd untuk target genrenya yang amat buruk nyaris segala sisinya. Dengan konsepnya, film ini juga tak mampu memberikan pencapaian yang baik, dari sisi kasting maupun pencapaian visualnya yang sangat berlebihan. Amat sangat mengherankan, Walt Disney sudah sangat berpengalaman dengan tema-tema seperti ini, terlebih anak-anak, mengapa tidak mencari solusi yang lebih sesuai untuk target genrenya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaGame Night
Artikel BerikutnyaTrailer Terbaru Avengers: Infinity War
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.