Perlu ide cerita yang menarik untuk dapat menghadirkan kembali sekuel film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) setelah sekian lama melegenda. Kesuksesan dan popularitas film pertama membuat penonton mempunyai harapan besar untuk dapat terpuaskan melalui film romantis ini. Sekarang, baik penonton maupun pemerannya sudah berusia dewasa sehingga masalah yang dikisahkan tidak lagi bersegmen remaja. Cinta dan Rangga pun harus menyelesaikan masalah mereka dengan cara dewasa.

Cinta, Karmen, Milly, dan Maura memutuskan berlibur ke Jogja untuk menikmati kebersamaan dan persahabatan mereka. Sementara Alya dikisahkan telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Setelah sembilan tahun Rangga memutuskan hubungan dengan Cinta tanpa penjelasan apapun, akhirnya Rangga memiliki kesempatan untuk menemui Cinta. Sayangnya, Cinta sudah memiliki kekasih baru dan telah menerima lamaran untuk segera menikah. Pertemuan selama satu hari di Jogja membuat keduanya kembali mempertanyakan cinta mereka.

Kisah film ini sangat sederhana dan mudah untuk diikuti. Penjelasan masalah digambarkan dengan rapi sehingga tidak terasa adanya lompatan yang jauh dari film pertama dengan sekuelnya ini. Film ini menyuguhkan detail-detail yang menarik yang mampu memperdalam karakter para tokoh dan ceritanya. Bagaimana konflik batin seorang laki-laki dengan dirinya sendiri, kebimbangan perempuan terhadap cinta dan hubungannya, serta sikap dan gesture dua tokoh utama yang sangat merepresentasikan laki-laki dan perempuan dewasa. Banyak shot yang memperjelas makna yang disampaikan, ditampilkan dengan tidak berlebihan sehingga memberikan efek yang mendalam. Ditambah lagi dengan guyonan yang memberikan unsur komedi sehingga film tidak terasa membosankan. Meskipun pada segmen awal tampak meragukan dengan dialog dan adegan yang tampak garing seperti film-film kita kebanyakan namun pada bagian selanjutnya penonton akan dibawa terhanyut dalam gaya film yang kuat dengan sentuhan sastra dan seni.

Baca Juga  Ayat-Ayat Cinta 2

Para pemeran memang tidak lagi berusia belia seperti dalam film AADC. Namun harus diakui bahwa kemampuan akting mereka kini semakin mapan sehingga amat mendukung kualitas cerita dan film secara keseluruhan. Akting yang natural dan intonasi suara dalam dialog-dialog yang dituturkan tampak sangat layak dinikmati. Lima pemain utama ini patut diacungi jempol tidak seperti film-film kita belakangan yang memaksakan penonton untuk menikmati selebriti tanpa kemampuan akting yang mumpuni. Akting mereka membuat film drama roman kita menjadi berharga untuk dinikmati adegan demi adegannya.

Film drama romantis tidak lengkap jika tidak mengambil setting yang romantis. Film AADC 2 seolah ingin membuktikan bahwa ungkapan ‘setiap sudut kota Jogja itu romantis’ adalah benar. Tidak seperti film-film kita yang belakangan banyak memanfaat keindahaan kota dan alam baik di luar maupun dalam negeri, AADC 2 memanfaatkan keindahan Kota Jogja dengan cara yang lebih berkelas. Lokasi-lokasi yang dipilih pun tidak terlalu mainstream (populer) sehingga penonton tidak diberikan suguhan yang membosankan. Dari sisi musik, meskipun tidak mampu menyaingi lagu OST film terdahulu yang memberikan kesan dan pengaruh yang kuat, lagu-lagu dalam AADC 2 cukup menjaga mood sepanjang film.

Sedikit banyak, adegan dan dialog mengingatkan penulis pada trilogi film Before Sunrise sehingga muncul ketakutan akan hilangnya ekspektasi terhadap orisinalitas yang telah hadir hingga tiga perempat film namun nyatanya tidak. Mengulang performa AADC yang membayar kerinduan masyarakat akan film Indonesia yang berkualitas kala itu, kehadiran AADC 2 juga menghilangkan dahaga penonton akan film-film kita yang jenuh dengan kelatahan produksi yang seragam.

(Baca ulasan Ada Apa dengan Cinta?: https://montasefilm.com/ada-apa-dengan-cinta/)

WATCH TRAILER

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini