Ajin: Demi-Human (2017)

109 min|Action, Horror, Mystery|30 Sep 2017
7.0Rating: 7.0 / 10 from 198 usersMetascore: N/A
A high school student discovers he is an Ajin, a demi-human being. He ends up a fugitive on the run because of his powers.

Jepang adalah negara yang terkenal orang-orang yang memiliki ide gemilang dalam pembuatan anime atau manga. Memanfaatkan budaya, sejarah, bahkan mitos yang ada di sekitar dan mengubahnya menjadi ide cerita yang unik. Banyak sekali manga atau anime Jepang yang mengangkat kisah tentang eksistensi suatu makhluk hidup. Film adaptasi serupa yang bercerita tentang konflik antar manusia dan non-manusia sudah banyak diproduksi, seperti halnya Ghost in the Shell, Tokyo Ghoul, Parasyte, Attack on Titan, Jojo’s Bizzare Adventure, dan masih banyak lagi. Ajin: Demi-Human hanya salah satu diantara banyak adaptasi yang mencoba memberi efek berbeda dengan penyajian secara nyata, atau disebut juga live action.

Ajin: Demi-Human adalah film fiksi Jepang yang disutradarai oleh Katsuyuki Motohiro, film ini diadaptasi dari serial manga “Ajin” karya Gamon Sakurai. Dibintangi oleh sederet aktor kenamaan Jepang, antara lain: Takeru Satoh, Gou Ayano, Yuu Shirota, Tetsuji Tamayama, Rina Kawaei, dan Minami Hamabe.

Ajin adalah sosok manusia abadi, mereka kebal terhadap kematian. Hal tersebut menjadi perhatian publik di seluruh dunia. Berkedok fasilitas penelitian terhadap Ajin, pemerintah Jepang melakukan eksperimen keji terhadap para Ajin. Salah satu korbannya adalah Kei Nagai (Takeru Satoh) yang mengalami kecelakaan, namun ternyata tubuhnya pulih dan dia kembali hidup. Sato (Gou Ayano) merupakan Ajin dan juga teroris, ia membebaskan Kei dari penyiksaan, namun Kei menolak bergabung dengan Sato yang berencana melakukan pembunuhan masal terhadap manusia.

Teror kelompok pro-Ajin di Jepang dan upaya pemerintah menangani serangkaian serangan tersebut menjadi menu utama film ini. Film didominasi oleh adegan aksi yang cukup melelahkan, dibantu dengan CGI yang ala kadarnya. Manusia abadi yang tidak bisa mati terdengar seperti karakter dalam Blade of Immortal, namun efek realitas adegannya masih kalah jauh dibanding film tersebut. Meskipun begitu, adegan aksinya cukup menarik karena selain menjadi abadi, para Ajin juga mampu memunculkan sosok makhluk pelindung yang disebut IBM (Invisible Black Matter) yang hanya bisa dilihat oleh sesama Ajin. Aksi co-op battle antar Ajin dan IBM menjadi salah satu aksi yang menghibur.

Baca Juga  Kuroko’s Basketball: Last Game

Film ini hanya terfokus pada bagaimana Kei Nagai menyesuaikan dirinya sebagai seorang Ajin, lalu berjuang untuk melawan Sato dan komplotannya. Dua tokoh ini mendapat sebagian besar porsi film. Karena terlalu fokus pada kedua tokoh utama protagonis dan antagonis, film ini lalu mengabaikan emosi karakter pendukungnya. Semua berlalu begitu saja tanpa bekas, tak ada chemistry dan emosi terhadap karakternya. Contoh ketika ada seorang nenek baik hati yang menampung Kei dan adiknya meski tahu bahwa Kei seorang Ajin, kemudian mereka ketahuan dan diusir warga. Saat hendak pergi harusnya menjadi momen yang mengharukan, namun nyatanya tidak. Momen perpisahan tersebut sangat tidak menyentuh, seolah karakter tersebut tak lebih sekedar batu loncatan tokoh utama dalam film.

Dalam film ini, Kei Nagano diceritakan sebagai seseorang yang dingin terhadap orang-orang di sekelilingnya. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan sang adik, Eriko. Sangat perhitungan dalam bertindak serta memikirkan segala konsekuensi yang akan diterimanya. Takeru Satoh bermain dengan baik membawakan karakter tersebut. Dan yang paling menonjol dalam film ini adalah akting Gou Ayano. Ia sangat cocok membawakan karakter Sato yang terlihat innocent, namun cerdik dan sadis, sangat menikmati tindak kekerasan pada manusia seperti halnya psikopat.

Tak ada sesuatu yang istimewa dari adaptasi Ajin: Demi-Human selain mencoba membawakan cerita orisinilnya ke dalam versi live action. Film ini hanya menyuguhkan aksi semata tanpa mencoba untuk menggali lebih dalam cerita serta emosinya. Meskipun begitu penampilan aksi kedua tokoh utamanya menjadi sampul untuk menutupi kekurangan film ini.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaInsidious: The Last Key
Artikel BerikutnyaAlong with the Gods: The Two Worlds
Luluk Ulhasanah
Luluk Ulhasanah atau lebih akrab dipanggil EL, lahir di Temanggung 6 September 1996. Sejak kecil sudah suka menonton film. Minatnya pada film membuat ia bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2016 dan mulai beberapa kali terlibat produksi film pendek, dan aktif menulis review film, khususnya film Asia. Pada bulan Desember 2017, ia menjadi juri mahasiswa dalam ajang festival film internasional, Jogja Asian Film Festival (JAFF Netpac) 2017. Kini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Website untuk periode 2018-2019. Selain itu ia juga aktif dalam komunitas dance di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini