Death Race (2008)

105 min|Action, Sci-Fi, Thriller|22 Aug 2008
6.4Rating: 6.4 / 10 from 219,706 usersMetascore: 43
Ex-con Jensen Ames is forced by the warden of a notorious prison to compete in our post-industrial world's most popular sport: a car race in which inmates must brutalize and kill one another on the road to victory.

Pada era 50 dan 60-an produser dan sineas Roger Corman dikenal melalui film-film horor serta aksi kelas B-nya hingga ia dijuluki “King of B-Movies”. Kini Corman kembali sebagai produser memproduksi Death Race (2008), yang diinspirasi dari film yang juga produksinya, Death Race 2000 (1975). Film ini diarahkan oleh Paul W.S. Anderson yang sebelumnya mengarahkan film-film “video game” populer seperti, Alien vs Predator (2004), Resident Evil (2002), hingga Mortal Kombat (1995). Film ini dibintangi aktor laga, Jason Statham, serta beberapa nama tenar, seperti Tyrese Gibson, Joan Allen, serta Ian McShane.

Cerita berlatar tahun 2012 dimana Amerika mengalami krisis ekonomi besar-besaran. Pengangguran melimpah dan menurunnya moral secara massal menyebabkan angka kriminalitas semakin tinggi. Masyarakat semakin haus akan hiburan dan lomba balap mobil brutal bernama Death Race menjadi jawabnya. Death Race digelar di sebuah penjara sekuriti maksimum, Terminal Island, dimana para napinya sendiri yang menjadi para pembalapnya. Seorang mantan juara balap, Jensen Ames (Statham) dijebak (membunuh istrinya) hingga ia masuk ke dalam penjara dan dipaksa oleh kepala sipir, Hannesey (Allen) untuk ikut dalam lomba maut tersebut. Tanpa banyak pilihan Ames harus berjuang keras mengalahkan para pembalap lain untuk memperjuangkan kebebasannya dan bertemu kembali dengan putrinya.

Dari judulnya, Death Race, sepertinya mengisyaratkan sebuah remake, namun plotnya rupanya berbeda jauh dengan film aslinya (Death Race 2000) yang juga jauh lebih brutal. Death Race hanya mengambil lokasi balapan di tempat yang sama dan untuk menjadi pemenang pembalap diperbolehkan (namun tidak harus) untuk membunuh lawan-lawan mereka. Sementara Death Race 2000 merupakan balapan lintas wilayah dan pemenangnya adalah siapa yang lebih dulu mencapai finis dan berhasil meraih poin terbanyak. Poin dihitung dari jumlah manusia (warga sipil) yang mereka tabrak hingga tewas! Satu-satunya kesamaan cerita adalah nama-nama tokoh utamanya, yakni Frankenstein dan Machine Gun Joe yang dulu diperankan David Carradine dan Silvester Stallone.

Death Race rupanya masih memiliki jiwa film-film “B-Movies” era silam dengan hanya mengandalkan aksi-aksi fisik tanpa menyajikan cerita yang bermutu. Satu hal yang begitu terasa adalah tempo plotnya yang cepat dengan adegan-adegan aksi keras dan brutal nyaris tanpa henti (sekitar 75% durasi filmnya adalah adegan aksi). Adegan balapnya sendiri padahal tercatat hanya empat sekuen saja, yakni pada pembuka film, balapan tahap satu, tahap dua, dan tahap tiga. Kita bahkan baru mendapatkan informasi rinci tentang aturan teknis lomba pada saat balapan berlangsung. Hal ini justru sangat efektif memberikan efek kejutan bagi para penonton.

Baca Juga  Black Panther: Wakanda Forever

Satu hal yang menjadi daya tarik film ini jelas adalah aksi balapnya yang orisinil tanpa efek visual. Sejak seri Mad Max sepertinya belum ada aksi kejar-mengejar mobil sejenis yang mampu menandingi, dan Death Race inilah tandingannya. Aksi balapannya menyajikan mobil-mobil modifikasi berlapis baja, lengkap dengan senjata mesin serta roket peluncur yang menjadi jaminan sebuah adegan aksi yang sangat menghibur. Nuansa video game begitu kental dalam aksi balapnya. Coba perhatikan, dalam setiap lap setiap pembalap dapat memilih untuk menyerang atau bertahan dengan melintasi sebuah “tombol” bersimbol pedang atau perisai. Simbol pedang mengaktifkan senapan mesin, sementara simbol perisai mengaktifkan asap atau oli. Dalam balapan tahap dua, Ames dan Joe harus berhadapan dengan “boss” raksasa, yakni sebuah truk besar dengan persenjataan ekstra lengkap. “Now that’s entertaiment”, mengutip kata-kata Coach.

Selain aksi balapnya bisa dibilang tidak ada yang menonjol dalam filmnya. Setting lokasi balapan di areal gudang dan pabrik (seperti suasana pelabuhan) memang cocok dengan jenis balapannya namun sayang tidak ada alternatif trek balap lainnya. Hal yang sama juga tampak pada para kastingnya. Jason Statham sepertinya telah terjebak dalam peran sebagai seorang pengemudi handal seperti sebelumnya dalam The Italian Job serta seri The Transporter. Setelah Fast & Furious 2 dan Death Race, bisa jadi Gibson pun menyusul Statham. Sementara Joan Allen bermain dingin, Ian McShane mampu mencuri perhatian (telinga) dengan suara serak yang khas sebagai Coach, sang mekanik.

Sebelum menonton sepertinya tidak banyak yang diharapkan dari filmnya (sudah tampak dari judulnya). namun ternyata Death Race tidak seburuk yang dibayangkan. Jika anda mencari film aksi yang sarat dengan aksi tembak-menembak atau aksi kejar-mengejar mobil yang sangat seru, Death Race adalah jawabnya. Film ini mampu mengkombinasi dua jenis aksi tersebut dengan prima dan menyajikan sebuah tontonan yang menghibur. Unsur dramatik (cerita yang bermutu) memang bukan menu utama dan secara kualitas film ini juga masih dibawah film aslinya (Death Race 2000). Don’t bother… Let the race begin and enjoy the show!
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaHellboy II: The Golden Army
Artikel BerikutnyaBangkok Dangerous
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.