Film genre horor petualangan ini diarahkan oleh sutradara kondang, Jose Poernomo. Sang sineas kita kenal sebagai pelopor film horor modern dengan rekannya Rizal Mantovani memproduksi Jelangkung (2001), yang menjadi film horor fenomenal pada masanya. Selanjutnya, banyak film serupa yang mengekor kesuksesan Jelangkung. Jose hingga kini masih konsisten untuk membuat film horor. Beberapa film populer yang ia produksi setelahnya, sebut saja Pulau Hantu (2007), Rumah Kentang (2012), Jailangkung (2017), dan masik banyak lagi. Sang sineas juga dikenal menulis naskah serta menjadi penata kamera dalam film garapannya. Alas Pati merupakan kolaborasi kedua antara sang sineas dan aktris utamanya Nikita Willy yang sebelumnya bermain dalam Gasing Tengkorak (2017).

     Film ini sendiri bercerita tentang sekelompok mahasiswa yang melakukan perjalanan ke sebuah hutan yang terkenal angker bernama Alas Pati. Mereka adalah Raya (Nikita Willy), Dito (Jeff Smith), Vega (Stefhanie Zamora), Roy (Roy Sungkono), dan Jessy (Naomi Paulinda). Kelima pemuda dan pemudi itu merupakan seorang youtubers yang memuat konten tentang lokasi mistis dan bernuansa horor, yang diharapkan menaikkan jumlah subscribers mereka. Sesampainya di hutan keramat tersebut, mereka menemukan satu pekuburan yang aneh. Tak disangka, Jessy jatuh ketika hendak melihat sosok mayat di atas sebuah bangunan kayu yang mengakibatkan ia meninggal. Semuanya shock dan langsung pergi meninggalkan lokasi tersebut. Setelahnya, mereka semua mendapat gangguan aneh yang terus menghantui mereka.

      Segmen cerita dibagi menjadi dua lokasi utama. Lokasi pertama di Alas Pati, lalu yang kedua di rumah mereka masing-masing. Plot cerita memang lebih banyak berlokasi rumah, sedangkan lokasi di hutan lebih pada background cerita dan penyelesaian masalahnya. Beberapa hal yang patur dipertanyakan seperti dimensi jarak antara Alas Pati dan Jakarta yang tidak begitu jelas jaraknya, apakah jauh atau dekat. Kejanggalan terlihat karena interupsi waktu pada editing yang terkesan terlihat sangat dekat, padahal dari sisi geografis terlihat jauh dari ibu kota. Persoalan ini berimbas pada adegan selanjutnya yang agak janggal, dimana tak diperlihatkan adegan perjalanan pulang maupun pembicaraan mengenai Jessy yang mereka tinggal di hutan. Beberapa shot saja cukup untuk menjelaskan hal ini.

Baca Juga  A: Aku, Benci & Cinta

     Di segmen pertama, sang sineas agaknya ingin bernostalgia dengan Jelangkung melalui unsur petualangan dengan formasi pemain yang relatif sama. Barulah pada segmen kedua, sang sineas menggarap unsur horornya. Intensitas ketegangan terlihat pada tiap adegan, pasca kejadian di Alas Pati. Namun, adegan horor yang tanpa jeda itu cenderung melelahkan penonton. Adegan teror berlangsung dalam kondisi siang maupun malam berlokasi di rumah mereka masing-masing. Walaupun demikian, ada beberapa kejanggalan, contoh adegan di rumah Raya, yang bangunannya begitu besar seperti villa, hanya ada satu pekerja saja di sana. Begitu pula di rumah Dito dan Roy yang juga tak dijelaskan mengapa tak ada penghuni lain.

     Secara teknis film ini sudah terlihat mapan. Kelebihan film ini adalah mampu membangun suasana setting bernuansa horor dan kelam. Suasana hutan angker terlihat dari pencahayaan yang minim dan berkabut. Beberapa transisi, ketika Raya masuk dunia lain dan akhirnya kembali, masih terlihat kasar. Efek suara yang dibangun sudah mampu membuat bulu kuduk berdiri, terlebih pada suara yang muncul di perekam suara milik Dito. Begitu pula unsur musiknya yang sudah cukup baik mendukung adegan. Namun, dengan cerita yang biasa dan teknik horor yang cenderung berupa pengulangan, film ini masih banyak kelamahan. Walau demikian saya menduga, film ini akan booming di pasaran.

WATCH THE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaJames Mangold Garap Spin-off Star Wars: Boba Fett
Artikel BerikutnyaChris Hemsworth dan Tessa Thompson Reuni di Spin-off: Men in Black
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini