Warning: Artikel berisi spoiler!

Pertama kali diajak bapak dan ibu saya menonton bioskop ternyata adalah film Star Wars sewaktu masih kelas dua SD dulu, di Presiden Theater di areal kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Plot film jelas saya tidak fahami namun pertempuran pesawat angkasa, pertarungan ligth saber, dan Darth Vader adalah yang paling saya ingat hingga kini. Berjalannya waktu seiring dengan umur entah sudah berapa ratus kali saya tonton episode 4, 5, dan 6, saya baru menyadari film ini tidak hanya menampilkan aksi semata namun kisah drama keluarga yang sangat menyentuh. Konsep “Force” dan “Jedi” bahkan melampaui wilayah ranah fiksi ilmiah sendiri yang merupakan simbol kekuatan alam semesta dan Jedi sebagai “penjaga keseimbangan”. Vader bukan hanya sosok antagonis semata namun ia adalah pemberi keseimbangan pada semesta. Konsep yang sangat mengesankan untuk film fiksi ilmiah seperti ini di kala itu bahkan kini.

Episode 1, 2, dan 3, banyak dikritik pengamat dan fans walau sebenarnya kisahnya tidak jelek. Penggunaan CGI yang berlebihan yang saya pikir jadi masalah dalam tiga film ini bahkan untuk karakter Yoda sekalipun tampil digital. Tampilan filmnya jadi sangat artifisial. Ini yang sangat mengganggu diluar kesalahan kasting dan sedikit kelemahan lainnya. Setidaknya Lucas berniat menampilkan sesuatu yang baru dalam film ini, dan memberikan kepada kita konsep para Jedi dalam kondisi terbaik mereka. Mereka bisa bergerak sangat cepat, amat lincah, dan melompat sangat tinggi layaknya superhero yang terlihat dalam aksi pertarungan ligthsaber di tiga episode ini.

Episode ke-7 saat ini tengah rilis bahkan mendapat banyak pujian dari pengamat dan fans Star Wars di seluruh dunia. Namun sebagai fans berat Star Wars saya sangat kecewa dengan film ini. Ada beberapa alasan yang membuat mengapa sekuel ini begitu buruk.

1. Pengulangan Elemen Plot Trilogi Episode 4, 5, dan 6
Hal yang paling amat disayangkan dalam seri terbaru ini adalah penggunaan formula plot tiga trilogi awalnya. Seperti misalnya di segmen awal film nyaris mirip dengan New Hope, hanya bedanya BB-8 dulu adalah R2D2, Poe dulu adalah Leia, dan Kylo Ren dulu adalah Vader. Sampai adegan memasukkan pesan ke robot pun sama hanya kali ini peta. Pengulangan formula lawas ini jeleknya mampu mendeteksi inti perkembangan ceritanya dan ini jelas menghilangkan unsur ketegangan.

Saya tidak kaget ketika Kylo Ren ternyata adalah putra Han dan Leia, karena dari awal pun sudah ada dialog Lor San Tekka – Kylo Ren yang menyinggung asal usulnya (setidaknya kita tahu hanya Luke dan Leia yang merupakan keturunan Jedi terakhir). Kalau bukan putra Luke ya pasti Leia. Entah kalau ada Jedi lain yang saya tidak tahu di alam cerita baru ini tapi terbukti dugaan saya benar. Ini ternyata masih kisah drama keluarga yang sama polanya.

Informasi ini juga secara langsung bisa mendeteksi fakta penting lainnya, Han Solo dibunuh Kylo Ren. Banyak orang yang mengaku kaget dengan ini, saya sendiri heran, ini mudah sekali diprediksi. Bahkan dugaan semakin jelas ketika Han masuk ke ruangan besar nyaris mirip dengan Luke bertemu Vader di klimaks adegan Empire Strikes Back. Dari gelagat dan shot-nya saja kita sudah tahu jika Han pasti akan dibunuh anaknya. Sayang kebodohan ini bisa sempurna jika ada dialog, ”Join me to the dark side, Father”.

Adegan klimaks filmnya, menghancurkan “Death Star” yang jelas-jelas pengulangan formula New Hope dan Return of the Jedi sangat menganggu kenyamanan cerita karena seberapa seru aksi pertempuran di darat dan udara unsur ketegangan sama sekali nol. Memang secara visual sangat enak dilihat tapi untuk apa jika tidak ada unsur suspence. Hambar sekali seperti makan roti tawar tanpa isi.

2. Luke Menghilang?
Ketidakjelasan latar-belakang cerita memang membuat seribu pertanyaan muncul. Dijelaskan Luke menghilang karena kekecewaannya karena tidak mampu mendidik Ben (Kylo Ren) ke jalur yang lurus. Saking kecewanya hingga ia harus mencari kuil Jedi pertama untuk mengisolasi diri entah sudah berapa lama ia disana. Hal yang mengherankan adalah peta yang disembunyikan untuk mengetahui lokasi Luke. Untuk apa ia menghilang jika ia memberi info keberadaan lokasi dirinya? Mengapa harus susah-susah disimpan pada R2D2 dan Lor San Tekka? Jika The First Order (baca: kekuatan gelap) sudah eksis sekian lama tahu mengapa tidak mencari Luke sejak awal. Dan bagaimana pula The First Order tahu jika pemberontak mencari Luke? Mungkin ini memang tidak penting hanya sedikit mengganjal saja.

Baca Juga  The New Bond Girl Image

3. Topeng Kylo Ren
Ketika Kylo Ren membuka topengnya saya sudah membayangkan wajah buruk rupa penuh luka dan bermasalah dengan organ pernafasan atau penyakit semacam itulah. Nyatanya tidak dan ia tidak memakai topeng pun ternyata tidak menjadi masalah. Bisa jadi ia memakai topeng sebagai tribute untuk kakeknya yang menjadi idolanya yakni, Darth Vader. Di film jelas memang ada adegan dengan dialog, “Show me, grandfather, and I will finish what you started” di hadapan topeng kakeknya yang telah hancur. (Entah bagaimana topeng tersebut masih ada juga jadi pertanyaan besar setelah jasad plus kostum Anakin telah dibakar Luke di ending Return of the Jedi). Yang mengherankan, apa Luke (paman dan mantan guru) dan Leia (ibu) tidak memberi tahu jika kakeknya telah menyeberang ke sisi terang di penghujung hidupnya? Jelas tidak mungkin hal yang jelek-jelek tentang kakeknya dikisahkan oleh mereka.

4. Pertarungan Ligth Saber
Tampak sekali J.J. Abrams menginginkan semua konsep awal trilogi Star Wars hingga bahkan pertarungan ligthsaber-nya. Saya suka apa yang dilakukan Lucas pada Episode 1, 2, dan 3 karena memang seperti itulah faktanya. Mereka jelas punya kekuatan di atas manusia rata-rata. Memang tidak ada masalah dengan pertarungan pedang di episode 4, 5, dan 6 namun apa yang kurang di seri ketujuhnya? Sebagai Jedi yang memiliki kekuatan telekinesis ini yang kurang dimanfaatkan Abrams. Pertarungan Luke dan Vader sekali pun sederhana namun diwarnai benda-benda yang melayang untuk saling menyerang lawannya. Ini yang membuat unik dan berbeda. Kylo Ren hanya sekali menggunakannya secara mengesankan itu pun di sekuen awal. Bisa dimaklumi pertarungan begitu sederhana tanpa koreografi wah karena Rey dan Finn (yang memegang pedang) memang baru sekali itu menggunakan ligthsaber dan terlibat dalam pertarungan seperti itu.

5. Memorable Dialogue
May the force be with you. Star Wars memang dikenal dengan dialog-dialog yang memorable. Tidak ada yang istimewa dalam film ini. Karakter Maz berusaha menjelaskan konsep force pada Rey namun rasanya amat janggal dan memaksa, berbeda penjelaskan konsep yang sama ketika Yoda dengan Luke atau ketika Qui Gon menjelaskan pada Anakin cilik. Beberapa dialog memang banyak mengutip trilogi pertamanya tanpa efek yang berarti selain hiburan dan nostalgia semata. Satu-satunya dialog yang paling berkesan dan orisinil hanya satu menurut saya, “Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa sekuat dan setangguh Darth Vader” diucapkan Rey pada Kylo Ren.

6. Snoke: Antara Gollum dan Voldemort
Konsep antagonis Lord Sidious/Palpatine begitu pas dan elegan diperankan Ian McDiarmid. Sosoknya misterius dan tampak ia memiliki kekuatan gelap yang tidak terukur. Kini muncul Snoke, sosoknya secara kebetulan fisiknya mirip-mirip dengan dua antagonis di franchise populer lain, Gollum dan Voldemort, atau boleh dibilang kombinasi keduanya. Setelah banyak menghindari efek CGI dalam settingnya, mengapa tidak sekalian untuk tokoh penting ini? Agak aneh saja walau hanya hologram namun bisa dijamin aslinya kelak pasti karakter CGI. Karakter ini samekali tidak memiliki karisma yang menakutkan walau fisiknya sebagai sosok hologram sebesar raksasa. Nuansa Gollum malah lebih terasa karena kebetulan yang mengisi suaranya pun Andy Serkis.

Konsep formula trilogi klasik memang menjadi acuan Abrams. Ia memang sangat jeli membuat kompromi antara fans fanatik Star Wars yang hidup di eranya, fans yang muncul setelahnya, serta potensi penonton baru. Semuanya bisa dirangkul melalui sensasi nostalgia serta aksi hingar bingar film modern masa kini. Seberapa pun jelek filmnya siapa pun pasti akan menonton Star Wars. Seri ketujuh ini jelas bukan film jelek namun sebagai fans Star Wars saya sangat kecewa dengan plotnya. Bagi saya nilai B untuk film ini sama dengan musibah. May the force be in the next episode.

 

Artikel SebelumnyaBulan Terbelah di Langit Amerika
Artikel BerikutnyaSINGLE
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

2 TANGGAPAN

  1. OMG! Dude, I feel the same!! Semua poin poin yang di jabarkan persis banget sama yang gue rasain pas selesai nonton. Masalah plot cerita, topeng kylo, pertarungan lightsaber yang cuman meninggalkan kesan “mmmhh. meh”, scene kylo bunuh han solo (KEBACA BGT), apalagi pas pengulangan scene hancurnya death star, reaksi gue pas lagi nonton “IH”, “Kok di bikin terkesan gampang yah buat ngancurinnya”. Kemudian poin tentang prequel vs eps VII. Setuju sih, at least Lucas did try something new, tapi tetep aja pada benci prequel dan lebih suka si eps VII ini. Yah mungkin emang udah jadi strategi si JJ buat merangkul kembali fans star wars masa original.

  2. Gw malah kecewa film star wars yang norak ini masih berlanjut … Dimana light saber wtf itu bisa nahan kecepatan laser yang secepat cahaya @@ … Dan aneh nya pula peluru pesawat juga bisa di tahan pake tangan .. Klo gtu buat apa ada pesawat klo peluru nya setara pistol laser genggam ? Dan bitch please bentuk pesawat luar angkasa ga ada yang seaneh itu .. Itu pesawat ga bakal bisa belok atau bermanuver …itu star wars vs jaman skrg aja masiih menang jaman skrg kali .. Sekali rudal si para jedi pada mokad…

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.