Seri Along with the Gods produksi Korea Selatan pada rilisnya dibagi menjadi dua film. Sebenarnya dua film ini adalah satu film yang dipecah menjadi dua yang berdurasi total sekitar 4.5 jam. Film ini digarap oleh Kim Yong-hwa dengan bujet total sebesar lebih dari US$ 35 juta. Dua film ini sukses luar biasa dengan total raihan box-office nyaris mencapai US$ 200 juta, hanya rilis di Korea Selatan saja. Seri ini diadaptasi dari seri komik bergambar populer berjudul sama yang digarap oleh Joo Ho-min. Buat saya, secara personal, film ini adalah salah satu film Asia terbaik yang pernah saya tonton, dan salah satu film terbaik yang pernah ada dari sisi kisah dan temanya. Film-film produksi Korea Selatan memang tercatat sering menampilkan tema serta konsep cerita yang tak bakal dihadirkan serta tak mampu dijangkau film-film barat. Sebenarnya apa yang membuat film ini begitu laris dan istimewa?

Film ini singkatnya berkisah tentang dunia manusia dan akhirat yang saling memengaruhi satu sama lain. Pada teks di awal film pertama yang merupakan kutipan dari kitab suci ajaran Buddha, dijelaskan bahwa ketika manusia meninggal, roh mereka harus menjalani pengadilan langit sebanyak 7 kali selama 49 hari untuk bisa lahir kembali (reinkarnasi) ke alam manusia. Tujuh sidang dosa tersebut adalah pembunuhan, kemalasan, kebohongan, ketidakadilan, pengkhianatan, kekerasan, serta (dosa) keluarga. Sang sutradara menafsirkan ini semua dengan visualisasi secara literal. Setiap neraka memiliki ruang sidangnya masing-masing. Jika divonis bersalah, mereka mendapat hukuman langsung masuk ke dalam neraka yang lamanya sesuai vonisnya. Jadi, manusia bisa saja masuk ke dalam tujuh neraka yang berbeda secara beruntun jika terbukti memiliki semua dosa tersebut.

Setelah meninggal, tiap roh manusia memiliki 3 wali (baca: malaikat) yang bakal membela mereka selama proses peradilan. Tiga wali ini membela mereka melalui kebaikan yang dilakukan tiap manusia selama hidupnya agar bisa lolos dari hukuman. Dua film ini berbicara mengenai sosok manusia dan 3 walinya. Bingung dengan konsep cerita di atas? Bisa jadi, namun setelah kita mengerti aturan main di alam akhirat dan manusia, semua bakal jelas. Hampir tiap kali dalam banyak adegannya, para wali, jaksa penuntut, dan hakim selalu bicara soal aturan (hukum) akhirat yang ternyata banyak sekali. Kisahnya juga bolak-balik ke alam akhirat dan manusia dengan tempo tinggi sehingga jika tak cermat sedikit saja, kita bakal kehilangan alur cerita. Menonton dua kali atau lebih, bukan ide yang buruk untuk memahami kisah filmnya lebih baik.

**

Film pertama adalah Along with the Gods: The Two Worlds. Plot terfokus pada sosok manusia bernama Kim Ja-hong. Alkisah Ja-hong adalah seorang manusia mulia yang tercatat sejak puluhan tahun terakhir tidak pernah ada di alam akhirat. Ja-hong berwalikan Gang-rim (sang ketua), Haewonmak, dan Lee Deok-choon. Kisah film, sederhananya menuturkan perjalanan Ja-hong dan walinya menjalani sidang demi sidang. Dosa se-“kecil” apapun, digunakan oleh para jaksa penuntut untuk menjebloskan terdakwa ke neraka. Sementara tiga wali selalu berusaha membela Ja-hong mati-matian sekalipun kliennya adalah manusia mulia. Kisahnya menjadi terlihat mudah diprediksi dan repetitif karena kita tahu Ja-hong tidak mungkin melakukan suatu “dosa” tanpa argumen yang kuat. Ketika Kim didakwa membunuh, ternyata Kim tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan. Juga, ketika Kim didakwa berbohong, ternyata kebohongannya justru pada akhirnya berbuah kebaikan. Demikian pula dakwaan lain yang selalu lolos dari hukuman, walau beberapa persidangan Ja-hong langsung lolos karena atribut manusia mulia yang disandangnya.

Situasi mulai berubah ketika sosok adik kandung Ja-hong, yakni Soo-hong tewas mendadak hingga menjadi arwah penasaran. Hal ini membuat goncangan di akhirat hingga Gang-rim, sang ketua wali sendiri yang turun tangan untuk menyelidiki ke alam manusia. Kisah filmnya secara menarik saling bergantian antara dua alam. Layaknya detektif-super, Gang-rim menyelidiki kasus ini dengan kekuatan dan kemampuannya yang mampu menembus batasan ruang dan waktu. Ia bisa ke mana pun dalam sekejap mata. Ia juga bisa kembali ke masa lalu dan sekarang kapan saja, yang disajikan mengesankan melalui teknik fast-motion. Satu sajian aksi kejar-mengejar super cepat antara arwah Soo-hong dan Gang-rim disajikan sangat baik layaknya pertarungan dua manusia super.

Di luar dugaan, kisahnya memiliki kedalaman yang tak disangka-sangka. Sidang demi sidang yang dilalui Ja-hong serta kasus adiknya Soo-hong, saling bertautan erat dan penonton semakin banyak mendapat latar cerita tentang sosok keduanya. Kunci pokok cerita sebenarnya justru ada pada sang ibu. Ja-hong melakukan semua kerja keras demi sang ibu dan adiknya. Sang adik pun yang sangat mencintai ibunya harus mendapatkan nasib naas hingga harus meninggalkan sang ibu untuk selamanya. Hubungan antara ibu dan kedua kakak beradik ini begitu menyentuh hingga alam akhirat pun ikut bergetar ketika sang ibu yang bisu akhirnya berbicara pada dua anaknya. Surga ada di telapak kaki ibu – digambarkan begitu manis di akhir filmnya. Ja-hong pun bereinkarnasi dan sang adik mendapat status manusia mulia.

Baca Juga  Posesif, Film Populer dengan Pendekatan Filmis.

Di penghujung film, kisah ternyata belum selesai. Soo-hong tetap dianggap telah melanggar hukum akhirat karena sejatinya arwah penasaran tidak akan bisa masuk gerbang akhirat. Nasib Soo-hong kini berada di tangan 3 wali kakaknya yang kini menjadi walinya. Yeom-ra, raja para dewa, yang juga hakim pengadil terakhir juga memberikan syarat tambahan untuk mengambil roh manusia tua di alam manusia yang dijaga oleh seorang dewa bernama Sun-ju sehingga umurnya kini telah melewati batas yang ditentukan akhirat.

**

Film kedua adalah Along with the Gods: The Last 49 Days. Kini fokus kisahnya, justru pada sosok 3 wali Song-hoo, yakni Gang-rim, Haewonmak, dan Lee Deok-choon. Dua sub-plotnya, yang mengisahkan persidangan Song-hoo dan Dewa Sun-ju yang menolong pak tua dan cucunya, sebenarnya hanya menjadi pemicu untuk mendukung plot utamanya. Apa yang dialami Song-hoo juga cerminan masa lalu Gang-rim. Ternyata pula, Sun-ju, dulunya adalah wali dari Haewonmak dan Lee Deok-choon, ketika 1000 tahun lalu mereka masih menjadi manusia. Berjalannya waktu, Sun-ju mengembalikan memori mereka berdua yang dihilangkan oleh raja langit. Tak disangka, Gang-rim, Haewonmak, dan Lee Deok-choon ternyata saling berhubungan di masa lalu mereka.

Berbeda dengan film pertama yang bernuansa detektif, kini tone filmnya sedikit lebih ringan dengan sisipan komedi di satu segmennya, namun kedalaman temanya tak kalah dengan kisah sebelumnya. Menonton film pertama adalah wajib hukumnya untuk bisa menikmati film kedua ini karena keduanya saling berhubungan cerita sekali pun temanya berbeda. Filmnya kini penuh dengan segmen kilas-balik, menggambarkan masa lalu 3 sosok wali tersebut dan alur plotnya masih bergantian antara alam akhirat dan manusia.

Dengan tempo lambat tapi pasti, sosok masa lalu ketiga wali tersebut lambat laun diungkap. Gang-rim adalah sosok putra mahkota yang ambisius yang iri dengan sosok saudara angkatnya. Haewonmak adalah seorang pendekar tangguh yang sejatinya berhati mulia tapi telah membunuh nyawa ratusan orang tak berdosa, dan sosok Deok-choon adalah gadis berhati emas yang memiliki jiwa penolong tinggi. Haewonmak dan Deok-choon ternyata sudah dekat sejak masa lalu mereka. Tanpa kita sadari, pada penghujung cerita, ketiganya ternyata saling berhubungan dalam lingkaran karma yang panjang. Gang-rim ternyata adalah sosok paling berdosa di antara ketiganya yang harus menanggung penderitaan paling besar dengan segala karma masa lalunya. Pada mid-credit scene, terdapat satu informasi besar yang pastinya mengejutkan semuanya. Semuanya ini rupanya adalah satu test panjang bagi Gang-rim untuk bisa memaknai hidupnya yang dulu penuh dosa. Ketika ia ingin meminta maaf pada dua rekannya, sontak dengan ringan dan tertawa mereka menjawab, “Mengapa lagi harus mengungkit cerita 1000 tahun yang lalu?”.

**

Along with the Gods memberikan pengalaman cerita dan sinematik sangat luar biasa yang rasanya tak mungkin bisa dicapai film produksi barat. Nuansa timur yang begitu kental dengan sisi religius yang tak sekedar berceramah tentang dosa. Walaupun Along with the Gods menampilkan visualisasi 7 neraka yang mengerikan, namun seperti pengalaman Gang-rim, neraka yang sesungguhnya ada dalam pikiran kita sendiri. Semua adalah akibat perbuatan kita sendiri dan kita harus menanggung buah perbuatan kita. Dua film ini secara gamblang mengajarkan kita untuk tidak berbohong, berbuat jahat, rakus, malas, dan bertindak semena-mena yang mampu menyakiti atau menghabisi nyawa orang lain, terlebih keluarga. “Tidak ada manusia yang jahat sejak ia lahir, yang ada hanyalah situasi buruk (yang membuat orang berbuat jahat)” kata Sun-ju. Dengan segala kerumitan kisahnya, visualisasi yang mengagumkan, serta durasi yang sangat panjang, sederhananya, film ini hanya mengajarkan kita untuk menjadi orang baik yang berhati mulia, yang kini rasa-rasanya memang sudah langka, atau entah memang sudah tidak ada lagi.

Artikel SebelumnyaHeilstatten Haunted Hospital
Artikel BerikutnyaMunafik 2
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.