Kisah asmara sang mantan panglima tempur, Dilan, berlanjut melalui adaptasi berikutnya, masih dari novel karya Pidi Baiq. Kini melalui sudut pandang Ancika dalam Ancika: Dia yang Bersamaku 1995. Ada banyak perombakan tim dalam film keempat dari rangkaian cerita ini. Bukan lagi diarahkan oleh Fajar Bustomi, melainkan Benni Setiawan. Begitu pula skenario yang tak lagi melibatkan Titien Wattimena, melainkan sang sineas sendiri bersama Tubagus Deddy. Para pemerannya juga mengalami penggantian hampir total, bila mengecualikan Ira Wibowo dan para pemeran untuk tokoh-tokoh yang baru, yaitu Zee JKT48, Arbani Yasiz, Dito Darmawan, Kenes Andari, Mathias Muchus, dan Caitlin Halderman.

Jelas mayoritas segmentasinya ialah kalangan remaja hingga dewasa awal, sebagaimana tiga film sebelumnya. Lantas, apakah masih dibuat dengan seadanya dan bertabur kata-kata anak muda?

Usai kepindahan Dilan (Yasiz) dari SMA tempat Milea bersekolah hingga lulus dan berkuliah, terjadi pertemuan tak sengaja antara ia dengan Ancika Mehrunisa Rabu (Zee). Siswi SMA biasa yang secara kebetulan memiliki hubungan tak langsung dengannya lewat sepupu, Mang Anwar (Dito), kakek, (Mathias Muchus), dan sang ibu (Andari). Hari-hari Ancika kemudian kian terisi dengan kehadiran sosok Dilan dalam beberapa kesempatan yang lebih sering kurang menyenangkan. Namun, cara pendekatan Dilan yang selalu berbeda rupanya menggerakkan hati sang gadis SMA.

Berselang empat tahun sejak film ketiga, Milea: Suara dari Dilan (2020) dengan detail-detailnya hingga berujung hubungan Dilan dan Milea yang kandas. Saat itu, cerita lebih banyak menyoroti hari-hari Milea pascaperpisahannya dari Dilan sampai pertemuan mereka kembali dengan pasangan masing-masing. Tidak ada informasi melalui Dilan pada masa-masa kelulusannya dari SMA, selama berkuliah, serta lulus dan menemukan tambatan hati yang baru. Lewat Ancika: Dia yang Bersamaku inilah informasi tersebut dihadirkan. Walau hanya sebagian karena faktor sudut pandang. Dengan plot dan logika yang masih mudah diantisipasi. Misalnya, penyelesaian masalah hukum yang melibatkan Ancika, kejahilan-kejahilan Dilan, hingga betapa kebetulannya kedekatan relasi antara beberapa tokoh.

Baca Juga  Ave Maryam

Waktu dalam cerita yang terpaut sekitar empat tahun (1991-1995) kemudian menuntut adanya perubahan karakter bagi para tokohnya. Terutama Dilan yang sudah semestinya menjadi lebih bertanggung jawab. Pembawaannya harus lebih kalem dan menunjukkan kedewasaan, meski kadang sesekali masih berbuat salah. Di sanalah Yasiz mengambil peran sebagai sosok Dilan dengan karakter yang telah mengalami perkembangan. Walau sayang dalam versi setelah menikah, kurang berhasil tampak berbeda dengan semasa masih kuliah. Hanya berhasil terlihat berbeda dari Dilan usia SMA. Lain halnya Zee yang secara kasatmata menunjukkan perubahan sosok Ancika, baik secara fisik (termasuk pilihan busana) maupun pembawaan perilakunya.

Salah satu konflik besar dalam Ancika pun merespons tahun-tahun politik pada saat itu, karena Dilan sendiri adalah mahasiswa kritis yang mengikuti pergerakan para aktivis. Namun, eksekusi segmen unjuk rasa para mahasiswa kurang total dan masif. Malahan, set yang dipilih sebagai lokasi demonstrasi tak jelas berada di mana. Sekadar sebarang jalan biasa belaka. Tak tampak berada di dekat kampus mana pun. Gedung pemerintahan juga tidak terlihat ada. Pagar betis dari pihak keamanan juga tipis. Apa pula yang mereka jaga? Toh tidak tampak ada bangunan apa pun di belakang mereka. Arah pengambilan gambarnya juga nyatanya tak berhasil mengisi kekosongan ruang yang tercipta karena kurangnya pemeran (figuran).

Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 sekadar kelanjutan cerita dari film sebelumnya, dengan hanya sedikit lebih baik lewat olah peran tokoh-tokoh sentralnya. Minimal kali ini tak mengumbar kata-kata sebanyak sebelumnya. Walau kadang sesekali muncul kalimat-kalimat panjang yang dipaksakan demi menambah nilai pada percakapan yang sedang berlangsung. Juga terasa sekali bagaimana setting lokasi dalam Ancika sangat terbatas. Buah dari kesulitan untuk mereka ulang setting yang tepat sesuai latar waktunya. Bangunan-bangunan penting yang semestinya muncul, misalnya. Tak banyak hiburan baru dari film keempat ini, selain dari proses pendekatan Dilan ke Ancika yang lebih sulit ketimbang saat ia mendekati Milea dulu.

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaMonarch: Legacy of Monsters
Artikel BerikutnyaMonster
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.