Anna and the Apocalypse (2017)
93 min|Comedy, Horror, Musical|30 Nov 2018
6.1Rating: 6.1 / 10 from 15,552 usersMetascore: 63
A zombie apocalypse threatens the sleepy town of Little Haven - at Christmas - forcing Anna and her friends to fight, slash and sing their way to survival, facing the undead in a desperate race to reach their loved ones. But they ...

Apakah kamu bisa membayangkan sebuah film horor komedi musikal? Mendengar konsepnya saja, tentu sudah sangat menarik. Anna and the Apocalypse adalah film komedi horor musikal remaja unik yang diarahkan oleh John McPhail. Film produksi Inggris ini diadaptasi dari film pendek pemenang BAFTA yang berjudul Zombie Musical (2010). Film ini dibintangi oleh Ella Hunt, Malcolm Cumming, serta Ben Wiggins.

Alkisah Anna dan rekan-rekannya melakukan kegiatan sekolah rutin di tengah persiapan acara malam Natal di sekolah mereka . Tanpa mereka sadari, pada acara malam Natal, wabah “zombi” melanda kota dan menyerang nyaris semua warga kota. Di tengah kekacauan, Anna dan rekan-rekannya berusaha menuju sekolah di mana sang ayah berada.

Untuk genrenya, kombinasi horor, komedi, dan zombi adalah terhitung baru dalam medium film. Saya yang sama sekali tak mengetahui sebelumnya jika film remaja ini adalah film musikal. Filmnya diawali dengan kisah dan konflik yang ringan, layaknya film remaja lazimnya, tanpa ada sedikit gelagat apa pun sebelumnya. Segmen musikal muncul secara mengejutkan diawali dengan tembang Break Away yang dibawakan manis secara bergantian oleh para tokoh utamanya. Setelahnya, hampir dalam tiap momen, segmen musikal muncul dengan sajian apik yang memadu dengan alur kisahnya.

Baca Juga  The Night Eats the World

Sayangnya, kisahnya tidak memiliki greget yang cukup untuk bisa membawa sisi ketegangan masuk ke dalam cerita. Seringkali para karakter berpolah tak serius dengan situasi genting, dan kita pun tak pernah merasakan mereka benar-benar dalam situasi berbahaya sehingga sulit untuk berempati dengan mereka. Sebagai bandingan, film komedi zombi Shaun of the Dead. Walau jelas-jelas ini film komedi murni, namun tokohnya selalu serius jika berhadapan dengan situasi genting, sense of danger bisa kita rasakan dalam tiap adegannya. Ini yang tak bisa dirasakan dalam Anna.

Bicara segmen musikalnya memang sedikit berbeda dengan film-film musikal masa kini lainnya. Beberapa segmen musikalnya lebih terasa seperti video klip ketimbang “musikal”, sebut saja seperti segmen “Break Away”. Beberapa segmen musikal disajikan lengkap dengan lagu dan tari ala musikal Hollywood seperti segmen “Hollywood Ending”. Satu segmen musikal “Turning My Life Around” bahkan merupakan tribute dari film pendeknya, yang rasanya diproduksi di lokasi yang sama dengan film aslinya. Lagu-lagu yang dilantunkan pun juga jauh dari kata buruk, beberapa di antaranya dibawakan begitu manis oleh para pemainnya sendiri.

Anna and the Apocalypse menawarkan sebuah kombinasi genre yang segar untuk subgenrenya, namun sayangnya tidak untuk kedalaman kisahnya. Pesan filmnya juga terasa kurang menggigit untuk genrenya yang bercampur aduk antara keluarga, persahabatan, otoriter, hingga cinta. Setidaknya, Anna telah mencoba sesuatu yang berbeda untuk pengembangan subgenre zombi yang kini telah ratusan jumlahnya, serta tentu menambah kaya variasi genre musikal. Di bawah trailer film ini, juga kami sertakan film pendek Zombie Musical (2010) yang menjadi inspirasi film Anna and the Apocalypse.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaFilm Bencana Fiksi Ilmiah Tiongkok Puncaki Box-Office Global!
Artikel BerikutnyaCaptain Marvel
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.