Anna and the Apocalypse (2017)
93 min|Comedy, Fantasy, Horror, Musical|30 Nov 2018
6.0Rating: 6.0 / 10 from 8,036 usersMetascore: 63
A zombie apocalypse threatens the sleepy town of Little Haven - at Christmas - forcing Anna and her friends to fight, slash and sing their way to survival, facing the undead in a desperate race to reach their loved ones. But they soon discover that no one is safe in this new world, and with civilization falling apart around them, the only people they can truly rely on are each other.

Apakah kamu bisa membayangkan sebuah film horor komedi musikal? Mendengar konsepnya saja, tentu sudah sangat menarik. Anna and the Apocalypse adalah film komedi horor musikal remaja unik yang diarahkan oleh John McPhail. Film produksi Inggris ini diadaptasi dari film pendek pemenang BAFTA yang berjudul Zombie Musical (2010). Film ini dibintangi oleh Ella Hunt, Malcolm Cumming, serta Ben Wiggins.

Alkisah Anna dan rekan-rekannya melakukan kegiatan sekolah rutin di tengah persiapan acara malam Natal di sekolah mereka . Tanpa mereka sadari, pada acara malam Natal, wabah “zombi” melanda kota dan menyerang nyaris semua warga kota. Di tengah kekacauan, Anna dan rekan-rekannya berusaha menuju sekolah di mana sang ayah berada.

Untuk genrenya, kombinasi horor, komedi, dan zombi adalah terhitung baru dalam medium film. Saya yang sama sekali tak mengetahui sebelumnya jika film remaja ini adalah film musikal. Filmnya diawali dengan kisah dan konflik yang ringan, layaknya film remaja lazimnya, tanpa ada sedikit gelagat apa pun sebelumnya. Segmen musikal muncul secara mengejutkan diawali dengan tembang Break Away yang dibawakan manis secara bergantian oleh para tokoh utamanya. Setelahnya, hampir dalam tiap momen, segmen musikal muncul dengan sajian apik yang memadu dengan alur kisahnya.

Baca Juga  Go!

Sayangnya, kisahnya tidak memiliki greget yang cukup untuk bisa membawa sisi ketegangan masuk ke dalam cerita. Seringkali para karakter berpolah tak serius dengan situasi genting, dan kita pun tak pernah merasakan mereka benar-benar dalam situasi berbahaya sehingga sulit untuk berempati dengan mereka. Sebagai bandingan, film komedi zombi Shaun of the Dead. Walau jelas-jelas ini film komedi murni, namun tokohnya selalu serius jika berhadapan dengan situasi genting, sense of danger bisa kita rasakan dalam tiap adegannya. Ini yang tak bisa dirasakan dalam Anna.

Bicara segmen musikalnya memang sedikit berbeda dengan film-film musikal masa kini lainnya. Beberapa segmen musikalnya lebih terasa seperti video klip ketimbang “musikal”, sebut saja seperti segmen “Break Away”. Beberapa segmen musikal disajikan lengkap dengan lagu dan tari ala musikal Hollywood seperti segmen “Hollywood Ending”. Satu segmen musikal “Turning My Life Around” bahkan merupakan tribute dari film pendeknya, yang rasanya diproduksi di lokasi yang sama dengan film aslinya. Lagu-lagu yang dilantunkan pun juga jauh dari kata buruk, beberapa di antaranya dibawakan begitu manis oleh para pemainnya sendiri.

Anna and the Apocalypse menawarkan sebuah kombinasi genre yang segar untuk subgenrenya, namun sayangnya tidak untuk kedalaman kisahnya. Pesan filmnya juga terasa kurang menggigit untuk genrenya yang bercampur aduk antara keluarga, persahabatan, otoriter, hingga cinta. Setidaknya, Anna telah mencoba sesuatu yang berbeda untuk pengembangan subgenre zombi yang kini telah ratusan jumlahnya, serta tentu menambah kaya variasi genre musikal. Di bawah trailer film ini, juga kami sertakan film pendek Zombie Musical (2010) yang menjadi inspirasi film Anna and the Apocalypse.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaFilm Bencana Fiksi Ilmiah Tiongkok Puncaki Box-Office Global!
Artikel BerikutnyaCaptain Marvel
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.