Annabelle Comes Home (2019)
106 min|Horror, Mystery, Thriller|26 Jun 2019
5.9Rating: 5.9 / 10 from 86,809 usersMetascore: 53
While babysitting the daughter of Ed and Lorraine Warren, a teenager and her friend unknowingly awaken an evil spirit trapped in a doll.

Annabelle Comes Home adalah seri ketujuh dari Conjuring Universe setelah belum lama ini merilis The Curse of La Llorona. Film sekuel dari dua seri Annabelle sebelumnya ini, diarahkan oleh sineas debutan Gary Dauberman yang sebelumnya juga ikut menulis naskah dua film Annabelle dan The Nun. Film ini dibintangi bintang-bintang remaja, McKenna Grace, Madison Iseman, Katie Sarife, serta dua bintang reguler serinya, Vera Farmiga dan Patrick Wilson. Setelah seluruh seri film ini sukses komersial dengan modal produksi relatif kecil, akankah Annabelle ketiga ini mampu menyusul sukses film-film lainnya? Rasanya ya, namun secara kualitas?

Sepanjang serinya, kita telah diperkenalkan dengan sosok Ed dan Lorraine Warren bersama putrinya Judy Warren. Ed dan Lorraine menyimpan semua benda keramat dan kutukan dalam satu ruang khusus yang telah diberkati. Kisah film ini merupakan lanjutan langsung dari adegan pembuka film The Conjuring (2013), yakni ketika mereka mengambil Annabelle dari tiga remaja perempuan yang mendapat gangguan dari sang boneka. Sesuatu terjadi dalam perjalanan walaupun boneka iblis tersebut akhirnya bisa mereka amankan dalam lemari kaca di ruang benda keramat.

Penonton yang tidak awas dengan seri sebelumnya, tentu bakal dibuat bingung oleh garis waktu kisahnya. Film ini memiliki plot waktu di antara The Conjuring seri pertama dan kedua. Putri Ed dan Lorraine, Judy, kini menjadi tokoh utama cerita. Tidak hanya Judy, namun juga ruang benda keramat dalam rumah Ed dan Lorraine. Bagi fans serinya yang penasaran dengan benda apa saja yang ada di ruang keramat ini, akhirnya kita bisa mendapat jawaban dalam film ini. Dengan segala potensi mistik benda keramat yang ada di dalam ruang tersebut, film ini sebenarnya memiliki premis yang amat menarik. Sayang, film ini tak mampu memaksimalkannya. Rasanya pun, film ini lebih cocok diberi judul “The Room” ketimbang Annabelle, walau memang sang boneka yang menjadi katalisnya.

Alkisah setahun sejak Annabelle diamankan dalam ruang tersebut, Ed dan Lorren mendapat tugas ke luar kota dan menitipkan putri mereka pada kakak kelas Judy, Mary. Semua baik-baik saja, tidak hingga rekan Mary, Daniela, datang ke rumah, dan berhasil menyusup masuk ke kamar benda keramat. Setelah ini, gangguan mistik mulai menganggu mereka satu persatu dari roh jahat yang berasal dari benda-benda yang ada dalam ruang tersebut.

Baca Juga  Cop Out

Sekalipun idenya menarik tapi tak ada yang istimewa dari kisahnya. Penikmat dan fans seri horor ini tak bakal sulit untuk menebak arah kisahnya. Lantas apa kelebihannya? Satu hal adalah sisi ketegangannya. Mereka hanyalah tiga remaja muda yang harus melawan semua iblis jahat berenergi besar yang ada di sana. Ini saja, sudah membuat kisahnya menarik dan menegangkan, namun sayangnya tidak didukung sisi teknis horor yang memadai. Trik horornya, semua sudah kita lihat sebelumnya. Tak ada momen horor yang berkesan selain hanya “jump scare” kecil yang kadang mengagetkan (baca: bukan menakutkan) karena dukungan efek suara. Tercatat, plot filmnya begitu menegangkan dan menghibur hanya pada momen klimaks (3rd act) dengan intensitas ketegangan yang tinggi. Tapi satu pertanyaan kecil, oh c’mon man, haruskah kunci kamar dengan seabrek roh jahat level atas macam itu diletakkan di situ?

Annabelle Comes Home tidak menawarkan sesuatu yang baru, baik formula plot maupun sisi horornya, selain lebih banyak roh jahat yang muncul dalam sejarah serinya. Untuk serinya, posisi film ini lebih merupakan eksposisi (pengenalan) para iblis yang ada dalam ruang tersebut dan membuka peluang bagi kisahnya untuk masuk dalam antrian produksi berikutnya. Sang sineas debutan juga tak mampu sama sekali memperlihatkan sentuhan yang berbeda. Jauh sekali jika mau kita bandingkan dengan seri Annabelle sebelumnya yang digarap David F. Sandberg dengan gaya uniknya. Dengan bermodal bujet produksi film hanya US$ 27 juta, rasanya tradisi sukses komersial serinya bakal berlanjut. Bukan tidak mungkin melalui seri ketujuh ini (total bujet US$ 112,5 juta untuk 7 film) akhirnya franchise ini bakal melewati total capaian US$ 2 miliar. Ini bakal menjadi sebuah pencapaian yang sangat istimewa untuk genrenya. Seri ini rasanya bakal terus melaju hingga beberapa tahun dan kita harapkan saja secara kualitas juga semakin meningkat dengan menawarkan formula yang segar dan inovatif untuk genrenya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaParasite
Artikel BerikutnyaYesterday
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.