Ant-Man and the Wasp (2018)
118 min|Action, Adventure, Comedy|06 Jul 2018
7.0Rating: 7.0 / 10 from 452,427 usersMetascore: 70
As Scott Lang balances being both a superhero and a father, Hope van Dyne and Dr. Hank Pym present an urgent new mission that finds the Ant-Man fighting alongside The Wasp to uncover secrets from their past.

Ant-Man and the Wasp adalah film ke-20 dari seri fim Marvel Cinematic Universe (MCU). Film ini, kini bisa jadi adalah salah satu film paling dinanti setelah ending Avengers: Infinity War baru lalu yang sangat menggantung. Fans MCU pasti berharap, setidaknya ada jawaban yang terkait dengan peristiwa besar di Infinity War. Ant-Man and the Wasp kembali diarahkan oleh Peyton Reed, dengan masih mengkasting para pemain reguler dari film pertamanya, yakni Paul Rudd, Evangeline Lilly, Michael Douglas, Michael Pena, dan kali ini ditambah aktor-aktris gaek, seperti Laurence Fishburne, Michelle Pfeiffer serta Walton Goggins.

Sekalipun dirilis setelah Infinity War, namun uniknya plot filmnya mengambil kisah jauh sebelumnya yakni pasca peristiwa Captain America: Civil War. Bagi yang tidak mengikuti seri MCU, jelas bakal kebingungan melihat timeline kisahnya.

Alkisah selepas dari penjara (dibebaskan oleh Steve Rodgers), kita tak tahu persis apa yang terjadi, yang jelas kini Scott mendapat tahanan rumah dan mendapat pengawasan ketat dari pihak FBI. Di lain pihak, Dr. Hank Pym yang percaya istrinya masih hidup, bersama putrinya berusaha mencari Janet, sang istri yang terjebak dalam dunia sub-atomik. Scott yang pernah terjebak dalam dunia tersebut ternyata memiliki hubungan batin dengan Janet. Dengan bantuan Scott, Hank dan Hope memiliki harapan baru, namun mereka mendapat halangan dari sosok Ghost yang ingin pula mendapatkan Janet untuk tujuan pribadinya.

Lagi-lagi, setelah 19 film, MCU kembali mampu menawarkan formula yang berbeda dengan film-film sebelumnya. Untuk pertama kalinya, kisahnya mengalir cepat dengan berjalan nyaris “real-time”, tanpa henti sejak awal hingga akhir. Tak seperti sebelumnya, motif kisahnya kini juga lebih personal tanpa ada embel-embel musuh yang ingin menguasai dunia. Seperti film pertama, kisahnya penuh dengan aksi dan komedi dengan sisipan tema keluarga yang menyentuh. Walau tak sebaik film pendahulunya, aksi dan komedinya jelas dijamin bakal menghibur dan memuaskan penonton.

Baca Juga  Salt, Spionase Non Stop Aksi

Dengan permainan formula aksi andalannya yakni permainan “ukuran fisik” (menyusut dan membesar) dengan skala aksi lebih besar dari sebelumnya, membuat aksi-aksinya terasa mengasyikkan walau tak dipungkiri terasa tak wajar. Gedung sebesar itu yang disusutkan sebesar tas koper, masak sih jika dibawa ke mana-mana hingga berguncang sedemikian rupa, isinya tidak berantakan (hancur)? Ibarat roti kaleng kita guncang sedikit pasti isinya sudah tidak karuan. Lalu struktur bangunannya, semisal pondasinya bagaimana pula ya? (maklum saya juga arsitek).  Aahh, mari kita bersenang-senang sajalah.

Semua karakternya boleh terbilang “komedian” karena nyaris mereka semua bisa membanyol dengan aksi, gaya, dan polahnya masing-masing. Sosok Luiz (Pena) jelas memang paling dominan membanyol dan telah mencuri perhatian sejak film pertamanya. Hanya sosok Ghost terlihat paling serius. Kombinasi aksi dan komedi dalam satu segmen aksi kejar-mengejar di kota, dijamin bakal membuat kita terkagum-kagum sekaligus tertawa terbahak-bahak. Sisi komedi yang dominan memang menjadi salah satu faktor pembeda seri Ant-Man dengan film-film MCU lainnya. Tentu tak perlu lagi komentar soal pencapaian CGI. Satu adegan aksi tadi sudah menjawabnya dengan tegas.

Walau sedikit berlebihan dan tak sebaik film pertama, tak dapat dipungkiri Ant-Man and the Wasp adalah salah satu film MCU yang paling menghibur dari sisi aksi maupun komedi. Sewaktu menulis, saya sempat berpikir tentang temuan Dr. Hank Pym ini. Mengapa teknologi sehebat ini (dan rasanya juga tak semahal teknologi milik Stark), tidak digunakan untuk kepentingan umat manusia? Masalah pangan, energi fosil, air, kesehatan, pertahanan keamanan (dari alien), dan banyak lainnya bakal sirna. Bisa jadi, Pym tak ingin teknologi ini jatuh ke tangan yang salah, namun terasa janggal saja, terlebih jika dikaitkan motif cerita semata hanya untuk mencari istrinya. Hmm mungkin saya saja yang terlalu serius. Seperti saya sudah katakan di atas, mari kita bersenang-senang saja.

Lantas, satu hal yang menjadi pertanyaan besar fans MCU, apakah benar ada sesuatu di film ini terkait Infinity War? Jawabnya ya dan ada di penghujung film, dijamin ini bakal mengejutkan fans MCU. Seperti pula sudah menjadi rumor dari banyak sumber, Avengers 4 rasanya bakal bermain-main dengan dunia sub-atomik dan dimensi waktu.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaFilm Lebaran 2018, Cermin Kualitas Film Kita?
Artikel BerikutnyaKulari ke Pantai
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.