Aquaman (2018)
143 min|Action, Adventure, Fantasy|21 Dec 2018
6.8Rating: 6.8 / 10 from 518,662 usersMetascore: 55
Arthur Curry, the human-born heir to the underwater kingdom of Atlantis, goes on a quest to prevent a war between the worlds of ocean and land.

Aquaman adalah seri-6 dari DC Extended Universe yang merupakan film solo dari sosok Aquaman. Uniknya, film superhero ini diarahkan oleh sineas dan produser spesialis horor, James Wan serta diproduseri kolaborator lamanya, Peter Safran. Sosok Aquaman masih diperankan oleh Jason Momoa, dengan didukung para pemain bintang, seperti Amber Heard, Nicole Kidman, Patrick Wilson, Willem Defoe, hingga Dolph Lundgren. Film berdurasi 143 menit ini konon berbujet mencapai US$ 200 juta. Kita tahu persis bahwa film-film DCEU oleh para kritikus dinilai masih berada di bawah level film-film Marvel Cinematic Universe (MCU). Kita lihat, apakah sineas sehandal Wan mampu menaikkan kualitas seri ini?

Sebelum rilis filmnya, trailer Aquaman dalam berbagai versi telah keluar. Bahkan dalam satu extended trailer berdurasi 5 yang dirilis resmi Warner Bros, beberapa segmen adegan disajikan dengan porsi cukup banyak untuk sebuah trailer (link di bawah artikel). Ini tentu menimbulkan banyak kekhawatiran tentang kualitas filmnya.

Alkisah, setahun pasca kejadian bersama Justice League, Aquaman alias Arthur Curry masih menjadi penjaga samudera lepas. Arthur selama ini rupanya menghindar dari kaum Atlantis karena menganggap mereka telah membunuh ibunya, Atlanna, yang juga Ratu Atlantis. Di tempat lain, Orm, adik tiri Arthur, berambisi untuk menjadi penguasa seluruh kerajaan lautan. Orm terpaksa harus menantang Arthur karena ia adalah keturunan Raja yang sah. Arthur mau tak mau harus turun tangan karena Orm ternyata berambisi pula untuk menyerang dan menguasai daratan. Untuk mengalahkan Orm, Arthur harus mendapatkan senjata maha hebat, trisula Atlan dengan dibantu putri Atlantis, Mera.

Sejak awal, alur filmnya sudah bergerak dengan cepat. Segmen latar belakang orang tua Arthur disajikan melalui satu montage menawan yang rasanya menarik untuk dijadikan satu film sendiri. Siapa sangka, setelah ini, sepanjang filmnya memang menyajikan nyaris nonstop aksi.

Sosok Aquaman telah muncul sejak film Justice League, dan kita telah tahu persis siapa Arthur dan apa kemampuannya. Opsi skenario untuk kisah sosok ini jelas tidak mudah. Di versi animasi home video-nya (Justice League: The Throne of Atlantis), Arthur Curry belum bergabung dengan Justice League, dan cerita dalam film ini yang akhirnya membuat Aquaman, sang raja samudera, bergabung dengan Batman dan kawan-kawan. Skenario film ini, akhirnya mengambil solusi dengan meletakkan kisah “home video”-nya setelah peristiwa dalam film Justice League. Plot filmnya sendiri juga terfokus pada aksi petualangan pencarian trisula Atlan dan tidak terjebak dalam pergulatan konflik kekuasaan Atlantis. Jelas bukan pilihan yang buruk.

Baca Juga  The Great Wall

Fokus cerita ini menjadikan Aquaman layaknya seri Indiana Jones yang berpetualang mencari artefak bernilai tinggi. Lokasi selalu berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain sehingga tak melulu di bawah air. Lebih dari separuh filmnya memang mengambil lokasi di bawah air, namun justru segmen aksi di daratan yang lebih mencuri perhatian, salah satunya segmen aksi di Sisilia. Segmen pertarungan dan pengejaran ini tercatat adalah salah satu segmen aksi terbaik dalam film superhero. Sang sineas mampu menyajikannya melalui sudut dan pergerakan kamera serta editing yang dinamis. Kadang beberapa shot-nya ditahan agak lama (long take) menjadikan aksinya menjadi tampak lebih realistik. Pengalaman sang sineas mengarahkan satu seri Fast & Furious tampak sekali terlihat dalam segmen ini.

Lalu bagaimana segmen aksi bawah lautnya? Mau komentar apa lagi, dominasi penggunaan CGI membuat semua serba artifisial, walau memang visualisasi kota Atlantis dan beberapa lokasi disajikan sangat memanjakan mata. Seperti halnya Wonder Woman, film ini memilih tone warna film yang cerah dan sangat nyaman untuk dilihat, berbeda dengan Batman v Superman dan Justice League yang kelam. Unsur suara dan musik adalah yang membuat film ini menjadi amat menarik. Pastikan untuk menonton film ini di bioskop dengan tata suara terbaik (Dolby Atmos atau IMAX) karena unsur efek suara adalah satu nilai lebih film ini, khususnya pada adegan-adegan aksi bawah lautnya. Ilustrasi musik megah dan menghentak yang beraroma “Tron” sangat mendukung mood filmnya, dan rasanya score ini adalah yang terbaik jika dibandingkan film-film DCEU lainnya.

Walau belum bisa sejajar dengan pesaing terbesarnya (MCU), Aquaman tercatat merupakan film yang paling menghibur sekaligus peningkatan kualitas satu level dari serinya. Aquaman jelas bukan film yang mudah untuk diproduksi mengingat lebih dari separuh cerita filmnya berlokasi di bawah laut. James Wan menjadi faktor kunci keberhasilan ini melalui sentuhan emasnya. Walau tak lebih baik dari Wonder Woman, namun Aquaman jelas jauh lebih baik dari  film-film DCEU lainnya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaSesuai Aplikasi
Artikel BerikutnyaTusuk Jelangkung
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.