Arini merupakan sebuah film remake dari Arini, Masih Ada Kereta yang akan Lewat yang diproduksi pada tahun 1987. Film aslinya dibintangi Rano Karno dan Widyawati, yang juga dibuat sekuelnya pada tahun 1988. Kisah filmnya merupakan adaptasi dari sebuah novel karangan Mira W. Ismail Basbeth sebagai sutradara mencoba mengemas Arini melalui pendekatan kekinian. Basbeth sendiri telah menggarap beberapa film seperti Mencari Hilal (2015) dan Talak 3 (2016). Ia juga memproduksi film festival macam Another Trip To The Moon (2015) dan Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran (2017).

     Film ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Arini (Aura Kasih) yang dilanda trauma masa lalu dan belum bisa sepenuhnya move on, walau kejadian yang ia alami telah puluhan tahun berlalu. Suaminya dulu pernah menjalin hubungan dengan teman dekatnya. Jerman adalah negara pelariannya sekaligus tempat untuk menyendiri. Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan kereta, ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Nick (Morgan Oey) yang tengah menempuh studi di sana. Nick yang berumur lebih muda 15 tahun dari Arini, jatuh hati pada Arini dan mulai berusaha mendekatinya.

     Plot film ini dikemas dengan dua segmen lokasi. Segmen pertama berada di sebuah kota kecil di Jerman, lalu segmen kedua berada di kota Yogyakarta. Pada segmen pertama, sang sineas ingin menunjukkan bagaimana usaha Nick mendekati Arini yang tengah dilanda kegalauan. Nick adalah seorang lelaki yang percaya diri, supel, dan pantang menyerah. Berbeda dengan Arini yang berkarakter tenang, sedikit jutek, dan lebih dewasa dari Nick. Sang sineas mampu dengan baik membuat karakter keduanya begitu kontras. Meskipun di awal, pendekatan Nick terlihat sedikit dipaksakan dan berlebihan, agak aneh jika Nick yang baru saja mengenal Arini bersikap demikian berani. Plotnya sendiri juga tak memperlihatkan pada momen kapan sebenarnya Nick mulai jatuh hati dengan Arini? Entah mengapa, chemistry antar keduanya menjadi tak terbagun dengan baik.

Baca Juga  The Night Comes for Us

     Teknik flashback di segmen pertama digunakan untuk menggambarkan masa lalu Arini, namun entah mengapa adegan ini tak mampu membuat penonton meresapi apa yang dirasakan Arini. Konflik cerita mulai berkembang pada segmen dua, ketika Arini harus berhadapan dengan mantan suaminya. Kehadiran Nick membawa kekuatan tersendiri bagi Arini untuk menghadapi masalahnya. Momen ini yang seharusnya lebih dieksplor untuk menunjukkan chemistry mereka. Dengan setting lokasi di kota Yogyakarta, sebenarnya bisa mengeksplor momen romantik di kota ini seperti di segmen pertama.

     Ismail Basbeth sebagai sutradara mencoba mengemas Arini melalui pendekatan kekinian walau usaha remake-nya tak sepenuhnya berhasil. Salah satu yang mencuri perhatian di film ini adalah akting Morgan Oey yang natural. Terakhir melihat Oey, bermain dalam Mooncake Story (2017) sebagai tokoh yang cenderung pendiam dengan beban masalahnya. Dalam Arini, ia tampil sebagai seorang yang ceria dan supel, membuktikan kemampuan aktingnya dengan karakter yang berbeda. Kamera dan gambar yang bergoyang pada segmen di Jerman juga membuat film ini terkesan seperti film indie. Sementara musik yang dibangun cukup membantu membangun mood adegan-adegannya.

WATCH NEWS

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaSineas Avengers Tanggapi Sensor Infinity War di Indonesia
Artikel BerikutnyaTerbang Menembus Langit
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.