Aruna & Lidahnya (2018)
106 min|Drama|27 Sep 2018
7.6Rating: 7.6 / 10 from 186 usersMetascore: N/A
An epidemiologist tried to satisfy her obsession with food when she was assigned to investigate a bird flu case.

Setelah sukses dengan film mainstream pertamanya baru lalu, yakni Posesif (2017), kali ini Edwin memproduksi film roman-perjalanan, Aruna dan Lidahnya. Edwin masih berkolaborasi dengan rumah produksi Palari Films dan kini tak tanggung-tanggung bekerja sama dengan studio CJ Entertainment, Go Studio Original, Phoenix Films, dan Ideosource Entertainment. Sebelumnya, film-film Edwin memang lebih dikenal di berbagai ajang festival film, seperti Babi Buta yang ingin Terbang (2008) dan Postcard from the Zoo (2012). Dalam filmnya kali ini, dua bintang populer, Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra kembali bereuni dan beradu berakting. Edwin pun juga kembali bereuni dengan Nicholas Saputra setelah sebelumnya bermain dalam Postcard from the Zoo.

Aruna dan Lidahnya merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak. Bercerita tentang seorang wanita karir bernama Aruna (Dian Sastrowardoyo) yang bekerja di sebuah lembaga swasta sebagai ahli wabah. Ia ditugaskan oleh kantornya untuk melakukan investigasi lapangan, mengenai sebuah kasus yang diduga flu burung di beberapa kota. Aruna sendiri memiliki hobi doyan makan dan berkuliner. Sambil bekerja, ia berkuliner bersama Bono (Nicholas Saputra). Bono adalah seorang koki yang selalu mengeksplorasi berbagai macam masakan. Bono memberikan daftar makanan yang harus dicoba di kota yang akan mereka singgahi, yakni Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang. Namun tak disangka, dalam perjalanan hadir pula dua orang teman mereka, yakni Farish (Oka Antara) dan Nadezhda (Hannah Al Rashid) yang akan mengungkap masa lalu mereka.

Gaya bertutur plot filmnya dituturkan dengan pola perjalanan (road movie) yang dikemas melalui wisata kuliner. Dalam filmnya terdapat dua plot utama, yakni Aruna dan Farish yang ditugaskan untuk mencocokkan data di lapangan, serta bagaimana mereka berwisata kuliner, walaupun inti plotnya mengarah ke hubungan antar tokohnya. Plotnya mengalir dalam adegan-adegannya yang cair dan ringan. Sang sineas menekankan adegannya pada dialog untuk membangun suasana. Beberapa momen masih terasa datar karena pola dan adegan yang sama, yakni berkuliner. Selain menyuguhkan hubungan antar tokoh, sang sineas juga menyinggung persoalan isu-isu sosial-pemerintahan.

Baca Juga  Danur

Walaupun Aruna dan Bono memiliki passion ke masakan, namun masih dirasa kurang bagaimana mereka memaknai secara filosofis masakan yang mereka santap. Jika lebih diperdalam rasanya akan lebih menarik. Dalam adegan dan beberapa dialognya, mencoba mengaitkan “lidah” Aruna yang istimewa dalam hal mencicipi masakan dengan masalah yang Aruna tengah hadapi, yakni tak mau berkata jujur tentang perasaannya terhadap Farish. Sang sineas juga mencoba membuat adegan surealis, membawa Aruna dalam alam mimpi untuk menegaskan hal ini. Klimaks cerita juga terasa kurang menggigit, mungkin karena titik low moment sebelum klimaks masih belum maksimal hingga chemistry keduanya terasa lemah.

Edwin selalu tak lepas dari sentuhan sinematiknya, misalkan dalam hal mise-en-scene. Walaupun setting kisah filmnya berada di era kini, namun terasa sekali nuansa era 1980-an akhir hingga 1990-an awal. Hal ini terlihat dari gaya busana, model rambut, dan asesoris yang dipakai para pemainnya. Edwin juga menggunakan nomor-nomor lawas era tersebut, seperti Aku ini Punya Siapa (January Christy) dan Antara Kita (Sita Nursanti) – yang menjadi soundtrack filmnya, serta Takkan Apa (Yura Yunita).

Eksplorasi sinematik lainnya yang menarik adalah “menembus tembok keempat”, di mana Aruna sering kali berkomunikasi dengan penonton untuk menceritakan tentang kisah hidupnya, menggambarkan suasana hati, dan mengomentari rekan-rekannya. Pendekatan ini menjadi bumbu komedi sepanjang filmnya.

Setelah sukses sebagai sutradara terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2017, Edwin rupanya terus mencoba untuk memproduksi film-film roman sebagai genre populer di negeri ini. Karya-karyanya ini tentu akan membawa warna bagi perfilman nasional, dan diharapkan mampu mendorong para sineas lain untuk mau bereksplorasi dengan bahasa visual dalam menuturkan filmnya.

WATCH TRAILER

[/embed

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaMunafik 2
Artikel BerikutnyaI Think We’re Alone Now
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini