Rapuhnya Kontinuitas Semesta Sinematik

Secara konsep cerita, Asih 2 memiliki kemiripan dengan film horor barat, Mama (2013). Ketika dua gadis manusia tanpa orang tua yang telah lama bertahan hidup di sebuah rumah tua di hutan belantara, bertemu pasangan suami-istri yang kemudian mengadopsi mereka. Perbedaannya terletak pada status hubungan antara sang hantu dengan si anak. Sosok hantu dalam Mama memanglah ibu kandung dari kedua gadis yang ditemukan di hutan. Lain halnya dengan Asih 2, sang hantu bukanlah ibu kandung Amalia atau Anna. Gadis hutan yang kemudian diadopsi oleh Sylvia dan Razan, pasangan dokter dan komikus. Kendati memiliki kemiripan, tetapi tidak seperti sosok antagonis dalam Mama, logika yang membangun sosok Asih sendiri terlihat lemah.

Tokoh Asih ini selalu berada dalam kondisi yang terombang-ambing. Tidak dapat disimpulkan dengan baik, ketika ditarik benang merah logika kesinambungan sikap sang hantu dari ketiga kemunculannya dalam tiga seri filmnya. Untuk sekadar mengingatkan, lini masa sosok Asih dalam serinya adalah sebagai berikut, Asih, Asih 2, lalu Danur: I Can See Ghost. Semenjak penceritaan detail latar belakang sosoknya dalam Asih, sikapnya sudah sukar sekali untuk dapat diterima dengan baik. Sulit untuk kemudian mengaitkan ujung kisahnya dengan kemunculan perdana sosok tersebut dalam Danur: I Can See Ghosts. Singkatnya, bisa dikatakan jalinan relasi antarseri tersebut nyaris tidak tersambung dengan baik.

Masalah utama dari seri “Asih” sebetulnya terletak pada seri pertama, yakni latar belakang penokohan karakter Asih yang bisa dibilang lemah sehingga penonton sulit bersimpati kepada tokohnya. Motif aksi dari hantu Asih pun menjadi sangat dipertanyakan. Asih membunuh bayinya lalu mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sebuah pertanyaan yang mengganjal, mengapa hantu Asih begitu naifnya menginginkan bayi orang lain yang tidak memiliki sangkut paut dengan masalah masa silamnya. Lemahnya motif ini tentu berdampak pada latar belakang kisah Asih 2. Coba kita bandingkan dengan film horor Malam Satu Suro (1988) yang diperankan oleh Suzzanna. Kisahnya mengenai pembalasan sang hantu, karena anaknya diculik dan dibunuh oleh sekelompok orang. Motif aksi sang protagonis jelas dan tegas di sini.

Baca Juga  Along with the Gods Series: Bicara Soal Alam Akhirat dan Manusia

Sosok Asih lalu ditempatkan pada pengembangan cerita yang tidak sinkron dengan film sebelumnya. Asih memungkasi puncak konflik antara sang hantu dan keluarga Andi-Ita dalam berebut Amalia dengan penanaman kembali sisir milik Asih ke tempatnya semula. Namun Asih 2 justru menghancurkan solusi dari Asih ini secara langsung melalui adegan pembukanya. Asih ternyata dapat dengan leluasa kembali mengusik ketenangan keluarga Andi dan Ita. Pembuka Asih 2 menjadikan solusi kekacauan yang mengakhiri cerita Asih tidak ada gunanya. Sia-sia saja menancapkan kembali sisir milik Asih ke tempatnya semula, bila pada akhirnya tanpa benda tersebut pun dia masih bisa membawa pergi targetnya.

Kedatangan kembali sang hantu ke tengah-tengah rutinitas kehidupan manusia berikutnya ialah dalam Danur: I Can See Ghosts. Kemunculan kembali dengan pemicu yang berbeda dari Asih 2, tetapi masih mengandung logika cerita yang lemah. Asih yang notabene-nya telah menyudahi teror yang dilakukannya untuk merebut Anna dari dekapan Sylvia dan Razan dalam Asih 2, lantas berulah lagi melalui Danur: I Can See Ghosts. Bagaimana mungkin dia kembali pada sikap lamanya sebagaimana dalam Asih untuk merebut seorang gadis kecil dari keluarganya, dan menganggap sang gadis sebagai putrinya? Sedangkan pada akhir kisah Asih 2, dia sudah mengikhlaskan permasalahan yang membuat arwahnya tidak tenang. Logika kesinambungan cerita antarketiga film ini sangat tidak masuk akal. Sementara ketiganya sama-sama berada dalam satu semesta cerita yang semestinya memiliki kausalitas jalinan cerita yang terhubung dengan baik. Seolah penulis naskahnya tidak memiliki kesadaran terhadap sosok Asih dari seri sebelumnya.

NEXT: Estetika Horor dan Eksplorasinya

1
2
3
4
5
Artikel SebelumnyaOpen
Artikel BerikutnyaSerigala Langit
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.