Estetika Horor dan Eksplorasinya

Meski logika yang membangun sosok sang hantu beserta sikapnya dalam tiga kali kemunculannya lemah, namun olah peran aktrisnya tergolong kuat. Shareefa Danish, sang pemeran Asih, menunjukkan kebolehannya yang terbentuk sejak bermain dalam Rumah Dara (2009). Permainan aktingnya sebagai sosok misterius, menyeramkan, pembawa teror, dan sulit dihindarkan dari kewaspadaan sudah terbangun sejak peran besarnya melalui film slasher tersebut. Meski sempat memerankan karakteristik yang 180° berbeda dalam film komedi romantis Imperfect dan Toko Barang Mantan, namun pembawaannya sebagai sosok hantu dalam Asih 2 tetap tidak tergoyahkan. Sosok hantu yang mengusik ketenangan, mendatangkan bahaya, hingga mengancam nyawa. Shareefa bisa dikatakan sebagai aktris yang dapat memasuki ruang-ruang akting bertipikal horor, slasher, ataupun thriller.

Ihwal sensasi yang tidak pernah absen dalam sebuah film horor, ketegangan yang diberikan Asih 2 tidaklah keterlaluan mengecewakan. Kendati mengalami pergantian sutradara, Asih 2 berupaya menambah durasi intensitas ketegangannya dari yang telah dihadirkan Asih. Asih 2 berusaha meningkatkan tempo dan intensitas ketegangan. Bahkan sejak film bermula, protagonisnya sudah dipertemukan dengan masalah serius yang berkaitan dengan sosok sang hantu. Intensitas ketegangan yang dibangun sejak awal tampak menarik, karena mempermainkan dimensi informasi yang membuat penonton merasakan ketegangan. Bagaimana tidak, penonton mengetahui bahwa Anna yang dibawa pulang oleh dr. Sylvia adalah anak yang selama ini dirawat oleh hantu Asih. Jadi tentu saja tarik ulur penundaan informasi kepada karakter protagonis sengaja dipermainkan untuk menjaga intensitas ketegangan itu sendiri, walau sayang banyak adegan berikutnya terkesan mengulur. Sang sineas rupanya tidak cukup terampil menjaga tren positif ini ke dalam pengembangan cerita film maupun klimaksnya.

Tipikal film horor kebanyakan dalam membangun efek ketegangan salah satunya terletak pada jumpscare. Jumpscare menjadi tren andalan para filmmaker untuk membangun efek kejutan (baca: mengagetkan), melalui permainan kamera, setting, editing, serta paling favorit tentu saja, efek suara dan musik. Tidak salah memang, namun terkadang mereka melupakan esensi dari film horor itu sendiri, yakni membangun suasana atau mood seram dan kengerian dalam kisahnya. Dua hal ini juga belum maksimal dalam film Asih 2. Terlebih trik jumpscare yang dibangun cenderung menjadi lebih bersifat fisik (sekadar kejutan) serta justru menghilangkan unsur ketegangan yang telah dibangun di awal.

Baca Juga  10 Pertanyaan Besar dalam Infinity War

Kurang maksimalnya suasana seram dan kengerian dalam kisah Asih 2 ditunjukkan pula melalui eksplorasi setting yang tanggung. Meski bila dilihat dari pandangan yang lebih luas, ada upaya untuk menghadirkan tawaran lain ketimbang tiga seri Danur melalui setting minimalis-nya. Asih 2 pun menampilkan tone film yang sedikit berbeda daripada kebanyakan film horor masa kini dengan nuansa era tahun 1980-an. Tone film ini dalam setting-nya lantas dimanfaatkan untuk memberi dukungan terhadap kebutuhan suasana seram. Meski belum bisa dirasakan secara kuat, namun sedikit mengungguli keempat pendahulunya (termasuk Asih).

Intensitas ketegangan Asih 2 kemudian coba dibangun melalui interaksi antar tokohnya. Namun sayangnya, ini tidak mampu menembus sekat-sekat dalam setting-nya dengan tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk mengolah adegan sesuai tuntutan kisahnya. Satu tokoh (Emak) yang seharusnya bisa menopang sisi ketegangan, karena ia mampu merasakan kehadiran “Asih” di sekitar Anna, justru tidak dieksplorasi maksimal. Walhasil, potensi setting yang dimiliki Asih 2 menjadi sia-sia.

NEXT: Mau ke Mana Film Horor Indonesia?

1
2
3
4
5
Artikel SebelumnyaOpen
Artikel BerikutnyaSerigala Langit
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.