Emma' (Mother) (2016)

77 min|Biography, Drama|29 Sep 2016
7.0Rating: 7.0 / 10 from 163 usersMetascore: N/A
Athirah's life is shattered when another woman enters her husband's life. In a time and cultural background where polygamy is still widely accepted, Athirah struggles alone with the hurt and humiliation.

Film yang diangkat dari novel yang juga berjudul Athirah ini merupakan kisah nyata yang terinspirasi dari ibunda wakil presiden kita, Jusuf Kalla. Film ini bercerita tentang sebuah keluarga pada era 1950-an dengan latar kebudayaan Bugis, Makassar. Athirah (Cut Mini) dan Puang Ajji (Arman Dewarti) adalah pasangan suami istri yang yang merantau ke Makassar bersama anak-anak mereka. Mereka membuka usaha bersama dan lambat laun dianggap menjadi tokoh masyarakat. Seiiring berjalannya waktu, Athirah harus menerima kenyataan bahwa suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Film ini singkatnya bercerita tentang perjuangan Athirah mempertahankan keutuhan keluarganya. Ucu (Christoffer Nelwan) sebagai anak yang tertua selalu mendampingi ibunya dan memiliki kegelisahan akan apa yang dialami ibunya.

Plot film ini secara umum berfokus pada dinamika persoalan keluarga Athirah hanya plot Ucu dan Ida kurang digali lebih dalam lagi. Konflik utama yang muncul di awal secara tegas telah dimunculkan ketika Athirah harus menghadapi situasi bahwa suaminya akan menikah lagi. Dari momen ini intensitas dramatik mulai naik. Selanjutnya cerita menggambarkan bagaimana keseharian Athirah harus bergulat dengan perasaan sekaligus mengurus keluarganya. Walau hanya memperlihatkan aktivitas keluarga Athirah namun sang sineas mampu membangun adegan-adegan yang menyentuh dan mengalir. Tone film yang terlihat sepi dan tak banyak dialog cukup mampu merepresentasikan perasaan hati Athirah.

Baca Juga  Rumah Merah Putih

Kisah film yang mengambil era 1950 – 1960-an dengan berlatar kebudayaan Makassar menyajikan keunikan tone filmnya. Opening Credit di awal yang menggambarkan acara adat pernikahan khas Sulawesi Selatan dengan frame fullscreen dan teknik gambar hitam putih mampu menggiring penonton untuk masuk ke cerita filmnya. Teknik penceritaan dengan monolog interior yang diucapkan oleh Ucu di awal dan akhir film memberikan pengantar akan kisah hidup keluarganya sekaligus konklusi akan apa yang mereka hadapi, walaupun narasi sebenarnya masih bisa dipertajam lagi. Untuk menggambarkan konteks waktu latar filmnya seringkali digunakan teknik montage sequence yang efektif menggambarkan perjalanan Athirah dari waktu ke waktu.

Nampaknya tak begitu sulit untuk mengakali setting era ini dengan banyaknya penggunaan adegan yang menggunakan setting interior. Akting para pemainnya pun cukup natural. Suasana kedaerahan terlihat dengan dialek yang dibawakan oleh aktor dan aktrisnya. Athirah yang diperankan Cut mini terlihat berperan sangat baik sesuai perannya. Pengambilan gambar yang cenderung dekat (close) cukup mampu menunjukkan intensitas emosi dari pemainnya. Salah satu unsur yang paling dominan dan menjadi kunci kekuatan film ini adalah unsur musik yang mampu membangun mood sepanjang filmnya. Bahkan pada beberapa adegan, ilustrasi musik dipadukan dengan musik lokal sehingga nuansanya khas. Riri Reza sendiri sebagai sang sineas telah beberapa kali menggarap film-film bernuansa lokal seperti Laskar Pelangi (2008) dan Atambua 39⁰Celsius (2012). Dari beberapa film yang pernah ia garap mungkin Athirah adalah salah satu filmnya yang berkualitas dengan mampu menyajikan sebuah drama keluarga yang cukup kompleks bernuansa lokal yang khas.

WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=LxSTFElo3iI0

Artikel SebelumnyaMiss Peregrine’s Home for Peculiar Children
Artikel BerikutnyaBen-Hur
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.