Australia (2008)

165 min|Adventure, Drama, Romance|26 Nov 2008
6.6Rating: 6.6 / 10 from 130,089 usersMetascore: 53
In 1939, an Englishwoman inherits a sprawling ranch in northern Australia and reluctantly makes a pact with a stockman to drive 2000 head of cattle over unforgiving landscape.

Australia (2008) merupakan film keempat garapan sineas Baz Luhrmann yang beberapa tahun silam sukses dengan film-film roman musikalnya yang unik, seperti Romeo + Juliet (1996) dan Moulin Rouge (2001). Luhrmann kali ini kembali berkolaborasi bersama Nicole Kidman dengan didampingi beberapa aktor bintang seperti, Hugh Jackman dan David Wenham. Dalam ajang Academy Awards tahun ini, film ini meraih nominasi Oscar untuk rancangan kostum terbaik.

Kisah filmnya berlatar beberapa tahun sebelum Perang Dunia Kedua. Alkisah seorang wanita bangsawan, Lady Sarah Ashley (Kidman) menyusul Lord Ashley, suaminya ke Australia. Sesampainya di Kota Darwin, Sarah ditemani oleh orang kepercayaan suaminya, Drover (Jackman) untuk mengantarnya ke pedalaman Faraway Downs, tempat dimana suaminya tinggal. Di lain pihak, lahan Lord Ashley menjadi incaran pengusaha ternak lokal, King Carney, yang telah menguasai seluruh wilayah utara Australia, kecuali Faraway Downs. Dengan dibantu Neil Fletcher (Wenham), bawahan Lord Ashley yang culas, Ashley dibunuh dan menuding seorang Aborigin tua sebagai pembunuhnya. Sarah yang mengetahui suaminya tewas bertekad melanjutkan niat suaminya untuk membawa ribuan ternak miliknya ke Darwin. Dengan dibantu Drover dan seorang Aborigin cilik, Nullah, Sarah mengawali petualangannya di tanah Australia.

Setelah menonton filmnya, rasanya paling sulit adalah menentukan genre filmnya. Amat jarang film yang memadukan genre petualangan, western, drama, roman, perang, komedi, hingga mistik dalam sebuah film seperti ini. Plot filmnya sendiri merupakan kombinasi beberapa plot film lain yang kisahnya mirip, yakni film western klasik Red River (1948), film drama biografi Out Of Africa (1985), serta film perang Pearl Harbour (2001). Pertanyaannya mampukah Australia memadukan elemen-lemen tersebut dengan baik? Rasanya tidak… Plot film berdurasi hampir tiga jam ini memang panjang dan cukup kompleks serta dituturkan dengan tempo cepat gaya khas Luhrmann. Panjang dan sangat melelahkan… konflik seolah tak kunjung usai. Terlalu banyak cerita dalam filmnya, dan rasanya akan lebih baik jika dipecah menjadi tiga film atau terfokus pada satu kisah saja. Gaya bertutur Luhrman yang cepat memang efektif untuk film-film bertema sederhana macam Romeo + Juliet dan Moulin Rouge, namun rasanya kurang cocok untuk plot Australia yang kisahnya panjang dan kompleks. Lebih dari separuh filmnya, sineas nyaris tak pernah memberikan kesempatan untuk mengambil nafas. Gaya bertutur Luhrmann yang cepat membuat kita sulit untuk masuk (bersimpati) ke dalam karakternya, karena mata kamera jarang berlama-lama dengan seorang karakter. Hal ini banyak membuat momen-momen dramatik serasa roti tanpa isi…. hambar.

Baca Juga  I.S.S.

Luhrmann seperti di film-film terdahulunya kembali mampu mengemas dengan gaya khasnya yang dinamis dan penuh warna. Satu hal yang paling menonjol adalah penyajian panorama negeri Australia yang sangat indah melalui pencapaian sinematografi yang menawan. Panaroma senja, malam, hingga siang hari mampu disajikan sama indahnya dalam banyak momen terutama separuh awal durasi film. Efek visual (CGI) juga tampak dominan digunakan terutama untuk sekuen-sekuen aksinya. Sekuen aksi, seperti ribuan ternak yang berlarian panik (“stampede”) mampu disajikan begitu meyakinkan, juga ketika Darwin dibombardir puluhan pesawat tempur Jepang. Salah satu momen yang tak terlupakan adalah ketika dari dalam truk Sarah melihat serombongan Kangguru yang berlompatan dengan indahnya. “Oh it’s beatiful.. look at them jumping” dan mendadak Sarah menjerit kaget ketika seorang anak buah Drover menembak Kangguru tersebut.

Australia merupakan sebuah tontonan lengkap yang cukup menghibur utamanya melalui panaromanya yang sangat memukau. Filmnya sendiri hanya menarik pada separuh durasi awal saja dan akhir kisahnya pun terlalu mudah untuk ditebak. Tak ada yang istimewa dari permainan akting para bintangnya, kecuali kostum dan setting-nya. Dari sisi kualitas film ini masih jauh dibawah Romeo+Juliet dan tentu saja karya masterpiece Luhrmann, Moulin Rogue. Walau gaya editing cepat serta pergerakan kamera yang dinamis telah meluntur namun Luhrmann masih mampu membuat film berdurasi panjang ini tidak terasa membosankan, sekalipun ada sesuatu yang hilang dalam filmnya. Bagi Anda yang ingin menonton filmnya rasanya tidak rugi jika menontonnya di gedung bioskop, Anda nikmati saja panorama alam Australia yang sangat indah.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaPara Peraih Nominasi dan Pemenang Oscar, Academy Awards ke-81
Artikel BerikutnyaThe Curious Case of Benjamin Button
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.