Avatar (2009)
162 min|Action, Adventure, Fantasy|18 Dec 2009
7.9Rating: 7.9 / 10 from 1,394,035 usersMetascore: 83
A paraplegic Marine dispatched to the moon Pandora on a unique mission becomes torn between following his orders and protecting the world he feels is his home.

Avatar adalah film fantasi-fiksi-ilmiah garapan sineas kondang James Cameron. Cameron kita kenal melalui karya-karya monumentalnya seperti, Terminator (1984), Aliens (1986), Terminator 2 (1991), serta Titanic (1997). Film semi-animasi berbujet produksi $237 juta ini dibintangi oleh Sam Worthington, Sigourney Weaver, Michelle Rodriguez, serta Giovanni Ribbisi. Akankah film ini bisa menjadi film monumental seperti karya-karya Cameron sebelumnya?

Pandora adalah sebuah planet indah nan subur yang dihuni secara damai oleh sebuah ras asing (nonmanusia) bernama Na’vi. Manusia bumi yang rakus mengincar sebuah mineral berharga yang nilainya ribuan kali lipat dari berlian. Pendekatan persuasif coba dilakukan melalui sebuah proyek ilmiah bernama Avatar. Para ilmuwan mengkloning tubuh ras Na’vi yang berfungsi sebagai tubuh inang yang nantinya dikendalikan oleh pikiran manusia. Harapannya avatar-avatar ini mampu beradaptasi dengan ras setempat dengan lebih mudah. Seorang mantan marinir lumpuh kaki, Jack Sully (Worthington) terpilih menggantikan saudara kembarnya sebagai operator Avatar. Tugas Jack sederhana, yakni mencari tahu apa yang diinginkan bangsa Na’vi agar mau pindah dari lokasi mereka sekarang tinggal. Jack yang setiap hari menjalani keseharian hidup bersama suku Na’vi lambat laun justru semakin jatuh hati dengan mereka.

Apa yang bisa diperbuat sineas sekelas Cameron untuk membuat film animasi panjang? Dengan bujet produksi yang tidak tanggung-tanggung pula dengan teknologi yang sangat mapan (kombinasi 60% CGI & 40% live action) hasilnya adalah sebuah mahakarya mengagumkan tiada bandingan. Pencapaian grafisnya sunguh sulit diungkapkan kata-kata membuat film-film animasi sejenis macam Up dan Chrismast Carol yang dirilis baru lalu layaknya film animasi amatiran. Cameron mampu membawa kita ke negeri Pandora dengan pesona alamnya yang sangat indah dan menawan bak nirvana mampu membius kita sehingga seolah benar-benar berada disana. Kita dibawa ke sebuah negeri diluar jauh imajinasi kita yang disajikan begitu mendetil baik flora dan fauna dengan warna-warni yang sangat natural. Dalam sekuen klimaks kita juga disajikan aksi pertempuran udara nan menawan yang sangat memukau. Jika Anda menonton film ini di bioskop 3D tentunya akan lebih mengagumkan lagi.

Baca Juga  Alita: Battle Angel

Bicara plot filmnya memang bukan hal yang baru. Kisah filmnya bahkan memiliki banyak kemiripan dengan film animasi yang rilis baru lalu, yakni Battle of Terra. Alur kisahnya bagi para penonton fanatik film sejenis pasti juga mudah ditebak sejak awal. Yes, it’s too predictable but it has more… Lalu apa istimewanya? Entah mengapa pencapaian sempurna grafisnya sangat mempengaruhi plotnya. Sejak awal kita disajikan sebuah pesona alam yang sangat memukau dan meyakinkan hingga ketika semua itu rusak karena ulah manusia sungguh-sungguh terasa menyesakkan dada. Plotnya juga memberi kejutan kecil. Judul Avatar ternyata bukan hanya sekedar nama proyek ilmiah saja, namun juga adalah “avatar”, seorang juru selamat. Hubungan asmara beda ras antara Jack dengan Neytiri juga terjalin begitu manis menghasilkan sebuah adegan menyentuh di penghujung filmnya.

Avatar merupakan film untuk semua kalangan dan usia dengan kisah sederhana yang dikemas sangat istimewa. Seperti film-film garapan Cameron sebelumnya unsur baik dan jahat dibedakan secara tegas plus adegan-adegan aksi seru yang berkualitas. Avatar juga memasukkan isu-isu yang menjadi masalah utama kita kini seperti masalah lingkungan, ketamakan manusia, hingga ras. Seperti film-film Cameron sebelumnya, satu kalimat istimewa terucap pada adegan klimaks yang ditujukan Kolonel Miles untuk Jack, “Bagaimana rasanya mengkhianati rasmu sendiri?”. Tidak berlebihan jika kita katakan Avatar sejauh ini adalah merupakan karya terbaik Cameron. Absen satu dekade ternyata tidak lantas membuat kemampuan sang sineas meluntur. Avatar juga merupakan salah satu film fantasi-fiksi ilmiah terbaik yang pernah ada dan juga tidak berlebihan rasanya jika saya katakan merupakan salah satu film terbaik sepanjang masa.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaDari Redaksi mOntase
Artikel BerikutnyaSherlock Holmes
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.