Baby Driver (2017)

113 min|Action, Crime, Drama|28 Jun 2017
7.5Rating: 7.5 / 10 from 613,210 usersMetascore: 86
After being coerced into working for a crime boss, a young getaway driver finds himself taking part in a heist doomed to fail.

Sineas asal Inggris, Edgar Wright kita kenal sebelumnya melalui film-film komedi unik, Shaun of The Dead, Hot Fuzz, The World’s End, hingga Scott Pilgrimm vs. The World. Setelah kecewa dengan perbedaan visi untuk menggarap Ant-Man, Edgar menggarap Baby Driver yang bisa dianggap sebagai karya terbaiknya hingga kini. Kali ini tidak bersama para pemain regulernya (Simon Pegg cs), Edgar mengkasting bintang muda Ansel Elgort dan Lily James, bersama aktor-aktor senior macam Kevin Spacey, Jamie Foxx, John Hamm, serta Jon Bernthal.

Baby (Elgort) adalah seorang pengemudi muda handal yang terpaksa bekerja pada seorang gembong kriminal bernama Doc karena hutang yang ia miliki. Entah sudah beberapa kali ia sukses membantu Doc menjalankan operasi perampokan bank. Hingga suatu saat, Baby mampu melunasi hutangnya, dan ia salah besar ketika menganggap dirinya telah lepas dari cengkraman Doc.

Film ini adalah semuanya tentang sang sineas, Edgar Wright, yang juga bertindak sebagai penulis dan produser. Kisah aksi perampokan bank memang bukan hal baru dalam film, sejak film klasik berkualitas macam Dog Day Afternoon hingga seri aksi populer Fast & Furious yang mulai merambah subgenre ini. Sang sineas mampu mencari celah baru melalui tokoh Baby, seorang pengemudi muda baik hati di tengah kelompok kriminal yang kasar dan brutal. Film-film Edgar, selalu memiliki tokoh yang unik dan tiap tokoh memiliki karismanya sendiri, bahkan hingga bocah cilik sekali pun. Tidak seperti aktor regulernya (Simon Pegg), Edgar kali ini memiliki tokoh yang lebih serius, tak ada satu pun tokoh yang suka membanyol, namun sisipan komedi mampu muncul dalam aksi maupun dialognya yang cerdas. Satu contohnya dialog manis antara Baby dan Debora ketika awal mereka bertemu. Edgar juga tidak mau bermain aman dalam pengembangan plotnya, selalu ada kejutan yang tak diduga, emosi penonton mampu ia permainkan sedemikian rupa. Di akhir, ia lebih memilih “value (nilai)” ketimbang “happy ending”. Sesuatu yang jarang kita jumpai dalam genrenya.

Baca Juga  Wendy

Bukan sang sineas jika ia tidak mampu mengemasnya dengan gaya yang unik. Film-filmnya selalu bertempo cepat dengan gaya sinematografi (shot-shot dekat) dan editing yang dinamis terutama pada adegan-adegan aksinya. Satu hal yang sangat dominan kini adalah unsur musik. Sepanjang filmnya, musik dan lagu silih berganti nyaris tanpa henti yang menjadi jiwa filmnya. Tempo editing hingga efek suara, semua mengikuti irama dan tempo musiknya. Bahkan efek suara tembakan bisa berpadu sempurna dengan suara hentakan musiknya. Edgar yang memang sering menggarap video klip musik terasa benar sentuhannya di sini.  Satu film utuh terasa sebagai pencapaian estetik yang menyegarkan. Tak diduga, ia juga mampu membuat salah satu adegan aksi kejar-mengejar mobil terbaik yang pernah ada dalam medium film.

Baby Driver adalah segar untuk subgenrenya baik plot maupun gaya sinematiknya yang menjadi ciri sang sineas, plus sisi dan nilai manusiawi yang amat langka di genrenya. Sang Sineas tampak semakin matang dengan dukungan kasting menawan di luar regulernya. Elgort dengan pesona dan bakat aktingnya rasanya bakal menjadi primadona baru kalangan muda-mudi. Baby Driver satu tontonan yang sangat menghibur, sarat dengan musik dan lagu, tokoh-tokoh eksentrik, unsur komedi, aksi yang mengesankan, serta mampu mendefinisikan dengan tegas makna cinta sejati.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaAmerican Made
Artikel BerikutnyaNyai Ahmad Dahlan
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.