Bersamaan dengan liburan lebaran, sudah menjadi tradisi film-film besar dirilis pada momen ini. Badarawuhi di Desa Penari adalah film prekuel dari film horor fenomenal KKN di Desa Penari yang kini digarap oleh sineas spesialis horor, Kimo Stamboel. Film ini dibintangi Aulia Sarah, Maudy Effrosina, Jourdy Pranata, M. Iqbal Sulaiman, Ardit Erwandha, Claresta Taufan Kusumarina, dan Diding Boneng. Melalui sentuhan baru sang sineas, mampukah film ini mengangkat kualitas film sebelumnya serta pula meraih sukses komersial yang sama?

Kakak Beradik, Yuda (Pranata) dan Mila (Effrosina) bersama dua rekannya, Jito dan Arya menyambangi satu desa terpencil di tengah hutan di wilayah Jawa Timur. Ibu mereka menderita sebuah penyakit aneh dan orang pintar (dukun) menyuruh mereka untuk mengembalikan barang milik ibu mereka ke desa tersebut. Desa yang dimaksud bernama Desa Penari yang konon adalah desa para penari yang memiliki tradisi turun temurun. Di sana, mereka dirujuk untuk bertemu mbah buyut (Boneng), namun yang bersangkutan tengah pergi sehingga mereka pun terpaksa menginap. Keanehan-keanehan pun terjadi sejak mereka di sana, khususnya Mila yang didatangi sesosok entiti gaib bernama Badarawuhi. Rupanya, ibu Mila memiliki relasi masa silam yang kelam dengan desa ini.

KKN di Desa Penari memang sangat impresif dalam capaian komersialnya dengan menjadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia hingga kini. Namun, kisahnya memiliki banyak problem tersendiri yang membuatnya tidak bisa dikategorikan sebagai film horor bagus. Problema plotnya telah lengkap diulas dalam artikel: Logika yang Menari-Menari dalam KKN di Desa Penari. Lantas apa yang diharapkan dari film prekuelnya ini? Satu hal jelas adalah reputasi sang sineas, Kimo Stamboel yang kita tahu telah banyak memproduksi film-film horor bagus, sebut saja Ratu Ilmu Hitam, Ivanna, Sewu Dino, hingga seri Teluh Darah.

Apa yang kita harapkan dari Badarawuhi rupanya jauh berbeda dengan film-film garapan sang sineas sebelumnya, walau olah naskahnya kini sedikit lebih baik dari sebelumnya. Seperti tipikal gaya plotnya, alurnya kini bergerak cepat dan nyaris nonstop, jauh dari slow pace yang disajikan KKN di Desa Penari. Temponya kini tidak membuat penonton lelah dan membosankan, apalagi terasa repetitif seperti sebelumnya. Trik jump scare tidak banyak digunakan dan sebagai film horor, Badarahuwi pun juga tidak seseram yang kita bayangkan. Aksi brutal yang menjadi trademark sang sineas juga tidak tersaji sama sekali (untuk mengejar rating R13+). Sisi ketegangan memang kini lebih menonjol ketimbang jump scare dan aksi brutal. Namun, tensi ketegangan rupanya tidak cukup untuk mengangkat filmnya karena problem cerita yang lagi-lagi menjadi titik lemah terbesar. Poin besarnya adalah sekalipun naik level dari sebelumnya, namun sang sineas tidak banyak memberi tendangan kuat bagi Badarawuhi untuk bisa membuat film horor yang membekas.

Baca Juga  Panggil Aku Ayah | REVIEW

Apa yang sebenarnya kita harapkan dari kisah prekuelnya? Tentunya adalah latar belakang sosok entiti gaib yang menjadi titel filmnya. Apakah Badarawuhi menjawab ini dengan memuaskan? Sama sekali tidak. Plotnya justru lebih mengarah pada problem warga desa dengan sang entiti gaib dengan tidak banyak menjelaskan urgensi yang sebenarnya terjadi. Banyak pertanyaan tak pernah terjawab dengan jelas. Dari mana sebenarnya sang entiti berasal, lalu apa relasinya dengan Desa Penari dan warganya yang kebetulan banyak berprofesi sebagai penari. Apa sih imbal baliknya? Mengapa Badarawuhi meminta “tumbal”? Jika memang tidak ada untungnya, mengapa pula warga tetap memilih tinggal di sana? Berbeda misalnya jika Badarawuhi memberi mereka panen melimpah, hidup makmur, awet muda, atau apalah itu yang membuat mereka betah di sana. Faktanya, seorang perempuan (Ibu Mila) membawa lari gelang lengan sang entiti untuk menyelamatkan desa, namun kutukan pun masih terjadi. Belum jelas, apa yang membuat peristiwa dalam plotnya harus terjadi sekarang? Coba tengok lagi, apa sebenarnya pengaruh gelang lengan antik itu bagi sang entiti? Dikembalikan atau tidak, berkesan tidak ada bedanya. Jika diulur lagi, banyak pertanyaan masih belum terjawab yang melemahkan sisi misteri dan ketegangan kisahnya.

Badarawuhi di Desa Penari, memiliki problem cerita yang sama dengan film sebelumnya dengan gaya kemasan estetik yang kurang menggigit dari sang sineas. Badarawuhi hanyalah sedikit peningkatan dari film sebelumnya karena tempo cerita yang lebih agresif. Kontinuitas set juga mampu dijaga dengan baik, seperti  jembatan menuju desa, suasana kampung, rumah joglo di tengah hutan, walau hanya sedikit janggal adalah kolam padusan bagi warga perempuan yang kali ini dikelilingi tembok. Problem bahasa yang menjadi ciri khas film berlatar daerah juga masih terlihat dengan sering kali terlontar logat yang kaku. Tak banyak komentar soal penampilan para pemain, selain Maudy Effrosina (Mila) yang tampil dominan dan mencuri perhatian. Tak ada keraguan, film ini bakal sukses komersial karena sensasinya, sekalipun mustahil mendekati sukses film sebelumnya. Kisah seri Desa Penari bakal diproduksi lagi kelak, entah melalui perspektif cerita apa. Harapan tentu bisa lebih baik dari dua film ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel Sebelumnya3 Body Problem
Artikel BerikutnyaSiksa Kubur
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses