Siapa yang tak kenal ksatria malam bersimbol kelelawar ini? Batman bisa jadi adalah salah satu ikon pop culture paling populer dalam sejarah manusia, dari komik, radio, televisi, merchandise, mainan, video game, hingga film. Everybody needs a hero. Mungkin ini adalah alasan mengapa superhero, termasuk diantaranya Batman, bisa diterima secara universal oleh beragam budaya di bumi ini. Dalam dunia film, Batman adalah sosok superhero paling populer, paling laris, dan paling banyak diproduksi dari masa ke masa. Satu hal yang menarik adalah interpretasi medium film terhadap ksatria malam ini muncul dalam berbagai bentuk dan gaya melalui imajinasi para pembuat filmnya.

Batman muncul pertama kali dalam bentuk komik keluaran DC Comics pada tahun 1939, yakni Detective Comics edisi bulan Mei #27 yang digambar oleh Bob Kane dan kisahnya ditulis oleh Bill Finger. Nama identitas asli Batman, sang milyuner Bruce Wayne, kostum dan topeng kelelawar yang khas hingga sabuk serba guna, semua telah diperkenalkan. Hingga tahun 1942, semua elemen yang membentuk cerita Batman telah diperkenalkan dalam komiknya, seperti karakter Alfred, Inspektur Gordon, sang partner Robin, Batmobile, Batplane, hingga karakter antagonis, seperti Joker dan Catwoman.

Adaptasi komik Batman ke film pertama kali, Batman (1943), rilis di bulan Juli tahun 1943 dalam bentuk serial produksi Columbia Pictures. Film pendek 15 chapter berdurasi total 260 menit arahan Lambert Hillyer ini dibintangi oleh Lewis Wilson sebagai Batman dan Douglas Croft sebagai Robin, serta telah menampilkan pula karakter Alfred Pennyworth serta Dr. Daka sebagai karakter antagonis. Serial bioskop yang sekali pun diproduksi low budget ini telah menampilkan bat-cave serta jalan masuk rahasia dari salah satu ruangan di kastil besar Wayne. Film ini sukses komersil dan mempopulerkan karakter Batman dan Robin.

Film serial Batman berikutnya diproduksi tahun 1949, bertajuk, Batman and Robin (1949), terdiri dari 15 chapter dan berdurasi total 263 menit yang kembali diproduksi Columbia Pictures. Robert Lowery dan Johnny Duncan bermain sebagai Dynamic Duo, Batman dan Robin. Dalam seri kali ini menampilkan karakter komisaris Jim Gordon dan reporter Vicky Vale, serta penggunaan “Bat Signal”. Bujet yang sangat minim membuat kostum sang superhero ditampilkan seadanya serta Bat Mobile pun belum muncul. Film seri kali ini menampilkan The Wizard sebagai sang musuh.

Baca Juga  Batman Returns, Perpaduan Komersial dan Art Movies

Setelah vakum beberapa tahun, popularitas Batman semakin menanjak, setelah serial televisi, Batman (1966-1968) ditayangkan hingga tiga musim dengan total 120 episode. Batman untuk pertama kali tampil dalam full colour. Adam West dan Burt Ward bermain sebagai Batman dan Robin. Musuh-musuh besar Batman semuanya telah komplit, Joker, Catwoman, The Penguin, The Ridler, Mr. Freeze dan lainnya. Mengingat bujet yang sangat rendah kendaraan khas Batman yang kerap muncul, Batcycle (sepeda motor). Seri televisinya ini bertahan hingga tiga episode (1966-1968) dan kesuksesannya dianggap sebuah sensasi fenomenal.

Setahun setelah Batman seri televisi ditayangkan, film panjangnya akhirnya dirilis yang diproduksi 20th Century Fox. Batman: The Movie (1966) garapan Leslie H. Martinsen menggunakan semua elemen dan gaya di seri televisinya. Para pemainnya juga nyaris menggunakan seluruh pemain di serialnya. Hal yang menarik dalam film ini mulai diperkenalkan semua kendaraan Batman, yakni Batmobile, Batboat, hingga Batcopter. Tone film berdurasi 104 menit ini juga masih sama seri televisinya yakni, komedi, sama sekali tidak serius, penuh warna, dan memang ditujukan untuk penonton anak-anak. Namun yang patut dicatat adalah film ini menaikkan popularitas Batman dan bahkan menaikkan penjualan komiknya secara drastis.

Sukses serial televisinya memicu diproduksi serial animasinya, The Batman/Superman Hours (1968-1969) produksi Filmation. Dan selanjutnya selama dua dekade ke depan Batman hanya muncul dalam serial animasi televisi. Salah satunya yang menarik adalah Batman dan Robin muncul dalam seri kartun populer produksi Hanna-Barbera, Scooby Doo (1972) dalam dua episode sebagai bintang tamu. Selanjutnya selama tahun 1973 – 1986, Batman juga muncul dalam seri animasi bertajuk Super Friends yang juga produksi Hanna-Barbera. Sementara Adam West dan Burt Ward mengisi suara Batman dan Robin dalam seri animasi produksi Filmation, The New Adventures of Batman. Sayangnya pada saat yang bersamaan komik Batman menurun popularitasnya pada era 70-an hingga 80-an.

NEXT: BURTON’S BATMAN

1
2
3
4
5
Artikel SebelumnyaBatman: The Movie, Batman versi Panjang Seri Televisi
Artikel BerikutnyaDari Redaksi Montase
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.