Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)

151 min|Action, Adventure, Sci-Fi|25 Mar 2016
6.5Rating: 6.5 / 10 from 752,799 usersMetascore: 44
Batman is manipulated by Lex Luthor to fear Superman. Superman´s existence is meanwhile dividing the world and he is framed for murder during an international crisis. The heroes clash and force the neutral Wonder Woman to reemerge.

Sejak Marvel sukses dengan Marvel Cinematic Universe (MCU), DC dan Warner Bros. tampak panik untuk segera membuat universe tandingannya. Proyek yang awalnya diniatkan bertahap mendadak dipusatkan dalam satu film sekuel Men of Steel yang menjadi pembuka dunia superhero DC, atau lebih dkenal DC Extended Universe. Superman, Batman, Wonder Woman, Flash sudah sangat populer dan amat mudah untuk dijual. Baru kali ini beberapa karakter superhero besar muncul dalam satu film sekalipun sebelumnya seri animasi Justice League sudah banyak dirilis dalam bentuk home video. Peluang sukses komersil jelas besar namun bicara masalah kualitas cerita jelas bukan perkara mudah.

Alkisah pasca kejadian yang menhancurkan kota Metropolis, Superman vs Zod, meninggalkan luka mendalam bagi Bruce Wayne karena sahabat terdekatnya tewas. Sekitar satu setengah tahun setelahnya banyak peristiwa besar terjadi. Superman yang dianggap dewa dianggap membahayakan umat manusia karena kemampuan supernya dan tidak ada seorang pun yang mampu mengontrolnya. Sementara Bruce Wayne menyelidiki satu aksi kriminal terselubung yang berujung pada sosok megalomaniak, Lex Luthor. Sosok wanita misterius nan cantik selalu muncul dalam beberapa peristiwa hingga akhirnya Bruce Wayne dapat memecahkannya semua misteri dan semuanya berhubungan dengan Lex.

Siapa yang tidak berekspektasi tinggi pada film kompilasi superhero ini? Gelagat buruk filmnya sudah tampak sejak trailer-nya muncul. Tampak sekali plot filmnya amat memaksa untuk memasukkan banyak karakter besar dalam filmnya. Plot bergantian dari satu tokoh ke tokoh lainnya dengan alur tempo yang relatif cepat dan sedikit membingungkan. Siapapun tahu Batman/Bruce Wayne tidak perlu lagi latar belakang cerita namun opening filmnya adalah yang terburuk dari semua film Batman yang pernah ada. Rumitnya plot, alur cerita cepat, motif cerita dan penokohan karakter yang lemah menjadi penyebab kepedulian pada tiap tokoh menjadi lemah. Semua tampak serba cepat, memaksa, serta membosankan dan kita semua tahu kelak film ini bakal mengarah kemana.

Baca Juga  Ghosts of War

Bicara soal kasting, mungkin ini adalah yang terburuk untuk genrenya. Henri Cavill sudah mapan memerankan Superman/Clark Kent sekalipun masih belum bisa lepas dari sosok Christopher Reeves. Ben Affleck masih tampak terlalu muda untuk memerankan Bruce Wayne tua serta sosok Batman yang sudah beroperasi memberantas kriminal 20 tahun lamanya. Gal Gadot dengan pesona dan kecantikannya masih terlalu kurus untuk karakter Wonder Woman. Terakhir Jesse Eisenberg sebagai si jenius, Lex Luthor adalah pilihan terkonyol dari semuanya dan ia tidak memiliki karisma antagonis sama sekali seperti bocah manja yang merengek tidak dibelikan ayahnya mainan. Semuanya semakin diperburuk dialog yang amat buruk dan kaku nyaris sepanjang filmnya layaknya ditulis penulis naskah amatiran.

Bicara CGI atau rekayasa digital mestinya menjadi salah satu aspek andalan genre ini. Namun nyatanya semua tampak artifisial terutama pada sekuen klimaks. Tidak ada yang baru dari aspek ini dalam filmnya khususnya untuk genre sejenis. Sekuen pertarungan Batman versus Superman yang menjadi andalan justru terasa kurang menggigit. Jika mau melihat pertarungan yang sama, seri animasi home video, The Dark Knigth Returns Part 2, jauh lebih menarik dan berkualitas dari semua yang ada di film ini. Entah mengapa tone warna filmnya juga membuat menjadi tidak menarik untuk dilihat.

Ekspektasi terhadap Batman v Superman: Dawn of Justice berbanding terbalik dengan nama besar dan popularitas tokoh-tokoh ikoniknya. Plot, dialog, CGI, serta pilihan kasting yang buruk cukup menjadikan film ini adalah yang terburuk untuk genrenya. Sungguh sangat tidak bisa dipercaya. Ekspektasi ketika menonton memang tidak tinggi namun kualitas filmnya secara menyeluruh jauh dibawah standar. Sukses komersil jelas tidak terhindarkan namun untuk bisa bersaing secara kualitas dengan MCU atau X-Men Universe sepertinya masih sangat jauh. Semua yang ada di film ini dibuat mengarah ke proyek Justice League dan kelak tidak perlu ekspektasi lebih.

Watch Trailer

PENILAIAN KAMI
Overall
30 %
Artikel SebelumnyaThe Divergent Series: Allegiant
Artikel BerikutnyaWa’alaikumussalam Paris
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.