Batman (1966–1968)
25 min|Action, Crime, Fantasy|12 Jan 1966
7.5Rating: 7.5 / 10 from 25,882 usersMetascore: N/A
The Caped Crusader and his young ward battle evildoers in Gotham City.

Dinamic duo, Batman dan Robin harus menghadapi satu komplotan misterius bernama The United Underworld. Belakangan diketahui kelompok tersebut beranggotakan para penjahat kelas kakap kota Gotham, yakni The Penguin, The Joker, The Penguin, dan Catwoman. Mereka berencana melenyapkan Batman dan Robin yang selama ini menjadi momok bagi mereka sekaligus menguasai dunia. Untuk menjebak Batman, mereka berencana menculik bilyuner kota Gotham, Bruce Wayne, dengan mengirim Cat Woman yang menyamar sebagai wanita Rusia bernama Kitka. Bruce yang terpesona dengan kecantikan Kitka, jatuh hati, dan dengan mudah masuk perangkap Kitka. Para penjahat tak mengerti jika Bruce adalah Batman, dan Bruce akhirnya bisa melarikan diri setelah memperdaya mereka.

Film ini adalah versi panjang dari seri televisinya sehingga harus menampilkan segalanya lebih besar dari biasanya. Musuh-musuh utama Batman dikumpulkan menjadi satu, dengan tujuan dan ambisi jahat yang lebih besar. Plotnya sendiri cukup rumit untuk ukuran anak-anak dan berkembang setiap kali sehingga sulit ditebak. Walau semua orang tahu jika Batman dan Robin akhirnya menang namun ending-nya pun tetap mengambang dengan tulisan “The Living End..?”. Walau bisa dikatakan genrenya komedi namun kisah filmnya sendiri serius, para karakter tidak berusaha melucu namun aksi dan gaya mereka yang membuat kita tertawa. Contohnya ketika Batman berusaha menyingkirkan bom yang akan meledak, sang jagoan harus berlari kian kemari mencari tempat yang aman untuk meledak. “Some days you just can’t get rid of a bomb”. Agak ganjil memang melihat Batman dan Robin selalu beraksi di siang bolong.

Baca Juga  Brandal-Brandal Ciliwung, Bicara Pluralisme dan Lingkungan

Bagi penonton masa kini Batman jelas sudah terlalu kuno. Secara setting dan kostum jelas jauh berbeda pendekatan dengan Batman versi Burton atau Nolan. Gaya televisi jelas masih dominan dengan pencahayaan yang terang benderang, setting interior di studio layaknya opera sabun, kostum layaknya badut, lalu akting dan dialog yang dilebih-lebihkan. Batcave layaknya sebuah laboratorium dengan segala peralatannya yang artifisial. Namun kendaraan Batman seperti Batmobile dan Batboat tidak begitu buruk rancangannya. Teknik fast motion digunakan untuk memperlihatkan dua kendaraan ini mampu melaju cepat. Adegan perkelahian tangan kosong pun cukup unik dengan menambahkan teks seperti “swoosh!, zwaap!, klonk!”, dan sebagainya. Tiap pergantian scene-pun simbol Batman selalu muncul.

Batman versi klasik ini tidak lain hanyalah versi panjang dari seri televisinya. Nuansa televisi terlalu kental dan terasa ganjil melihat Batman yang sejatinya makhluk malam harus beraksi di tempat yang selalu terang benderang. Namun yang menarik adalah karakter-karakter seperti Joker, Riddler, dan Penguin rupanya menjadi inspirasi karakter Batman garapan Burton dan Schumacher. Walau gayanya sudah old fashion tak ada salahnya kita menikmati Batman: The Movie sebagai bagian penting dari sejarah Batman dalam dunia film.

https://www.youtube.com/watch?v=vvY5MgOgDUw

Artikel SebelumnyaBatman Returns, Perpaduan Komersial dan Art Movies
Artikel BerikutnyaBatman Movies
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.