“Where is the Lion?”
Rasanya sudah lama, sejak The Ghost and the Darkness (1996), kisah singa ganas yang memorable disajikan dalam medium film. Beast menawarkan konsep yang sama, walau skala produksinya kini jauh berbeda level dengan film di atas. Film ini diarahkan oleh sineas kawakan asal Islandia, Baltasar Kormákur dengan dibintangi Idris Elba, Sharlto Copley, Iyana Halley, dan Leah Sava Jeffries. Bermodal sang sineas dan pamor sang aktor, mampukah Beast bersaing dengan film sebelumnya yang lebih superior?
Nate (Elba) adalah seorang dokter yang belum lama kehilangan sang istri yang terkena kanker. Untuk menebus waktu dengan kedua putrinya, Mare dan Norah, Nate mengajak mereka untuk berlibur di kampung halaman istrinya di pedalaman Afrika Selatan. Bersama sahabat lama istrinya, Martin (Copley), mereka melakukan tur menikmati panorama alam liar Afrika. Hingga tanpa sengaja, mereka menemukan satu kampung yang seluruh warganya dibunuh oleh seekor singa. Ketika berniat mencari bantuan, mereka justru terjebak dalam situasi berbahaya di mana sang singa kini memburu mereka.
Harus diakui, kisahnya memang sederhana dan efektif dengan durasi 93 menit. Sejak titik balik di babak kedua, kisahnya nonstop tanpa henti dengan aksi penuh teror. Walau separuh durasi hanya berlokasi di seputar jip, namun ketegangan yang dihasilkan begitu maksimal berkat sentuhan estetik jitu sang sutradara. Sang sineas dominan menggunakan kombinasi long take dan follow shot yang mengakibatkan mata-kamera banyak mengikuti gerak tokohnya. Ruang di luar frame di sekitarnya menjadi terbuka dan sulit diantisipasi. Alhasil, jump scare-nya seringkali mengejutkan penonton. Saya seringkali melihat beberapa penonton meloncat dari kursinya. Sisi aksi dan ketegangannya memang yang menjadi sisi terkuat film ini walau durasinya terhitung pendek.
Dengan sentuhan unik sang sineas, Beast menawarkan aksi nonstop thriller menegangkan walau sedikit lepas dalam beberapa momen. CGI menjadi biong keroknya. Dalam beberapa adegan, khususnya di siang hari, sang singa tampak sekali adalah hasil rekayasa digital walau sudah berusaha dibuat sebaik mungkin agar tampak natural. Satu hal lagi adalah aksi dua putri kecil Nate yang terkadang konyol. Satu contoh, apa yang mereka pikirkan, sang singa di luar sana dan mereka mau mencoba menyelamatkan orang lain? Oke, ini masih bisa saya tolerir.
Di luar sisi lemahnya, saya suka dengan motif cerita, bagaimana sang singa menyerang manusia begitu membabi buta. Isu penangkapan dan penembakan binatang liar sudah menjadi rahasia umum di benua Afrika. Ini bukan hukum rimba tapi adalah keseimbangan alam. Alam pasti akan berbalik menyerang kita jika kita tidak bijak dalam mengaturnya. Bagi yang ingin menonton film sejenis, lebih kolosal dan superior, coba tonton The Ghost and the Darkness. Film seperti itu sudah sulit diproduksi pada masa sekarang.







