Bedtime Stories (2008)

99 min|Adventure, Comedy, Family|25 Dec 2008
6.0Rating: 6.0 / 10 from 101,693 usersMetascore: 33
A hotel handyman's life changes when the lavish bedtime stories he tells his niece and nephew start to magically come true.

Mengakhiri tahun 2008, Disney menutup dengan film fantasi keluarga, Bedtime Stories. Film diarahkan oleh sineas Adam Shankman dengan dibintangi oleh sederetan bintang-bintang ternama, yakni Adam Sandler, Guy Pearce, Keri Russel, Courtney Cox, Richard Griffiths, serta Jonathan Pryce.

Alkisah Skeeter Bronson (Sandler) adalah seorang pegawai hotel rendahan yang tugasnya memelihara serta memperbaiki apa saja yang rusak di hotel tersebut. Ayah Skeeter dulunya adalah pemilik lahan hotel tersebut sebelum ia menjualnya ke pemiliknya yang sekarang, yakni Barry Nottingham (Griffiths). Suatu ketika adik Skeeter, Wendy (Cox) meminta tolong padanya untuk menjaga dua orang anaknya, Bobby dan Patrick selama ia pergi. Di malam harinya, Skeeter dipaksa oleh Bobby dan Patrick untuk membacakan dongeng sebelum tidur yang kisahnya ia karang sendiri. Di luar dugaan semua cerita yang ia bawakan ternyata benar-benar menjadi kenyataan. Setiap malamnya, Skeeter berusaha membawakan dongeng-dongeng yang menyenangkan dengan harapan kehidupannya juga ikut berubah.

Film-film Disney lazimnya tidak jauh dari tema keluarga atau kisah fantasi dengan plot klasik perseteruan baik dan jahat yang kontras. Film ini mencoba mengkombinasi semua elemen tersebut, dan hasilnya ternyata sungguh mengecewakakan! Hal yang dirasakan sangat minim pada Bedtime Stories adalah unsur fantasinya sendiri yang begitu tanggung. Unsur fantasi yang ada malah lebih bisa dibilang sebagai unsur kebetulan ketimbang momen-momen “magical” (keajaiban) yang lazimnya ada di film-film Disney. Bukankah mustinya film ini adalah film anak-anak? Sekuen-sekuen dongengnya malah lebih terasa sebagai komedi dewasa “konyol” ketimbang dongeng anak-anak yang mendidik. Coba cermati sekuen pertarungan konyol di angkasa luar. Apa maksudnya ini? Bicara film anak-anak, coba perhatikan saja… too many hot girls around! Sungguh konyol. Yang tidak bisa dimengerti adalah mengapa dongengnya tidak dibuat lebih serius?

Baca Juga  The BFG

Masalah utama Bedtime Stories adalah film ini terlalu menggantungkan pada sosok Adam Sandler. Film keluarga bukanlah hal baru bagi Sandler (Big Daddy, Spanglish) namun ia kembali terjebak ke perannya yang konyol, cuek, acuh, serta lebih mementingkan dirinya sendiri. Bedtime Stories jauh lebih terasa sebagai filmnya “Adam Sandler” ketimbang filmnya Disney. Agak aneh juga melihat aktor sekelas Guy Pearce yang biasa berperan dalam film aksi atau drama serius kali ini berperan konyol dalam film keluarga seperti ini. Sebagai penutup, film ini rasanya lebih menghibur penonton remaja ketimbang anak-anak. Tidak berlebihan jika kita katakan Bedtime Stories adalah salah satu film keluarga terburuk yang pernah diproduksi Disney. Saya sarankan Anda untuk menonton film-film animasinya ketimbang membuang waktu menonton film ini.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaBolt
Artikel BerikutnyaCity of Ember
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.