Before I Fall (2017)

98 min|Drama, Fantasy, Mystery|03 Mar 2017
6.4Rating: 6.4 / 10 from 60,123 usersMetascore: 58
February 12 is just another day in Sam's charmed life, until it turns out to be her last. Stuck reliving her last day over and over, Sam untangles the mystery around her death and discovers everything she's losing.

Before I Fall adalah film drama remaja-fantasi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Lauren Oliver. Film arahan Ry Russo-Young ini dibintangi aktris-aktris muda yang namanya belum banyak dikenal, antara lain  Zoey Deutch, Halston Sage, Logan Miller, serta Kian Lawle. Film ini mengisahkan seorang gadis bernama Samantha dalam satu hari terpenting dalam hidupnya. Semua masalah dengan keluarga, sahabat, pacar, teman-teman di sekolahnya, serta masa lalunya, terakumulasi dalam satu momen tersebut, yang berujung pada sebuah kejadian fatal. Ajaibnya, Samantha bangun di kemudian hari dan mendapati dirinya mengulang hari sebelumnya, dan terus, dan terus berulang kembali.

Plot dengan kemasan seperti ini memang tidak lagi baru, namun tidak banyak film yang menggunakan pola plot seperti ini. The Groundhog Day (1993) adalah tercatat film pertama yang menggunakan pola ini dan banyak pengamat yang mengistilahkan plot ini, “Groundhog Day plot” atau ada juga “time loop plot”. Film ini tercatat tidak hanya sebagai pelopor, namun juga yang terbaik hingga kini. Beberapa film lainnya yang juga sangat baik menggunakan pola plot ini adalah Run Lola Run dan Edge of Tomorrow. Setiap kali pola plot ini digunakan, sineas selalu mencoba mencari sesuatu yang baru. Alasan menonton Before I Fall adalah karena ini, rasa penasaran bagaimana pola plot ini diperlakukan di filmnya. Saya berharap sebuah kejutan, namun ternyata tidak ada sesuatu yang inovatif disini, baik dari sisi cerita maupun kemasannya.

Babak pertama (sekitar 20 menit awal) adalah kunci dari filmnya. Sebagai antisipasi plotnya, setiap detil momen dan peristiwa direkam secermat mungkin karena ini bakal menjadi bagian penting dari alur filmnya kelak. Hal yang menarik sebenarnya, belum pernah ada sebelumnya, adalah terkait alur kisahnya. Film-film bertema “time loop” sebelumnya selalu menggunakan seorang protagonis yang berhadapan dengan sebuah lingkungan dan masalah baru, sehingga penonton dan protagonis selalu berada dalam posisi yang sama. Dalam Before I Fall, semua kisahnya berhubungan dengan masa lalu Samantha dan rekan-rekannya. Semakin kisahnya berjalan, masa lalu semakin terkuak, dan penonton pun semakin banyak tahu latar belakang tokoh-tokohnya. Namun sayangnya, potensi ini tidak dimanfaatkan secara maksimal dengan solusi permasalahan yang terlalu dangkal dan memaksa. Sungguh disayangkan sekali.

Baca Juga  Escape Room: Tournament of Champions

Spoiler memang jika bicara soal ending, namun bicara tentang genre dan target penontonnya, pesan yang positif memang harus ada pada filmnya. Sesuatu yang diawali dengan baik akan berakhir baik, dan begitu pula sebaliknya. Momen manis dan menyentuh ada di dalam kisahnya serta paparan tentang sisi baik dan buruk yang gamblang dan sederhana. Semua proses tersebut berujung pada satu kesimpulan, satu aksi dari Samantha yang ia anggap sebagai solusi terbaik untuk semua orang. Jika memang film ini dimaksudkan sebagai sebuah perenungan untuk melakukan segala sesuatunya dengan positif, lantas mengapa akhir kisahnya harus seperti itu?

Dari sisi kemasan naratifnya, Before I Fall berbeda level dengan para pendahulunya yang superior, namun untuk target penontonnya, film ini memiliki pesan yang cukup untuk sebuah perenungan. Film ini memang sangat pas ditonton remaja yang beranjak dewasa. Banyak momen yang bisa kita ambil sebagai pelajaran, tentang pentingnya nilai-nilai keluarga dan persahabatan. Dari sisi pencapaian cerita dan sinematik, nyaris tidak ada yang baru sama sekali. Penampilan para pemain mudanya juga tidak mampu mengangkat filmnya, namun setidaknya film ini mampu memperkaya jenis plot ini yang memang jarang sekali kita jumpai.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaKartini
Artikel BerikutnyaGuardians of the Galaxy Vol.2
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses