Benyamin Biang Kerok (2018)

95 min|Comedy|01 Mar 2018
2.9Rating: 2.9 / 10 from 111 usersMetascore: N/A
Knowing the headquarters and settlements of Betawi suburbs will be evicted, Pengki (Reza Rahadian), Somad (Adjis Doaibu), and Achie (Aci Resti) sabotage illegal casinos in Jakarta. They …

Setelah sukses me-reboot film Warkop DKI, kali ini studio Falcon Pictures kembali me-reboot film lawas Benyamin Biang Kerok. Formula ini digunakan untuk  bernostalgia dengan aktor legendaris era 1970-1980-an, Benyamin Sueb. Walaupun film besutan Hanung Bramantyo ini berjudul sama, namun kisahnya berbeda dengan film aslinya. Benyamin Sueb atau lebih populer “Benyamin S.” adalah seorang penyanyi dan aktor komedi asal Betawi. Ia telah bermain di puluhan film komedi tanah air diantaranya, Intan Berduri (1972) dan Si Doel Anak Modern (1976). Dari kedua film itu, ia mendapatkan penghargaan aktor terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1973 dan 1976. Latar belakangnya sebagai penyanyi membuat film-filmnya selalu disisipi unsur musikal.

Film Benyamin Biang Kerok ini adalah awal dari dwilogi seri filmnya. Bagian kedua, Benyamin Biang Kerok Beruntung akan rilis pada bulan Desember tahun ini. Film bagian pertama ini berkisah tentang Pengki (Reza Rahardian), anak orang kaya dan berpengaruh di Indonesia. Maminya (Meriam Belina), menjalankan bisnis keluarga, sedangkan babe-nya (Rano Karno) memilih hidup sederhana di rumah khas Betawi, di bawah tower istrinya. Pengki bersama dua rekannya, Somad dan Achie menjadi tim “agen rahasia” yang memiliki teknologi canggih layaknya agen James bond atau seri Mission Impossible, walaupun tak jelas darimana asal-usulnya. Mereka harus berhadapan dengan Said (Komar), bos mafia pemilik kasino karena sebelumnya Pengki merampok kasinonya dan jatuh hati pada wanita simpanan Said.

Dengan gayanya, sang sutradara mengubah cerita aslinya, dengan pendekatan setting cerita yang lebih berwarna serta bernuansa modern dan teknologi tinggi. Dengan pendekatan film yang kekinian, sulit rasanya bagi para penonton “tua” untuk mendapatkan nostalgia yang utuh, walaupun beberapa adegan tedapat tribute film aslinya. Alur kisah Pengki “pdkt” dengan Aida juga mirip plot film aslinya ketika mendekati Inah. Namun, film ini terlihat

Baca Juga  Mata Tertutup

kurang fokus dengan sisipan adegan aksi yang tanggung. Sutradara terjebak dalam berbagai plot yang tidak fokus, dan kesannya ingin membuatnya lebih modern yang sebenarnya menjauhkan dari esensi kisah-kisah Benyamin yang bernuansa lokal dan sederhana. Terlepas dari penokohan Benyamin, karakterisasi Pengki dalam setting cerita yang modern ini juga terlihat kurang pas.

Satu hal yang lumayan mengangkat filmnya adalah nomor lawas lawas yang dinyanyikan Pengki, seperti “Enak Bener”, yang persis sama dengan film aslinya. Sang aktor berhasil membawakan adegan musikal ini dengan baik. Sedangkan musik dalam adegan aksi justru terasa mengganggu karena mirip-mirip dengan score James Bond dan Mission Impossible, walaupun dengan aransemen berbeda.

Sang sutradara juga berusaha menciptakan atmosfer Betawi dengan menggandeng aktor-aktris senior dengan logat Betawinya, seperti Meriam Bellina, Lidya Kandau, Rano Karno, dan Omaswati. Rano Karno sendiri merupakan aktor yang memiliki kedekatan emosional dengan Benyamin karena telah sering berakting bersama sejak kecil, misalkan Si Doel Anak Betawi (1973). Sampai akhir hayat sang legendaris, Rano dan Benyamin masih bermain di serial TV Si Doel Anak Sekolahan. Namun, sayang sosok Rano sebagai tokoh ayah Pengki kurang dieksplor di film bagian pertama ini.

Tak mudah tentu mengantikan sosok Benyamin, seperti halnya menggantikan sosok Dono, Kasino, dan Indro dalam Warkop DKI Reborn. Namun, usaha sang sutradara mengandeng aktor laris Reza Rahardian, sudah membawa nostalgia tersendiri bagi para pencinta Benyamin. Reza sudah berusaha maksimal berakting dengan gestur dan gaya bicara seorang Benyamin, walaupun tentu tak bisa dibandingkan. Film ini menjadi tribute bagi Benyamin, seorang komedian tanah air yang dicintai pada masanya, dan tentunya menjadi nostalgia bagi para penonton pada masanya. Tak heran jika dalam bioskop tak hanya remaja saja yang menonton, namun juga para orang tua.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Shape of Water
Artikel Berikutnya90th Academy Award Winner
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini