berbalas kejam

Nama Teddy Soeriaatmadja jarang sekali muncul dalam perfilman dalam negeri. Paling banter setahun sekali. Kali ini ia mengarahkan sekaligus menulis sendiri sebuah film tentang pembalasan dendam dan trauma berat berjudul Berbalas Kejam. Melalui Tiger Wong Pictures dan perusahaan naungan sang sineas sendiri, Karuna Pictures, sajian thriller misteri dan kriminal ini dibintangi oleh Reza Rahadian, Niken Anjani, Laura Basuki, Baim Wong, Kiki Narendra, serta Haydar Salishz dan Yoga Pratama. Setelah sekian tahun lamanya bermain-main dalam ruang drama dan cukup baik dengan debut horornya dua tahun lalu lewat Affliction, bagaimana dengan yang kali ini?

Malam perayaan ulang tahun Adam (Reza) bersama keluarga kecilnya di rumah kandas saat disatroni tiga perampok brutal, Karni (Baim), Gyat (Kiki), dan Franky (Haydar). Adam tak menduga adanya kemungkinan mereka bakal jadi korban perampokan. Ia tak berdaya dengan tangan dan kaki terikat, sedangkan sang istri dihajar dan anaknya dibekap hingga tewas, tepat di depan matanya sendiri. Tragedi mengerikan ini kemudian jadi trauma bagi Adam dan merusak kehidupannya. Sampai salah seorang kolega menyarankannya ke seorang psikolog bernama Amanda (Laura). Satu pertemuan yang kemudian memunculkan kembali para pembunuh istri dan anak Adam.

Kisah trauma masa lalu dan pembalasan dendam memang amat lekat. Latar belakang, peristiwa, atau momentum pemicunya bisa beragam. Meski kerap kali seputar nyawa dibalas nyawa. Kita tahu sudah ada banyak film (bahkan series) yang mengangkat hal serupa selain dalam Berbalas Kejam. Konfliknya pun takkan jauh dari sang protagonis pembalas dendam, pihak kepolisian dengan pergerakan yang dibatasi, si pelaku yang memberikan trauma, dan seorang penengah yang kemudian menyadarkan sang pembalas dendam. Pilihan akhir ceritanya juga antara keberhasilan misi pembalasan dendam, kegagalan atau kemenangan si target, maupun justru dua-duanya dikalahkan oleh moral dan situasi tak terduga di tempat kejadian akhir cerita.

Misalnya saja, ada The Big Four yang cukup banyak memiliki kesamaan, atau bentuk-bentuk dendam lain lewat Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Qodrat, Perempuan Bergaun Merah, Pertaruhan: The Series, Penyalin Cahaya, dan Once Upon a Time in Indonesia. Belum lagi dengan film-film lain di luar Indonesia. Butuh upaya ekstra agar dapat menunjukkan daya tawar lebih dari ide-ide yang telah jamak diangkat, dan Teddy cukup mampu menangani itu. Sang sineas meramu kausalitas antara latar belakang sang tokoh utama dengan cara-caranya dalam membalas dendam. Meski pada akhirnya patah juga konsistensi kerapiannya yang dua kali terstruktur dan terencana dengan baik.

Baca Juga  Jangan Sendirian

Sajian cerita tentang pembalasan dendam juga menuntut efek jera yang sepadan dan seadil-adilnya untuk para target. Bagaimanapun, merekalah yang mengusik, merusak, dan mengubah hidupnya dan berujung melahirkan sosok pembalas dendam. Namun, Berbalas Kejam mengakhiri ceritanya dengan tanggung dan mengecewakan. Upaya dari Teddy untuk memasukkan kehidupan baru para target yang “tampak” sudah insaf dan berkeluarga dengan nyaman juga tidak ada gunanya. Apakah itu akan mendatangkan empati dan pemakluman dari kita kepada mereka? Belum tentu. Bahkan cenderung meragukan, apakah mereka benar-benar sudah insaf? Tampaknya tidak, bila kita memperhatikan detail-detail yang ada.

Kendati demikian, Berbalas Kejam tak hanya menawarkan keseruan cara-cara pembalasan dendam, melainkan soal trauma berat. Tidak mudah memerankan seseorang dengan trauma yang teramat dalam dan berat, sampai-sampai merusak psikis, emosi, hingga selera hidup. Namun, Reza membawakannya dengan penjiwaan yang cukup. Walau hanya dari leher ke atas dan gaya hidup, tetapi tak berdampak ke kondisi badan. Dua tahun tenggelam dalam trauma, lebih sering makan mi instan daripada makanan sehat, tetapi tidak ada masalah pada fisiknya? Sementara itu, tokoh-tokoh lain hanya datang dan pergi. Tak ada yang betul-betul punya peran vital. Bahkan pada akhirnya, nasib sang protagonis di ujung cerita diperlihatkan sendirian lagi lewat satu shot panjang nan penting.

Meski tak baru, Berbalas Kejam berupaya menunjukkan kebolehannya mengesankan penonton lewat cara pembalasan dendam dan sisi emosional dari trauma sang protagonis. Sayangnya, film ini agak mengabaikan detail-detail kecil yang berkaitan dengan trauma itu sendiri. Trauma –dengan level seberat yang dialami Adam—bukan hanya soal kondisi rumah, gaya berpakaian, rambut, dan pola makan yang berantakan. Dampak terhadap kondisi badan juga pasti memburuk. Ada pula kemunculan tokoh-tokoh lain yang ditujukan untuk menyadarkan kakalutan Adam, tetapi malah terasa dipaksakan hanya demi mencapai tujuan tersebut. Menarik dan seru, walau hanya tertolong oleh beberapa aspek saja.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaPara Betina Pengikut Iblis
Artikel BerikutnyaDear David
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.