Beyond Skyline (2017)

106 min|Action, Adventure, Horror|15 Dec 2017
5.3Rating: 5.3 / 10 from 23,462 usersMetascore: 46
A tough-as-nails detective embarks on a relentless pursuit to free his son from a nightmarish alien warship.

Beyond Skyline adalah sekuel dari Skyline (2010) yang merupakan film fiksi ilmiah indie dengan bujet US$ 20 juta. Film diarahkan oleh Liam O’Donnell dengan dibintangi Frank Grillo, Bojana Navakovic, Iko Uwais, dan Yayan Ruhian. Film yang sebagian berlatar produksi di Indonesia dan bintang-bintang lokal tentunya bakal menarik perhatian penonton kita.

Kisah filmnya sendiri berlangsung simultan dan bersinggungan cerita dengan film pertamanya, ketika kejadian invasi Alien di Los Angeles. Mark, seorang detektif tengah mengambil putranya yang ditahan polisi. Oleh karena mobil Mark bermasalah, mereka akhirnya menggunakan kereta bawah tanah. Situasi mendadak berubah total, ketika pesawat alien raksasa mendadak mulai menyedot ribuan orang masuk ke pesawat mereka. Mark bersama rombongan hanya mencoba bertahan hidup dari situasi yang serba tidak menentu.

Seri pertama saja sepertinya lupa, apa saya pernah menontonnya, atau entah berhenti menonton sebelum selesai karena memang hanya membuang waktu. Sekuel keduanya ini, saya tertarik menonton jelas karena sensasinya karena lokasi dan ada bintang kita di dalamnya, dan trailer-nya pun terlihat tidak jelek-jelek amat. Tidak ada ekspektasi apapun sewaktu menonton.

Gelagat buruk filmnya sudah terasa sejak awal film. Bea produksi yang rendah sudah tercium dari kualitas gambar dan audio yang kurang baik untuk standar film barat. Ketika aksi dimulai, situasi berubah semakin buruk dengan kualitas gaya handheld camera yang amat kasar. Baru beberapa menit saja, mata sudah terasa lelah, ditambah editing cepat yang kasar, serta tempo plot yang sangat cepat. Tak ada waktu rehat sedikit pun. Dalam belasan menit, kepala sudah terasa pening dan perut pun terasa mual. Dua rekan saya yang jauh lebih muda pun mengalami sensasi yang kurang lebih sama.

Baca Juga  The Last Voyage of Demeter

Tidak ada ekspektasi lebih dari Beyond Skyline, namun tak disangka film ini jauh lebih buruk dari ekspektasi di semua aspek. Bicara kisahnya sepertinya tidak perlu komentar banyak. Film ini banyak mengabaikan logika ceritanya sendiri dengan lubang plot di sana-sini. Kisahnya pun tak jelas berada di negara Asia mana, mungkin Thailand, atau entahlah? It doesn’t matter anyway. Duel Frank Grillo vs Iko Uwais pun tidak bisa dinikmati karena faktor kamera dan editing yang buruk. Beyond Skyline adalah sebuah pengalaman visual yang melelahkan lahir dan batin.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Artikel SebelumnyaSpin-Off Wolverine Segera Digarap
Artikel BerikutnyaChristoph Waltz Tak Lagi Bermain Dalam Bond
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.